Oleh: Dr. M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) generatif dalam kehidupan sehari-hari telah memicu perdebatan besar mengenai masa depan kognisi manusia. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi luar biasa yang mampu mendongkrak produktivitas dan mempermudah penyelesaian berbagai tugas rumit. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran nyata bahwa ketergantungan pada AI justru membuat kemampuan berpikir kita mengalami kemunduran. Sebuah studi mendalam yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior (2026) berjudul “AI makes you smarter but none the wiser: The disconnect between performance and metacognition” oleh Daniela Fernandes dan rekan-rekan memberikan jawaban ilmiah yang sangat menarik atas dilema ini. Penelitian dalam fernandes2025ai.pdf tersebut mengungkapkan sebuah realitas paradoks di mana AI memang mendongkrak performa kerja kita secara objektif, tetapi di saat yang sama, ia melumpuhkan kemampuan kita untuk menilai kapasitas diri sendiri.
Dalam penelitian tersebut, para peserta diminta menyelesaikan 20 soal penalaran logis dari Law School Admission Test (LSAT) dengan bantuan ChatGPT. Secara umum, penggunaan AI berhasil mendongkrak performa objektif peserta secara signifikan dibandingkan kelompok yang mengerjakan tanpa bantuan AI. AI terbukti mampu melakukan cognitive augmentation, yaitu memperkuat kemampuan manusia sehingga hasil kerjanya jauh lebih baik. Namun, di sinilah letak petakanya karena meski performa mereka meningkat sebanyak 3 poin, para peserta rata-rata melebih-lebihkan hasil kerja mereka hingga 4 poin lebih tinggi dari yang sebenarnya. Fenomena ini disebut sebagai penurunan akurasi metakognitif (metacognitive accuracy). Metakognisi adalah kemampuan manusia untuk memonitor, mengevaluasi, dan mengatur proses berpikir mereka sendiri. Ketika menggunakan AI, batas antara kemampuan berpikir pribadi dan hasil keluaran AI menjadi kabur. Manusia mengalami apa yang disebut illusion of knowledge atau ilusi pengetahuan, di mana mereka merasa diri mereka sangat pintar dan serba tahu karena jawaban yang disajikan oleh AI terlihat begitu meyakinkan, lancar, dan cepat.
Secara psikologis, terdapat fenomena klasik bernama Dunning-Kruger Effect (DKE), di mana orang yang berkemaupun rendah cenderung merasa sangat hebat, sementara orang yang sangat kompeten justru sering merendah. Uniknya, studi dalam fernandes, ia menemukan bahwa efek Dunning-Kruger ini mendadak hilang ketika manusia menggunakan AI. Karena AI menyajikan jawaban yang seragam dan instan, terjadi perataan kognitif. Kelompok peserta yang sebenarnya memiliki kemampuan penalaran logis rendah ikut terdongkrak performanya. Sayangnya, hal ini dibayar mahal dengan munculnya overconfidence atau rasa percaya diri berlebih yang merata di seluruh tingkat kemahiran. Baik orang pintar maupun yang kurang pintar sama-sama terjebak dalam ilusi bahwa mereka telah menjawab seluruh soal dengan sempurna. Lebih parah lagi, penelitian ini mengungkap fakta mengejutkan mengenai literasi AI. Seseorang yang memiliki literasi teknologi AI tinggi ternyata menunjukkan akurasi metakognitif yang lebih rendah. Mereka sangat percaya diri dengan hasil kerja bermitra dengan AI, tetapi kemampuan membedakan mana jawaban yang benar-benar akurat dan mana yang salah justru sangat tumpul. Pengguna cenderung hanya menyalin-tempel pertanyaan ke dalam platform AI dan menerima mentah-mentah hasilnya tanpa melakukan refleksi kritis.
Dilema penggunaan AI ini membawa kita pada pertanyaan inti: apakah AI membuat kita makin pintar atau bodoh? Jawabannya adalah AI membuat hasil kerja kita terlihat lebih pintar, tetapi berpotensi membuat kesadaran kritis kita menjadi tumpul jika kita menggunakannya secara membabi buta. Kita menghadapi risiko deskilling, sebuah kondisi di mana kemampuan dasar kita dalam menganalisis masalah, mengecek eror, dan melakukan penalaran mendalam perlahan-lahan terkikis karena selalu didelegasikan kepada mesin. Untuk mengantisipasi hal ini, para ilmuwan menyarankan agar sistem AI masa depan dirancang dengan fitur cognitive forcing. Salah satu contohnya adalah tugas “explain-back”, di mana pengguna diwajibkan menjelaskan kembali logika di balik jawaban AI dengan bahasa mereka sendiri sebelum menyetujuinya. Langkah sederhana ini memaksa otak kita tetap aktif berpikir kritis dan menurunkan ego overconfidence yang semu.
Menghadapi era transformasi digital dan kehadiran AI yang masif, institusi pendidikan memegang peranan krusial untuk memastikan bahwa generasi muda tidak kehilangan daya nalar kritisnya. Kita membutuhkan lingkungan belajar yang mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan kapasitas kognitif mandiri. Ma’soem University hadir sebagai solusi pendidikan tinggi yang berkomitmen menjawab tantangan tersebut. Melalui kurikulum berbasis teknologi yang aplikatif namun tetap mengedepankan pembentukan karakter dan daya pikir kritis, Ma’soem University mendidik para mahasiswa untuk menjadi pengguna teknologi yang bijak, bukan budak teknologi. Di sini, Anda akan dilatih untuk menguasai berbagai perangkat digital mutakhir tanpa mengorbankan kemampuan metakognisi dan analisis logis yang otentik. Jadilah generasi cerdas yang sesungguhnya bersama Ma’soem University. Mari bergabung dan bangun masa depan yang adaptif, inovatif, serta tetap memiliki kedalaman intelektual yang mandiri.





