Memulai bisnis makanan tidak hanya membutuhkan ide produk yang menarik atau kemampuan memasak. Agar usaha dapat berkembang, pelaku bisnis juga perlu memahami bahan baku, proses pengolahan, kualitas produk, keamanan pangan, pengemasan, penyimpanan, hingga kebutuhan konsumen.
Di sinilah ilmu Teknologi Pangan dapat menjadi bekal yang bermanfaat.
Mahasiswa dan lulusan Teknologi Pangan mempelajari bagaimana bahan pangan diolah menjadi produk yang memiliki karakter sesuai tujuan, aman dikonsumsi, serta dapat diproduksi dengan kualitas yang lebih konsisten. Pengetahuan tersebut dapat diterapkan untuk membangun usaha makanan dan minuman dari skala kecil hingga berkembang lebih besar.
Lalu, bagaimana cara memulai bisnis makanan dari ilmu Teknologi Pangan?
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan.
1. Mulai dari Masalah atau Kebutuhan Konsumen
Banyak orang memulai usaha dengan langsung menentukan produk. Padahal, langkah awal yang lebih terarah adalah memahami kebutuhan calon konsumen.
Coba perhatikan beberapa pertanyaan berikut:
- Produk makanan apa yang sering dicari?
- Masalah apa yang dialami konsumen?
- Apakah konsumen membutuhkan makanan yang lebih praktis?
- Apakah ada bahan pangan lokal yang belum banyak dikembangkan?
- Apakah terdapat produk yang kualitasnya belum konsisten?
- Siapa target pembeli yang ingin dituju?
Misalnya, pekerja memiliki kebutuhan terhadap makanan yang praktis. Mahasiswa mungkin mencari camilan dengan harga terjangkau. Sementara itu, konsumen di suatu daerah dapat tertarik pada produk oleh-oleh yang memiliki ciri khas lokal.
Dari kebutuhan tersebut, pelaku usaha dapat mulai menentukan konsep produk.
Ilmu Teknologi Pangan membantu melihat ide tersebut dari sisi yang lebih luas. Produk tidak hanya dinilai berdasarkan apakah rasanya menarik, tetapi juga apakah bahan dan prosesnya sesuai serta memungkinkan untuk diproduksi secara konsisten.
2. Tentukan Produk yang Sesuai dengan Kemampuan dan Sumber Daya
Setelah mengetahui kebutuhan pasar, langkah berikutnya adalah memilih produk yang realistis untuk dikembangkan.
Produk dapat berupa:
- makanan ringan;
- minuman;
- bumbu dan sambal;
- produk olahan buah;
- produk olahan sayur;
- makanan beku;
- produk bakery;
- produk fermentasi;
- makanan siap saji;
- produk berbasis bahan lokal.
Pemilihan produk sebaiknya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti:
- ketersediaan bahan baku;
- kemampuan produksi;
- kebutuhan peralatan;
- modal yang tersedia;
- tingkat kesulitan proses;
- kondisi penyimpanan;
- target pasar;
- potensi pengembangan produk.
Pada tahap awal, tidak perlu langsung membuat banyak jenis produk.
Fokus pada satu produk utama dapat membantu pelaku usaha lebih mudah mengontrol kualitas, menghitung biaya, dan memahami respons konsumen.
3. Pelajari Karakteristik Bahan Baku
Bahan baku menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil akhir produk.
Bahan yang berbeda dapat menghasilkan rasa, warna, aroma, tekstur, dan karakter yang berbeda. Kondisi bahan juga dapat berubah tergantung pada umur, tingkat kematangan, penyimpanan, dan cara penanganannya.
Karena itu, sebelum membuat produk, pelaku usaha perlu memahami:
- karakter bahan;
- kualitas bahan;
- kondisi bahan saat diterima;
- cara penyimpanan;
- kemungkinan perubahan selama pengolahan;
- pengaruh bahan terhadap hasil akhir.
Misalnya, bahan yang memiliki kadar air berbeda dapat menghasilkan tekstur produk yang tidak sama. Perubahan kualitas bahan juga dapat memengaruhi konsistensi hasil produksi.
Pengetahuan mengenai Pengetahuan Bahan Pangan, Kimia Pangan, dan Biokimia Pangan dapat membantu memahami karakter bahan serta perubahan yang mungkin terjadi selama proses.
4. Buat Formulasi Produk
Formulasi merupakan susunan bahan dan jumlah bahan yang digunakan untuk menghasilkan produk dengan karakter tertentu.
Dalam bisnis makanan, formulasi tidak sebaiknya hanya dibuat berdasarkan perkiraan.
Setiap bahan dapat memiliki fungsi yang berbeda. Ada bahan yang berperan terhadap rasa, tekstur, warna, aroma, struktur, atau karakter produk lainnya.
Proses pengembangan dapat dimulai dengan membuat beberapa variasi formulasi.
Contohnya:
- formulasi A menggunakan komposisi dasar;
- formulasi B memiliki perubahan jumlah salah satu bahan;
- formulasi C menggunakan bahan alternatif.
Setelah itu, setiap formulasi dapat dibandingkan berdasarkan karakter yang dihasilkan.
Hal yang dapat dievaluasi antara lain:
- rasa;
- aroma;
- warna;
- tekstur;
- penampilan;
- tingkat penerimaan;
- kemudahan proses.
Pencatatan sangat penting. Jangan hanya mengandalkan ingatan.
Catat jumlah bahan, urutan proses, waktu, kondisi pengolahan, serta hasil yang diperoleh. Catatan tersebut akan membantu ketika produk perlu dibuat kembali atau diperbaiki.
5. Lakukan Uji Coba Produk Secara Bertahap
Produk pertama belum tentu langsung sesuai dengan tujuan.
Pengembangan produk biasanya membutuhkan beberapa kali percobaan.
Lakukan uji coba dalam skala kecil agar penggunaan bahan dan biaya dapat dikendalikan.
Setiap percobaan dapat difokuskan pada satu atau beberapa faktor.
Misalnya:
- mengubah jumlah bahan tertentu;
- mencoba ukuran bahan yang berbeda;
- mengubah waktu pengolahan;
- membandingkan kondisi pemanasan;
- menguji variasi rasa;
- mencoba bentuk produk yang berbeda.
Jangan mengubah terlalu banyak faktor sekaligus karena akan lebih sulit mengetahui penyebab perubahan hasil.
Setelah memperoleh hasil, lakukan evaluasi dan tentukan bagian yang perlu diperbaiki.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pembelajaran Perancangan Percobaan dan Metoda Ilmiah, yaitu melakukan pengujian secara terstruktur dan menggunakan hasil pengamatan sebagai dasar evaluasi.
6. Evaluasi Rasa, Aroma, Tekstur, dan Penampilan
Produk makanan perlu diterima oleh konsumen.
Karena itu, evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pembuat produk.
Pelaku usaha dapat meminta beberapa calon konsumen mencoba produk dan memberikan masukan.
Beberapa aspek yang dapat dinilai meliputi:
- rasa;
- aroma;
- warna;
- tekstur;
- bentuk;
- penampilan;
- tingkat kesukaan secara keseluruhan.
Masukan dapat dikumpulkan menggunakan pertanyaan sederhana.
Contohnya:
- Bagaimana rasa produk?
- Apakah teksturnya sesuai?
- Apakah aromanya menarik?
- Apakah produk mudah dikonsumsi?
- Apakah Anda tertarik membeli produk ini?
Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki formulasi atau proses.
Dalam Teknologi Pangan, kegiatan tersebut berkaitan dengan Analisis Sensori, yaitu evaluasi karakter produk menggunakan indera manusia dengan metode tertentu.
7. Tentukan Proses Produksi yang Konsisten
Produk yang berhasil dibuat sekali belum tentu mudah dibuat kembali dengan hasil yang sama.
Ketika usaha mulai menerima banyak pesanan, proses perlu dijalankan secara lebih konsisten.
Karena itu, buat prosedur produksi yang jelas.
Prosedur dapat mencakup:
- jenis dan jumlah bahan;
- urutan proses;
- waktu setiap tahap;
- kondisi pengolahan;
- penggunaan peralatan;
- cara penanganan produk;
- metode pengemasan.
Tujuannya agar produk memiliki karakter yang lebih seragam meskipun dibuat pada waktu berbeda.
Prosedur juga dapat membantu ketika jumlah produksi meningkat atau ketika ada anggota tim lain yang terlibat.
Pengetahuan mengenai Satuan Operasi, Mesin dan Peralatan, serta Keteknikan Pengolahan Pangan dapat membantu memahami hubungan antara proses dan hasil produk.
8. Perhatikan Kebersihan dan Keamanan Pangan
Produk yang menarik tetap harus diproduksi dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan.
Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- kebersihan bahan;
- kebersihan peralatan;
- kebersihan area produksi;
- kebersihan tangan dan pakaian kerja;
- cara penyimpanan bahan;
- pemisahan bahan tertentu;
- penanganan produk setelah selesai dibuat;
- kebersihan kemasan.
Penerapan kebersihan perlu menjadi bagian dari kebiasaan kerja, bukan hanya dilakukan ketika ada pemeriksaan.
Lulusan Teknologi Pangan mempelajari dasar keamanan melalui mata kuliah seperti Mikrobiologi Pangan, Keamanan Pangan, HACCP, serta Sanitasi dan Pengolahan Limbah Industri.
Pengetahuan tersebut dapat membantu pelaku usaha memahami pentingnya pengendalian risiko selama proses produksi.
Untuk usaha yang akan dipasarkan secara luas, pelaku usaha juga perlu mempelajari dan memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai jenis produk serta skala usaha.
9. Hitung Biaya Produksi dengan Teliti
Produk yang disukai konsumen belum tentu menghasilkan keuntungan.
Karena itu, biaya perlu dihitung sejak tahap pengembangan.
Komponen biaya dapat mencakup:
- bahan baku;
- bahan pendukung;
- kemasan;
- penggunaan energi;
- biaya tenaga kerja;
- biaya produksi;
- distribusi;
- pemasaran;
- biaya operasional lainnya.
Pelaku usaha dapat menghitung biaya produksi per produk atau per kemasan.
Setelah itu, harga jual dapat ditentukan dengan mempertimbangkan biaya, target keuntungan, harga pasar, serta kemampuan konsumen.
Jangan menentukan harga hanya dengan melihat harga produk pesaing.
Setiap usaha memiliki struktur biaya yang berbeda.
Mata kuliah Ekonomi Teknik, Riset Operasional, serta Kewirausahaan dan e-Bisnis dapat memberikan dasar untuk memahami pengelolaan proses dan pengambilan keputusan usaha.
10. Pilih Kemasan Sesuai Karakter Produk
Kemasan bukan hanya berfungsi untuk membuat produk terlihat menarik.
Kemasan juga dapat membantu:
- melindungi produk;
- menjaga kebersihan;
- memudahkan penyimpanan;
- memudahkan distribusi;
- memberikan informasi;
- membangun identitas merek.
Pemilihan kemasan perlu disesuaikan dengan jenis produk.
Produk kering, produk cair, makanan beku, dan makanan siap konsumsi dapat memiliki kebutuhan kemasan yang berbeda.
Beberapa pertanyaan yang dapat dipertimbangkan:
- Apakah kemasan mampu melindungi produk?
- Apakah produk mudah berubah selama penyimpanan?
- Apakah kemasan sesuai dengan ukuran produk?
- Apakah kemasan mudah digunakan konsumen?
- Apakah kemasan sesuai dengan cara distribusi?
- Apakah desainnya mudah dikenali?
Dalam Teknologi Pangan, mahasiswa mempelajari Pengemasan dan Penyimpanan untuk memahami hubungan antara kemasan, produk, serta kondisi penyimpanan.
11. Uji Produk Selama Penyimpanan
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi dalam bisnis makanan adalah hanya menilai produk saat baru selesai dibuat.
Padahal, karakter produk dapat berubah selama penyimpanan.
Perubahan dapat terjadi pada:
- rasa;
- aroma;
- tekstur;
- warna;
- penampilan;
- tingkat kerenyahan;
- kondisi kemasan;
- kualitas secara keseluruhan.
Karena itu, simpan beberapa sampel dan lakukan pengamatan secara berkala.
Catat perubahan yang terjadi.
Pengujian sederhana tersebut dapat membantu pelaku usaha memahami bagaimana produk berubah selama disimpan.
Namun, penentuan masa simpan untuk produk yang akan dipasarkan perlu dilakukan dengan metode yang sesuai dan tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Jenis produk, proses, kemasan, kondisi penyimpanan, serta hasil pengujian perlu menjadi pertimbangan.
12. Bangun Identitas Produk dan Merek
Setelah produk memiliki karakter yang lebih jelas, usaha dapat mulai membangun identitas.
Identitas dapat mencakup:
- nama merek;
- konsep produk;
- desain kemasan;
- karakter visual;
- cerita di balik produk;
- keunggulan yang relevan;
- target konsumen.
Merek tidak harus dibuat rumit.
Yang penting, identitas mudah dipahami dan sesuai dengan produk.
Misalnya, produk berbasis bahan lokal dapat menonjolkan asal bahan atau cerita daerah. Produk praktis dapat menekankan kemudahan penggunaan.
Namun, klaim yang digunakan dalam promosi harus sesuai dengan kondisi produk dan tidak menyesatkan konsumen.
13. Lakukan Uji Pasar dalam Skala Kecil
Sebelum meningkatkan produksi, lakukan penjualan dalam jumlah terbatas.
Uji pasar dapat dilakukan melalui:
- lingkungan kampus;
- teman dan keluarga;
- komunitas;
- bazar;
- media sosial;
- marketplace;
- acara lokal.
Tujuannya bukan hanya mendapatkan penjualan, tetapi juga memperoleh informasi.
Perhatikan:
- apakah konsumen tertarik;
- apakah harga dapat diterima;
- bagian produk apa yang paling disukai;
- apakah kemasan mudah digunakan;
- apakah konsumen bersedia membeli kembali;
- masukan apa yang sering muncul.
Masukan tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki produk dan strategi penjualan.
14. Gunakan Teknologi Digital untuk Mengembangkan Usaha
Teknologi digital dapat membantu usaha menjangkau lebih banyak konsumen.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
- membuat katalog produk;
- membangun akun media sosial;
- membuat konten mengenai produk;
- menggunakan marketplace;
- menerima pesanan secara digital;
- mengumpulkan masukan pelanggan;
- mencatat penjualan;
- menganalisis produk yang paling diminati.
Teknologi dapat membantu pemasaran dan pengelolaan usaha.
Namun, kualitas produk tetap menjadi dasar.
Promosi yang baik dapat menarik pembeli pertama, tetapi konsistensi kualitas berperan penting dalam mendorong pembelian kembali.
15. Tingkatkan Produksi Secara Bertahap
Jika produk mulai memiliki permintaan yang stabil, kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
Namun, peningkatan produksi perlu dilakukan dengan perencanaan.
Hal yang perlu diperhatikan meliputi:
- ketersediaan bahan;
- kapasitas peralatan;
- jumlah tenaga kerja;
- konsistensi proses;
- kebutuhan ruang produksi;
- pengendalian kualitas;
- kapasitas penyimpanan;
- kemampuan distribusi.
Jangan hanya meningkatkan jumlah produksi tanpa memastikan sistem dapat menjaga kualitas.
Ketika skala usaha bertambah, proses yang sebelumnya dilakukan secara sederhana mungkin perlu diperbaiki.
Dokumentasi, prosedur kerja, pencatatan produksi, dan pengendalian mutu akan menjadi semakin penting.
Ilmu Teknologi Pangan yang Dapat Digunakan untuk Bisnis
Berbagai mata kuliah Teknologi Pangan dapat diterapkan dalam pengembangan usaha.
Contohnya:
- Pengetahuan Bahan Pangan membantu memahami karakter bahan baku;
- Kimia Pangan membantu memahami komponen dan perubahan bahan;
- Mikrobiologi Pangan membantu memahami mikroorganisme yang berkaitan dengan pangan;
- Teknologi Pengolahan Nabati dan Hewani membantu memahami proses pengolahan berbagai bahan;
- Analisis Pangan membantu memahami pengujian karakter produk;
- Rekayasa Pangan membantu memahami hubungan proses dan hasil;
- HACCP dan Keamanan Pangan membantu memahami pengendalian risiko;
- Pengawasan dan Pengendalian Mutu membantu menjaga konsistensi produk;
- Pengemasan dan Penyimpanan membantu mengevaluasi perlindungan dan perubahan produk;
- Analisis Sensori membantu menilai penerimaan produk;
- Kewirausahaan dan e-Bisnis membantu memahami pengembangan usaha;
- Bisnis Start Up membantu membangun konsep bisnis.
Dengan demikian, ilmu Teknologi Pangan dapat digunakan sejak tahap pemilihan bahan hingga pengembangan usaha.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Memulai Bisnis Makanan
Beberapa kesalahan yang dapat menghambat perkembangan usaha antara lain:
- langsung memproduksi dalam jumlah besar tanpa uji pasar;
- membuat terlalu banyak variasi produk sejak awal;
- tidak mencatat formulasi dan proses;
- hanya mengandalkan rasa tanpa memperhatikan kualitas;
- tidak menghitung biaya secara lengkap;
- memilih kemasan hanya berdasarkan penampilan;
- tidak memperhatikan perubahan produk selama penyimpanan;
- tidak menjaga kebersihan proses;
- menentukan klaim produk tanpa dasar yang jelas;
- meningkatkan produksi tanpa sistem pengendalian yang memadai.
Kesalahan tersebut dapat dihindari dengan melakukan pengembangan secara bertahap dan menggunakan data sebagai dasar evaluasi.
Jadi, Bagaimana Cara Memulai Bisnis Makanan dari Ilmu Teknologi Pangan?
Memulai bisnis makanan dapat dilakukan dengan memahami kebutuhan konsumen, memilih produk yang sesuai, mempelajari bahan, membuat formulasi, melakukan uji coba, mengevaluasi produk, serta menyusun proses produksi yang konsisten.
Setelah itu, pelaku usaha perlu memperhatikan keamanan pangan, menghitung biaya, memilih kemasan, mengevaluasi perubahan selama penyimpanan, membangun merek, dan melakukan uji pasar.
Ilmu Teknologi Pangan dapat membantu melihat bisnis makanan secara lebih menyeluruh.
Produk tidak hanya dinilai dari rasa atau tampilannya, tetapi juga dari bahan, proses, kualitas, keamanan, kemasan, penyimpanan, serta kemungkinan pengembangannya.
Di S1 Teknologi Pangan Ma’soem University, mahasiswa mempelajari berbagai bidang mulai dari bahan pangan, teknologi pengolahan, mikrobiologi, analisis, rekayasa, keamanan, pengendalian mutu, pengemasan, penyimpanan, hingga kewirausahaan dan e-Bisnis.
Bekal tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun usaha pangan yang lebih terencana.
Pada akhirnya, memulai bisnis makanan tidak harus langsung dilakukan dalam skala besar. Produk dapat dikembangkan dari percobaan kecil, diuji kepada calon konsumen, diperbaiki berdasarkan masukan, lalu ditingkatkan secara bertahap.
Dengan memadukan ilmu Teknologi Pangan dan kemampuan bisnis, pelaku usaha dapat membangun produk yang tidak hanya menarik untuk dijual, tetapi juga memiliki proses pengembangan yang lebih terarah.





