Gen Z & Bank Syariah: Tren Baru atau Sekadar FOMO?

Dalam beberapa tahun terakhir, bank syariah semakin sering muncul dalam percakapan anak muda, terutama Generasi Z. Mulai dari konten edukasi keuangan di TikTok, kampanye “anti-riba”, hingga tren hijrah finansial, bank syariah tampak semakin dekat dengan gaya hidup generasi yang lahir di era digital ini. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah ini benar-benar perubahan perilaku keuangan yang berkelanjutan, atau hanya sekadar FOMO (fear of missing out) yang ikut-ikutan tren?

Generasi Z—umumnya mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—tumbuh dalam dunia yang sangat terhubung dengan internet. Mereka cepat menyerap informasi, tetapi juga cepat terpengaruh oleh tren. Dalam konteks keuangan, hal ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap investasi, literasi finansial, dan juga bank syariah.

Bank syariah sendiri bukanlah konsep baru di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah penggabungan beberapa bank syariah besar menjadi satu entitas besar, minat publik kembali meningkat. Produk-produk perbankan syariah yang lebih modern, aplikasi digital yang semakin baik, serta kampanye berbasis nilai agama dan etika membuatnya lebih mudah diterima oleh anak muda.

Bagi sebagian Gen Z, memilih bank syariah bukan hanya soal agama, tetapi juga identitas dan nilai. Banyak yang melihatnya sebagai bagian dari gaya hidup “lebih sadar”, “lebih etis”, atau bahkan “lebih anti-sistem konvensional”. Narasi ini diperkuat oleh konten media sosial yang sering menyoroti isu bunga bank, riba, hingga alternatif keuangan Islam yang dianggap lebih “bersih”.

Namun, di balik narasi ideal tersebut, ada pertanyaan kritis: apakah keputusan ini benar-benar dipahami secara mendalam, atau hanya mengikuti arus?

Fenomena FOMO dalam keuangan bukan hal baru. Sama seperti tren investasi kripto, saham, atau NFT beberapa tahun lalu, banyak anak muda masuk karena melihat teman, influencer, atau komunitas online melakukannya. Dalam konteks bank syariah, FOMO bisa muncul dalam bentuk “kalau tidak pakai bank syariah, berarti kurang Islami” atau “semua teman sudah pindah, jadi saya ikut saja”.

Masalahnya, jika keputusan finansial hanya didasarkan pada tren, tanpa pemahaman yang cukup, maka risiko salah ekspektasi sangat besar. Banyak yang mengira bank syariah sepenuhnya “bebas biaya” atau “tanpa risiko”, padahal pada praktiknya tetap ada sistem margin, akad, dan biaya layanan yang perlu dipahami secara jelas.

Di sisi lain, tidak bisa juga disimpulkan bahwa ketertarikan Gen Z terhadap bank syariah sepenuhnya dangkal. Ada juga kelompok yang benar-benar melakukan transisi karena kesadaran religius dan keinginan mengelola keuangan sesuai prinsip syariah. Mereka biasanya lebih aktif mencari pengetahuan, membandingkan produk, dan memahami akad seperti mudharabah, murabahah, atau wadiah.

Selain itu, perkembangan teknologi juga memainkan peran besar. Aplikasi bank syariah yang semakin mudah digunakan membuat hambatan akses berkurang. Jika dulu bank syariah dianggap kurang praktis dibanding bank konvensional, kini perbedaannya semakin tipis. Hal ini membuat keputusan untuk beralih tidak lagi sekadar ideologis, tetapi juga praktis.

Menariknya, Gen Z juga dikenal lebih kritis terhadap institusi keuangan. Mereka cenderung mempertanyakan transparansi, biaya tersembunyi, hingga dampak sosial dari produk finansial. Dalam konteks ini, bank syariah memiliki peluang untuk tampil sebagai alternatif yang tidak hanya religius, tetapi juga etis dan transparan.

Namun, tantangan terbesar justru ada pada edukasi. Banyak anak muda yang mengenal bank syariah hanya dari potongan konten media sosial yang simplistik. Padahal, sistem perbankan syariah memiliki struktur yang cukup kompleks dan tidak bisa disederhanakan menjadi “tanpa bunga = otomatis lebih baik”.

Di sinilah peran literasi keuangan menjadi penting. Tanpa pemahaman yang benar, bank syariah bisa berubah dari pilihan sadar menjadi sekadar simbol identitas. Dan ketika identitas lebih dominan daripada pemahaman, keputusan finansial cenderung tidak stabil dalam jangka panjang.

Jadi, apakah tren Gen Z terhadap bank syariah ini hanya FOMO? Jawabannya tidak sesederhana itu. Ada unsur FOMO, terutama pada tahap awal adopsi tren. Namun di saat yang sama, ada juga pergeseran nilai yang lebih dalam: keinginan untuk mengelola uang secara lebih etis, lebih sesuai keyakinan, dan lebih selaras dengan identitas diri.

Yang membedakan antara tren sesaat dan perubahan jangka panjang adalah kedalaman pemahaman. Jika Gen Z hanya berhenti pada “ikut-ikutan”, maka ini akan menjadi siklus tren seperti sebelumnya. Tetapi jika disertai edukasi yang kuat, pengalaman nyata, dan pemahaman sistem keuangan yang baik, maka bank syariah bisa menjadi bagian permanen dari lanskap finansial generasi ini.

Pada akhirnya, pertanyaan “tren baru atau sekadar FOMO” mungkin bukan pertanyaan yang harus dijawab dengan hitam-putih. Yang lebih penting adalah bagaimana generasi muda ini membangun hubungan yang lebih sadar, kritis, dan berkelanjutan dengan uang mereka sendiri—apa pun jenis bank yang mereka pilih.