Anak Sering Marah Saat Keinginannya Tidak Dituruti, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Anak sering marah saat keinginannya tidak dituruti merupakan kondisi yang cukup umum dalam proses tumbuh kembang. Menangis, berteriak, merengek, membanting barang, bahkan berguling di lantai bisa menjadi cara anak menunjukkan rasa kecewa ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Meski terlihat seperti perilaku yang sulit dikendalikan, kemarahan anak tidak selalu berarti anak sengaja bersikap nakal. Ada proses perkembangan emosi dan kemampuan mengendalikan diri yang masih berlangsung. Orang tua perlu memahami penyebab di balik kemarahan tersebut agar dapat memberikan respons yang tepat.

Mengapa Anak Mudah Marah Saat Keinginannya Ditolak?

Anak belum selalu memiliki kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengungkapkan emosinya seperti orang dewasa. Ketika menginginkan sesuatu, anak cenderung berfokus pada keinginannya saat itu. Penolakan dapat terasa sebagai masalah besar karena kemampuan mengelola rasa kecewa masih berkembang.

Beberapa penyebab anak mudah marah ketika keinginannya tidak dituruti antara lain:

  • Kemampuan mengendalikan emosi masih berkembang. Anak mungkin mengetahui bahwa dirinya kecewa, tetapi belum tahu cara menyampaikan perasaan tersebut.
  • Belum memahami konsep menunggu. Keinginan anak sering terasa harus segera dipenuhi sehingga penundaan dapat memicu kemarahan.
  • Terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan. Jika hampir setiap permintaan selalu dituruti, anak bisa kesulitan menerima batasan ketika orang tua mulai mengatakan tidak.
  • Merasa tidak didengarkan. Penolakan tanpa penjelasan terkadang membuat anak merasa kebutuhannya diabaikan.
  • Kondisi fisik sedang tidak nyaman. Rasa lapar, mengantuk, lelah, atau terlalu banyak stimulasi dapat membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi.

Karena itu, penting melihat perilaku marah bukan hanya dari tindakan yang terlihat, tetapi juga dari kebutuhan yang mungkin berada di baliknya.

Marah Tidak Selalu Berarti Anak Manja

Anggapan bahwa anak yang sering marah pasti manja tidak selalu tepat. Kemarahan merupakan salah satu bentuk emosi yang normal. Persoalannya terletak pada bagaimana anak mengekspresikan dan mengelola emosi tersebut.

Anak yang menangis setelah permintaannya ditolak belum tentu sedang memanipulasi orang tua. Bisa jadi ia benar-benar mengalami frustrasi, tetapi belum memiliki keterampilan untuk mengatasinya.

Orang tua tetap perlu memberikan batasan. Membiarkan anak memukul, menyakiti orang lain, merusak barang, atau melakukan tindakan berbahaya bukan bagian dari proses belajar mengelola emosi. Anak perlu memahami bahwa perasaan boleh muncul, tetapi tidak semua perilaku dapat dibenarkan.

Cara Menghadapi Anak yang Marah Saat Keinginannya Tidak Dituruti

Respons orang tua ketika anak sedang marah dapat memengaruhi cara anak belajar mengelola emosi. Beberapa langkah berikut dapat diterapkan secara konsisten.

1. Tetap tenang

Anak yang sedang mengalami ledakan emosi membutuhkan orang dewasa yang mampu menjadi contoh pengendalian diri. Membalas teriakan anak dengan teriakan biasanya justru membuat situasi semakin sulit.

Orang tua dapat berbicara menggunakan kalimat pendek dan suara yang tenang. Tidak perlu memberikan penjelasan panjang ketika anak masih menangis atau berteriak karena kemungkinan besar ia belum mampu menyerap banyak informasi.

2. Akui perasaannya tanpa selalu memenuhi keinginan

Mengakui emosi anak berbeda dari menuruti permintaannya.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena sekarang belum boleh membeli mainan itu.” Kalimat tersebut menunjukkan bahwa perasaan anak dipahami, tetapi keputusan tetap tidak berubah.

Cara ini membantu anak mengenali hubungan antara situasi dan emosi yang dirasakan.

3. Berikan batasan yang jelas

Batasan perlu disampaikan secara sederhana dan konsisten. Jika orang tua sudah memutuskan bahwa anak tidak boleh mendapatkan sesuatu, keputusan tersebut sebaiknya tidak berubah hanya karena anak menangis atau berteriak.

Konsistensi membuat anak memahami bahwa kemarahan bukan cara untuk mengubah semua keputusan.

4. Ajarkan pilihan yang dapat diterima

Anak dapat diberi pilihan terbatas agar tetap memiliki rasa kendali. Contohnya, ketika anak tidak boleh bermain gawai karena waktunya sudah selesai, orang tua dapat menawarkan aktivitas lain seperti membaca buku atau bermain bersama.

Pilihan tersebut tidak berarti orang tua menyerah pada tuntutan anak. Justru, anak belajar bahwa ada cara lain untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus marah.

5. Ajarkan cara mengungkapkan emosi

Anak membutuhkan latihan untuk mengatakan, “Aku kecewa,” “Aku ingin itu,” atau “Aku masih mau bermain.” Kemampuan tersebut tidak muncul secara otomatis.

Orang tua dapat melatihnya ketika anak sudah tenang. Pembelajaran pada kondisi tenang biasanya lebih efektif daripada memberikan banyak nasihat saat anak sedang mengalami tantrum.

Kapan Kemarahan Anak Perlu Mendapat Perhatian Lebih?

Frekuensi dan intensitas kemarahan perlu diperhatikan, terutama jika perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat mencatat kapan kemarahan biasanya muncul, apa pemicunya, bagaimana respons orang tua, serta berapa lama anak membutuhkan waktu untuk kembali tenang.

Perhatian lebih lanjut dapat dipertimbangkan apabila anak sering:

  • Melukai dirinya sendiri atau orang lain ketika marah.
  • Merusak barang secara berulang.
  • Mengalami ledakan emosi yang sangat intens dan sulit ditenangkan.
  • Mengalami masalah serupa di rumah maupun lingkungan sekolah.
  • Kesulitan berkomunikasi atau berinteraksi secara signifikan.
  • Menunjukkan perubahan perilaku yang berlangsung cukup lama dan semakin berat.

Konsultasi kepada psikolog, konselor, dokter, atau tenaga profesional terkait dapat membantu orang tua memahami kondisi anak secara lebih objektif. Evaluasi profesional juga dapat membantu membedakan perilaku yang masih sesuai tahap perkembangan dari kondisi yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Peran Pendidikan dalam Memahami Perkembangan Anak

Pemahaman mengenai perkembangan emosi anak tidak hanya relevan bagi orang tua. Pengetahuan tersebut juga penting bagi guru, konselor, dan calon tenaga pendidik yang nantinya berinteraksi langsung dengan anak dan remaja.

Salah satu bidang yang berkaitan erat dengan kebutuhan tersebut adalah Bimbingan dan Konseling (BK). Mahasiswa di bidang ini mempelajari berbagai aspek yang mendukung pemahaman terhadap perkembangan individu, proses konseling, serta pendampingan dalam menghadapi persoalan pribadi, sosial, maupun pendidikan.

Ma’soem University merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki program studi yang relevan dengan bidang pendidikan dan pengembangan individu. Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University, jurusan yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keberadaan program tersebut dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin mengembangkan kompetensi di bidang pendidikan dan pendampingan peserta didik.

Pemahaman tentang emosi, komunikasi, dan perkembangan individu juga menjadi bekal penting bagi calon pendidik agar tidak terburu-buru memberikan label “nakal” kepada anak ketika menghadapi perilaku marah. Pendekatan yang tepat dapat membantu anak belajar mengenali perasaan, memahami batasan, serta menemukan cara yang lebih sehat untuk menyampaikan kebutuhan.

Informasi Ma’soem University

Bagi yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Ma’soem University dan penerimaan mahasiswa baru, informasi dapat diperoleh melalui kontak berikut:

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com