FOOD INOVATION, Daging Nabati (Plant-Based Meat): Apakah Ini Makanan Masa Depan?

Oleh : Lenny Amelia HK

Jika Tidak Diberi Tahu, Apakah Anda Bisa Membedakannya?

Bayangkan Anda sedang menikmati burger dengan tekstur yang kenyal, aroma yang menggugah selera, dan rasa yang mirip daging sapi. Setelah selesai makan, seseorang berkata, “Tadi itu bukan daging sapi, melainkan daging nabati.” Mungkin Anda akan terkejut. Produk seperti ini kini semakin mudah ditemukan di berbagai negara. Berkat kemajuan Teknologi Pangan, bahan baku dari kedelai, kacang polong, gandum, atau jamur dapat diolah menjadi produk dengan tekstur yang menyerupai daging. Inilah yang dikenal sebagai plant-based meat atau daging nabati.

Image

Sumber ; Primarasa

Apa Itu Daging Nabati?

Daging nabati adalah produk pangan yang dibuat dari protein tumbuhan, tetapi dirancang agar memiliki tekstur, cita rasa, dan tampilan yang menyerupai daging. Tujuannya bukan untuk “menggantikan” daging sepenuhnya, melainkan memberikan pilihan bagi konsumen yang ingin mengurangi konsumsi daging, menjalani pola makan tertentu, atau mencari variasi sumber protein. Bahan yang umum digunakan antara lain:

  • Protein kedelai.
  • Protein kacang polong.
  • Gluten gandum.
  • Jamur.
  • Kacang-kacangan.
  • Minyak nabati.
  • Serat pangan.
Mengapa Produk Ini Semakin Populer?

Ada beberapa alasan mengapa daging nabati mendapat perhatian di berbagai negara. Pertama, meningkatnya minat masyarakat terhadap pola makan berbasis tumbuhan. Kedua, berkembangnya inovasi pangan yang mampu menghasilkan produk dengan kualitas sensoris yang semakin baik. Ketiga, semakin banyak perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan pangan alternatif sebagai bagian dari diversifikasi produk. Bagi industri pangan, ini merupakan peluang untuk menghadirkan pilihan yang lebih beragam bagi konsumen.

Apakah Nilai Gizinya Sama dengan Daging?

Jawabannya bergantung pada formulasi produknya. Beberapa produk dirancang agar kandungan proteinnya mendekati daging. Sebagian juga diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu. Namun, setiap produk memiliki komposisi yang berbeda. Oleh karena itu, membaca label informasi nilai gizi tetap menjadi langkah penting sebelum memilih produk.

Tantangan dalam Pengembangannya

Membuat produk yang menyerupai daging ternyata tidak mudah. Peneliti harus memikirkan banyak hal, seperti:

  • Tekstur yang menyerupai serat daging.
  • Aroma yang disukai konsumen.
  • Warna yang menarik sebelum dan sesudah dimasak.
  • Kandungan gizi yang seimbang.
  • Stabilitas selama penyimpanan.
  • Harga yang kompetitif.

Semua tantangan tersebut menjadi ruang bagi inovasi di bidang Teknologi Pangan.

Peluang Besar bagi Lulusan Teknologi Pangan

Perkembangan pangan alternatif membuka peluang karier baru bagi lulusan Teknologi Pangan. Mereka dapat berperan dalam:

  • Penelitian dan pengembangan produk.
  • Formulasi bahan pangan.
  • Analisis mutu.
  • Pengujian sensori.
  • Produksi skala industri.
  • Pengembangan kemasan.
  • Pemasaran berbasis sains.

Keahlian tersebut semakin dibutuhkan seiring berkembangnya industri pangan modern.

Belajar Inovasi Pangan di Universitas Ma’soem

Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ma’soem mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah. Melalui kegiatan praktikum, penelitian, dan proyek pengembangan produk, mahasiswa belajar menciptakan pangan yang aman, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan industri. Semangat inovasi inilah yang menjadi salah satu bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi tantangan dunia kerja maupun membangun usaha di bidang pangan.

Mari Bergabung dengan Jurusan Teknologi Pangan Ma’soem University!

Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:

Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/

WhatsApp: 081385501914

Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/