Kayu manis (Cinnamomum burmannii) telah lama menjadi primadona rempah Nusantara. Dari zaman kerajaan hingga era modern, komoditas ini memegang peran strategis dalam perdagangan global. Saat ini, di tengah meningkatnya kesadaran global akan bahan-bahan alami, kayu manis Indonesia justru menunjukkan nilai ekonomi yang semakin tinggi. Sebagai salah satu produsen terbesar dunia, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menjadikan rempah ini sebagai andalan ekspor dan sumber devisa negara .
Dominasi Indonesia di Panggung Ekspor Dunia
Posisi Indonesia dalam perdagangan kayu manis global sangat dominan. Negara ini menyumbang sekitar 43% dari total pasokan kayu manis dunia, menjadikannya produsen terbesar untuk jenis Cinnamomum burmannii (Cassia vera) . Data Kementerian Pertanian mencatat produksi nasional mencapai 60.018 ton pada tahun 2022 . Dari jumlah tersebut, sebagian besar diekspor ke berbagai negara tujuan, dengan nilai yang mencapai angka fantastis.
Sepanjang tahun 2024, ekspor kayu manis Indonesia tercatat 28.841 ton dengan nilai 112 juta dolar AS. Meskipun volume ekspor cenderung stabil, nilai ekspor menunjukkan tren peningkatan yang menarik. Pada periode 2018-2022, volume ekspor menurun dari 41 ribu ton menjadi 26 ribu ton, namun nilai ekspornya tidak turun secara sebanding dan bahkan sempat mencapai lebih dari 160 juta dolar AS pada tahun 2021 . Ini mengindikasikan bahwa pasar global semakin menghargai kualitas dan nilai tambah, bukan sekadar tonase.
Sentra produksi utama berada di Pulau Sumatra, khususnya di Kabupaten Kerinci (Jambi) dan Sumatera Barat . Di Kerinci saja, lebih dari 15 ribu hektare lahan ditanami kayu manis dengan produksi rata-rata 30-40 ribu ton per tahun . Sementara itu, Sumatera Barat mencatat ekspor kulit kayu manis sebanyak 5.900 ton sepanjang Januari-November 2025 ke berbagai negara seperti Prancis, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat .
Pasar Global dan Potensi Pertumbuhan
Permintaan global terhadap kayu manis Indonesia terus menunjukkan tren yang solid. Analisis pasar memperkirakan pertumbuhan permintaan tahunan mencapai 8-12%, didorong oleh penggunaan yang semakin luas di berbagai sektor industri modern . Kayu manis kini tidak lagi hanya menjadi bumbu dapur, tetapi juga bahan baku penting untuk industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, dan produk kesehatan .
Amerika Serikat menjadi pasar tujuan utama dengan pangsa lebih dari 40%, menjadikannya importir terbesar kayu manis Indonesia . Negara ini menjadi pasar paling potensial untuk pengembangan ekspor Indonesia ke depan . Selain AS, negara-negara Eropa seperti Belanda (sebagai hub distribusi), Jerman, dan Prancis juga menjadi tujuan penting. Di kawasan Asia, India dan Vietnam menunjukkan peluang pasar yang besar bagi kayu manis Indonesia .
Kekhasan kayu manis Kerinci menjadi nilai jual utama di pasar global. Varietas Cinnamomum burmannii dari Kerinci memiliki kandungan minyak atsiri 3-5%, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berkisar 2-2,5% . Aroma manis dan tajam yang dihasilkan membuat komoditas ini sangat diminati pasar Eropa, Amerika, dan Timur Tengah . Bahkan, produk ini telah mengantongi Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) yang memperkuat posisi tawar dan melindungi keasliannya .
Bukti nyata potensi pasar adalah ekspor perdana 10,4 ton kayu manis premium dari Kerinci ke Turki pada September 2025 dengan nilai transaksi mencapai Rp884,8 juta, dengan potensi kerja sama hingga 250 ton per tahun . Sebelumnya, pada November 2025, Sumatera Barat juga melepas ekspor 25 ton senilai Rp1,3 miliar ke Amerika Serikat . Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar internasional terus mengalir deras.
Hilirisasi: Kunci Meningkatkan Nilai Ekonomi
Meskipun memiliki posisi tawar yang kuat sebagai produsen, Indonesia masih menghadapi tantangan klasik: dominasi ekspor bahan mentah . Sebagian besar kayu manis dijual dalam bentuk kulit kering atau setengah jadi, sehingga nilai tambah yang diperoleh di tingkat petani masih relatif rendah .
Di sinilah hilirisasi menjadi kunci strategis. Pengembangan industri pengolahan di dalam negeri dapat mengubah struktur ekonomi rempah ini secara fundamental . Beberapa peluang hilirisasi yang menjanjikan antara lain:
Sektor Makanan dan Minuman (F&B): Kayu manis bubuk siap pakai untuk kebutuhan ekspor dan domestik guna memenuhi industri roti, kue, dan minuman kekinian seperti kopi. Sirup dan minuman herbal berbasis ekstrak kayu manis juga mulai populer sebagai minuman fungsional kaya antioksidan .
Sektor Farmasi dan Kesehatan: Pengolahan menjadi ekstrak suplemen dalam bentuk kapsul herbal untuk membantu menurunkan gula darah, menekan inflamasi, dan meningkatkan daya tahan tubuh .
Sektor Kosmetik dan Perawatan Tubuh: Penyulingan kulit dan daun kayu manis menjadi minyak atsiri bernilai jual tinggi untuk bahan baku parfum, sabun, dan aromaterapi . Nilai tambah dari produk turunan ini sangat signifikan.
Tantangan dan Upaya Penguatan Daya Saing
Meski prospeknya cerah, beberapa tantangan masih perlu diatasi. Keterbatasan teknologi pascapanen masih didominasi sistem tradisional dan belum banyak pabrik pengolahan lokal dengan teknologi tinggi . Standar kualitas ekspor yang ketat, terutama regulasi phytosanitary dan batas kandungan coumarin di pasar Eropa dan Amerika, membutuhkan standardisasi pengolahan yang ketat . Selain itu, produksi masih didominasi oleh perkebunan rakyat kecil sehingga konsistensi volume dan mutu sering fluktuatif .
Untuk mengatasi hal ini, berbagai upaya dilakukan. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional aktif memperjuangkan standar internasional yang inklusif di forum Codex untuk mengakomodasi karakteristik kayu manis Indonesia . BRIN dan Pemkab Kerinci mendorong pendaftaran varietas resmi “Kayu Manis Kerinci” yang ditargetkan diakui nasional pada 2026 untuk meningkatkan perlindungan dan posisi tawar petani . Inovasi seperti sistem blockchain traceability juga mulai diterapkan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen internasional .
Kesimpulan
Kayu manis Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dengan posisi dominan di pasar global. Didukung oleh kualitas unggul varietas lokal, permintaan pasar yang terus meningkat, dan peluang hilirisasi yang terbuka lebar, komoditas ini menjelma menjadi primadona ekspor yang menjanjikan. Kunci untuk mewujudkan potensi penuhnya adalah transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai nilai global melalui investasi pada teknologi pengolahan, penguatan standar mutu, dan pemberdayaan petani. Dengan strategi yang tepat, kayu manis tidak hanya akan menjadi sumber devisa yang signifikan, tetapi juga penggerak kesejahteraan bagi ribuan petani di pelosok negeri .




