Apakah AI bisa diandalkan untuk Membuat Keputusan ?

Oleh: Dr. M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam berbagai lini kehidupan modern kini bukan lagi sekadar wacana teknis melainkan realitas yang masif terjadi. Dari sektor medis, periklanan digital, hingga peradilan pidana, algoritma berbasis data dikerahkan untuk memproses informasi dalam skala besar guna mengoptimalkan efisiensi. Kendati demikian, ketika sebuah urusan menyangkut pertaruhan dan risiko yang sangat tinggi, manusia tetap memegang kendali sebagai pengambil keputusan akhir. Hal ini memicu sebuah pertanyaan fundamental yang krusial bagi masa depan interaksi manusia dan teknologi, yaitu apakah rekomendasi AI benar-benar membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik jika dibandingkan dengan keputusan sistem manusia saja atau sistem AI saja. Pertanyaan krusial ini dijawab melalui sebuah artikel riset mutakhir yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tahun 2025 berjudul “Does AI help humans make better decisions? A statistical evaluation framework for experimental and observational studies” karya Eli Ben-Michael dan rekan-rekan. Lewat sebuah kerangka evaluasi statistik yang ketat, studi dalam ai.pdf tersebut menguliti efektivitas kolaborasi kognitif ini. 

Dalam kajian ilmiah tersebut, para peneliti memperkenalkan metodologi berbasis inferensi kausal untuk mengevaluasi kemampuan klasifikasi dari tiga model sistem pengambilan keputusan, yaitu sistem manusia saja, sistem manusia dengan bantuan AI, dan sistem AI murni. Selama ini literatur ilmiah lebih banyak berfokus pada tingkat akurasi atau potensi bias dari rekomendasi AI itu sendiri. Padahal, rekomendasi AI yang sangat akurat sekalipun tidak akan membawa dampak positif apabila pengambil keputusan manusia secara selektif mengabaikannya. Untuk membuktikan performa nyata di lapangan, para peneliti menerapkan kerangka kerja ini pada uji klinis acak pertama di dunia yang mengevaluasi instrumen penilaian risiko praperadilan bernama Public Safety Assessment (PSA) di Dane County, Wisconsin. Di wilayah tersebut, seorang hakim di pengadilan awal harus memutuskan apakah seorang tersangka dapat dibebaskan hanya dengan jaminan tanda tangan tanpa uang jaminan atau harus dikenai jaminan uang tunai dengan mempertimbangkan risiko keamanan publik. 

Hasil dari analisis data interim eksperimen tersebut membuahkan temuan yang mengejutkan sekaligus menjadi tamparan bagi optimisme berlebih terhadap teknologi kognitif. Penggunaan instrumen penilaian risiko berbasis AI ternyata tidak terbukti meningkatkan akurasi klasifikasi keputusan hakim secara signifikan saat menentukan pengenaan jaminan uang tunai. Tingkat salah klasifikasi dari keputusan hakim tidak menunjukkan perubahan berarti baik sebelum maupun sesudah diberikan rekomendasi dari sistem PSA tersebut. Lebih jauh lagi, temuan riset menunjukkan bahwa sistem keputusan yang sepenuhnya diserahkan kepada algoritma AI murni, termasuk skor risiko bawaan maupun pengujian menggunakan model bahasa besar seperti Llama3, justru membuahkan performa klasifikasi yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan penalaran murni seorang hakim manusia. Sistem AI murni cenderung menghasilkan tingkat false positive yang jauh lebih tinggi, yang dalam konteks hukum berarti menjatuhkan hukuman jaminan uang tunai yang sangat keras dan tidak perlu kepada para tersangka yang sebenarnya tidak akan melakukan pelanggaran hukum atau kriminalitas baru jika dibebaskan. Alih-alih membawa keadilan yang presisi, AI murni justru memicu keputusan yang jauh lebih represif dan kaku. 

Adanya ketidakselarasan ini membuktikan bahwa integrasi algoritma dalam keputusan krusial tidak boleh dilakukan secara terburu-buru tanpa adanya evaluasi empiris yang ketat. Studi ilmiah ini juga merumuskan bahwa rekomendasi AI sebaiknya hanya diberikan kepada manusia atau diikuti oleh pengambil keputusan pada situasi-situasi yang sangat ekstrem, yaitu ketika tersangka memang memiliki akumulasi faktor risiko kognitif yang sangat tinggi. Untuk sebagian besar kasus umum lainnya, hakim manusia disarankan untuk tidak mengikuti rekomendasi AI dan tetap mengandalkan penilaian serta intuisi kemanusiaan mereka sendiri. Realitas ini menegaskan bahwa secanggih apa pun sebuah mesin atau algoritma mengolah data, ia tetap membutuhkan kedalaman empati, konteks, kebijaksanaan, dan kemampuan analisis kritis yang hanya dimiliki oleh otak manusia. Menyerahkan keputusan krusial sepenuhnya kepada kecerdasan buatan tanpa pengawasan manusia yang bijaksana justru berisiko melahirkan kesalahan sistemik yang merugikan tatanan sosial. 

Di tengah gelombang disrupsi digital dan pergeseran teknologi AI yang masif ini, dunia pendidikan tinggi memikul tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang tidak sekadar mahir mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga memiliki ketajaman nalar untuk mengoreksi dan mengevaluasi hasil kerja mesin. Ma’soem University hadir sebagai institusi pendidikan tinggi terdepan yang sangat memahami kebutuhan mendesak ini. Melalui pendekatan akademis yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri masa kini, Ma’soem University berkomitmen membekali para mahasiswanya dengan keahlian teknologi mutakhir sekaligus penguatan kapasitas berpikir kritis, analitis, dan etis yang kuat. Di Ma’soem University, Anda tidak hanya diajarkan untuk memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu penunjang produktivitas, tetapi juga dilatih untuk memiliki kedalaman intelektual mandiri agar mampu menjadi pengambil keputusan yang bijak, adaptif, dan berintegritas tinggi di masa depan. Mari bergabung bersama Ma’soem University, tempat di mana teknologi dikuasai dengan kecerdasan kognitif kemanusiaan yang otentik demi menyongsong karier yang gemilang di era modern.