Di tengah gairah kebangkitan kuliner Nusantara yang semakin terasa, satu sayuran lokal bernama pohpohan mulai menarik perhatian para pegiat kuliner dan pelaku usaha makanan. Tanaman khas Sunda yang selama ini hanya menjadi pelengkap lalapan di meja makan ini menyimpan potensi ekonomi yang besar, terutama ketika diolah menjadi produk bernilai tambah.
Mengapa Pohpohan Kini Mulai Dilirik
Pohpohan bukan sayuran sembarangan. Kandungan nutrisinya yang kaya—mulai dari flavonoid, fenolik, kalsium tinggi, hingga serat pangan yang larut—menjadikannya bukan sekadar lalapan, tetapi bahan pangan fungsional yang mulai dicari konsumen sadar kesehatan . Di tengah tren “back to nature” dan meningkatnya minat terhadap pangan lokal, pohpohan menemukan momentumnya.
Tanaman ini memiliki keunikan tersendiri dalam hal budidaya. Pohpohan tidak membentuk biji di iklim Jawa Barat, sehingga perbanyakannya harus dilakukan secara vegetatif . Namun demikian, penelitian menunjukkan bahwa pohpohan memiliki potensi untuk dibudidayakan secara komersial karena cita rasa aromatiknya yang khas .
Di Desa Tamansari, Bogor—yang menjadi salah satu sentra pohpohan—tanaman ini bahkan menjadi komoditas utama dalam sistem agroforestri di Zona Tradisional Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Petani di sana dapat menghasilkan 30.000-50.000 ikat per panen dengan pendapatan bulanan sekitar USD 154-256 .
Dari Lalapan ke Produk Bernilai Tambah
Kebangkitan kuliner lokal tidak hanya tentang menghidupkan kembali masakan tradisional, tetapi juga tentang menciptakan inovasi. Pohpohan yang selama ini dijual sebagai sayuran segar dengan harga relatif rendah mulai bertransformasi.
Keripik Pohpohan menjadi salah satu pionir dalam pengolahan komoditas ini. Usaha “CLB Raos” di Desa Tamansari telah memproduksi keripik pohpohan sejak 1998, meskipun sempat mengalami stagnansi karena kemasan yang kurang menarik dan jaringan kemitraan yang terbatas . Melalui program pendampingan, produk ini di-rebranding menjadi KEPOTA dengan kemasan aluminium foil full-print, mendapatkan NIB dan sertifikasi Halal, serta menjalin kemitraan dengan kafe “Sobat Tani IPB” dan program ekstrakurikuler SMA N 1 Tamansari . Hasilnya, daya tarik dan daya saing produk meningkat signifikan di pasar.
Inovasi lainnya datang dari mahasiswa KKNT IPB University yang menginisiasi program PONI—Pohpohan Nori Tamansari. Mereka mengolah daun pohpohan menjadi produk konsumsi yang menyerupai nori, memanfaatkan karakteristik daun pohpohan sebagai alternatif pengganti rumput laut . Pilihan ini didasari oleh tingginya minat anak-anak terhadap makanan berbasis nori, sehingga membuka peluang pasar baru yang selama ini belum tergarap. Program ini tidak hanya berfokus pada pengolahan, tetapi juga mencakup pelatihan pengemasan, desain logo, pemanfaatan platform digital seperti Shopee, hingga pembuatan QRIS untuk pembayaran non-tunai .
Siapa yang Membeli dan Mengapa?
Meskipun pangsanya masih kecil—kurang dari 5% di pasar lokal dan kurang dari 10% dalam konsumsi sayuran rumah tangga—pohpohan memiliki basis konsumen yang loyal . Penelitian di Bogor, Cianjur, dan Tasikmalaya menunjukkan bahwa konsumen memilih pohpohan karena alasan keakraban, harga yang moderat, preferensi anggota keluarga, ketersediaan, dan kemudahan persiapan .
Namun, ada tantangan generasi: anggota keluarga yang lebih muda (<30 tahun) cenderung lebih jarang membeli pohpohan dibandingkan yang lebih tua (>30 tahun), kemungkinan karena kurangnya informasi tentang cara penggunaan dan cita rasa yang kurang familiar . Inilah celah yang bisa diisi oleh inovasi produk olahan seperti keripik dan nori—mengenalkan pohpohan dalam bentuk yang lebih akrab bagi generasi muda.
Peluang dan Strategi
Kebangkitan kuliner lokal membawa angin segar bagi pohpohan. Beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan:
- Diversifikasi Produk Olahan: Inspirasi dari KEPOTA dan PONI menunjukkan bahwa pohpohan bisa menjadi bahan baku berbagai produk—mulai dari camilan hingga makanan alternatif.
- Kemitraan Strategis: Seperti yang dilakukan KEPOTA dengan Sobat Tani IPB dan sekolah setempat, kemitraan dapat memperluas jangkauan pasar dan memberikan edukasi konsumen tentang produk olahan pohpohan .
- Sertifikasi dan Legalitas: Pendaftaran NIB dan sertifikasi Halal terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya saing produk di pasar .
- Pemasaran Digital: Pemanfaatan platform digital dan pembayaran non-tunai menjadi langkah penting untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, terutama generasi muda .
Kesimpulan
Pohpohan adalah contoh sempurna bagaimana sayuran lokal dapat menemukan panggung baru di tengah kebangkitan kuliner Nusantara. Dengan kandungan gizi yang kaya dan potensi inovasi produk yang luas, pohpohan menawarkan peluang bisnis yang nyata bagi petani dan pelaku UMKM. Kuncinya adalah menggeser persepsi pohpohan dari sekadar lalapan menjadi produk bernilai tambah—seperti keripik, nori, atau produk olahan kreatif lainnya—sambil tetap menjaga akar tradisinya sebagai sayuran lokal yang sarat manfaat. Di tangan yang tepat, pohpohan bukan sekadar pelengkap di piring, tetapi komoditas yang bisa menggerakkan ekonomi desa dan memperkaya khazanah kuliner Indonesia.




