Sistem pendidikan Korea Selatan sering mendapat perhatian karena mampu menghasilkan siswa dengan capaian akademik yang tinggi. Dalam PISA 2022, siswa Korea menunjukkan performa yang kuat dalam matematika, membaca, dan sains. Namun, keberhasilan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Pola belajar, peran guru, dukungan orang tua, kedisiplinan, serta budaya pendidikan ikut membentuk kebiasaan belajar anak sejak dini.
Indonesia tentu tidak harus meniru seluruh sistem pendidikan Korea Selatan. Ada beberapa kebiasaan positif yang dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah, keluarga, dan karakter peserta didik di Indonesia.
1. Belajar Teratur Menjadi Kebiasaan Sejak Dini
Salah satu hal yang menonjol dalam pendidikan Korea Selatan adalah kuatnya budaya belajar. Anak terbiasa memiliki rutinitas yang terstruktur, mulai dari kegiatan sekolah hingga belajar mandiri setelah jam pelajaran.
Rutinitas tersebut membantu anak memahami bahwa belajar bukan hanya kegiatan yang dilakukan ketika menghadapi ujian. Belajar menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Pola ini dapat diterapkan di Indonesia melalui kebiasaan sederhana, seperti:
- menetapkan jadwal belajar yang konsisten;
- memberikan waktu khusus untuk membaca;
- membiasakan anak menyelesaikan tugas secara mandiri;
- membuat target belajar yang realistis;
- mengevaluasi perkembangan belajar secara berkala.
Kuncinya bukan membuat anak belajar sepanjang hari, melainkan membangun konsistensi. Durasi belajar yang terlalu panjang tanpa jeda justru dapat membuat anak kehilangan konsentrasi dan motivasi.
2. Peran Orang Tua Tidak Berhenti pada Nilai
Keterlibatan keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam proses pendidikan di Korea Selatan. Data PISA 2022 menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam perkembangan belajar anak di Korea relatif tetap terjaga dibandingkan banyak sistem pendidikan lain selama periode 2018–2022.
Bagi keluarga di Indonesia, keterlibatan tersebut tidak harus diwujudkan melalui les tambahan atau pengawasan ketat terhadap nilai. Orang tua dapat mengambil peran sebagai pendamping.
Contohnya adalah menanyakan apa yang dipelajari anak di sekolah, membantu ketika anak mengalami kesulitan, menyediakan tempat belajar yang nyaman, serta berdiskusi mengenai target pendidikan.
Pendekatan seperti ini membuat anak merasa bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, bukan tekanan yang hanya diberikan sekolah.
3. Guru Berperan sebagai Pendamping Belajar
Kualitas interaksi antara guru dan siswa juga menjadi aspek yang patut diperhatikan. Dalam PISA 2022, sebanyak 72% siswa di Korea melaporkan bahwa guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa dalam sebagian besar pelajaran matematika. Sebanyak 75% juga menyatakan guru memberikan bantuan tambahan ketika mereka membutuhkannya.
Data tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi. Guru juga perlu mengetahui kebutuhan setiap peserta didik.
Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan ini melalui pembelajaran yang lebih responsif. Siswa yang belum memahami materi perlu memperoleh kesempatan bertanya dan mendapatkan penjelasan tambahan tanpa merasa tertinggal.
Peran guru juga dapat diperluas sebagai fasilitator. Anak didorong untuk menemukan jawaban, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan belajar dari kesalahan.
4. Disiplin Belajar Perlu Diimbangi Kesejahteraan Anak
Budaya belajar Korea Selatan memiliki sisi positif berupa kedisiplinan dan orientasi akademik yang kuat. Namun, tekanan akademik juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mengejar prestasi tanpa memperhatikan keseimbangan waktu dapat membuat proses pendidikan terasa terlalu berat bagi anak.
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya mengambil aspek kedisiplinannya. Anak juga membutuhkan waktu untuk bermain, beristirahat, bersosialisasi, berolahraga, dan mengembangkan minat di luar akademik.
Pendidikan yang baik seharusnya menghasilkan anak yang mampu belajar secara konsisten sekaligus memiliki kemampuan mengelola diri. Target akademik tetap penting, tetapi tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
5. Teknologi Bisa Menjadi Pendukung Pembelajaran
Pengalaman Korea Selatan juga menunjukkan pentingnya kesiapan teknologi dalam pembelajaran. Ketika pembelajaran jarak jauh berlangsung selama pandemi, 55% siswa di Korea melaporkan mendapatkan dukungan setiap hari melalui kelas virtual secara langsung. Sebanyak 70% siswa juga menyatakan percaya diri atau sangat percaya diri menggunakan program komunikasi video untuk pembelajaran.
Indonesia dapat mengambil pelajaran bahwa teknologi pendidikan bukan sekadar alat untuk menggantikan kegiatan belajar di kelas. Teknologi dapat digunakan untuk menyediakan materi tambahan, latihan soal, diskusi, pembelajaran bahasa, hingga akses terhadap sumber pengetahuan yang lebih luas.
Meski begitu, penggunaan teknologi tetap perlu diarahkan. Anak perlu belajar memilah informasi, menjaga konsentrasi, serta menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab.
6. Kebiasaan Bertanya Perlu Lebih Didorong
Menariknya, sistem pendidikan Korea Selatan juga memiliki tantangan yang dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Data OECD menunjukkan hanya sekitar 33,8% siswa Korea yang melaporkan sering bertanya ketika tidak memahami materi matematika, salah satu proporsi terendah di antara peserta PISA 2022.
Hal tersebut menunjukkan bahwa prestasi akademik tinggi tidak otomatis berarti semua kebiasaan belajar sudah ideal.
Indonesia dapat menekankan budaya bertanya sejak pendidikan dasar. Anak perlu memahami bahwa bertanya bukan tanda kurang pintar. Sebaliknya, kemampuan mengajukan pertanyaan menunjukkan adanya keinginan untuk memahami suatu persoalan secara lebih mendalam.
Guru dapat membantu membangun budaya tersebut melalui diskusi terbuka, pertanyaan pemantik, kerja kelompok, presentasi, dan tugas berbasis pemecahan masalah.
7. Pendidikan Guru Menjadi Bagian Penting dari Perubahan
Penerapan metode belajar yang lebih efektif tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidik. Guru membutuhkan kemampuan pedagogis, komunikasi, penguasaan materi, serta pemahaman terhadap karakter peserta didik.
Perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan calon pendidik agar mampu menghadapi kebutuhan tersebut. Salah satu contohnya adalah Ma’soem University yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
FKIP Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.
Program Bimbingan dan Konseling relevan untuk pengembangan kemampuan pendampingan peserta didik, sedangkan Pendidikan Bahasa Inggris mempersiapkan mahasiswa dalam penguasaan bahasa sekaligus kompetensi pengajaran. Keduanya dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Pendekatan seperti ini penting karena pendidikan tidak hanya membutuhkan guru yang mampu menyampaikan materi, tetapi juga tenaga pendidik yang memahami kebutuhan akademik, sosial, dan perkembangan peserta didik.
Apa yang Bisa Diterapkan di Indonesia?
Tidak semua praktik pendidikan Korea Selatan dapat dipindahkan begitu saja ke Indonesia. Kondisi sosial, budaya, jumlah siswa, fasilitas sekolah, serta karakter keluarga memiliki perbedaan.
Namun, beberapa prinsipnya cukup relevan untuk diterapkan, antara lain:
- membangun rutinitas belajar yang konsisten;
- meningkatkan keterlibatan orang tua;
- memperkuat pendampingan guru;
- mendorong anak aktif bertanya dan berdiskusi;
- memanfaatkan teknologi secara terarah;
- menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan waktu istirahat;
- mengembangkan kemampuan belajar mandiri;
- memperkuat kompetensi calon guru dan tenaga kependidikan.
Pada akhirnya, yang dapat dipelajari Indonesia bukan sekadar berapa lama anak Korea belajar atau seberapa tinggi target akademiknya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana membentuk kebiasaan belajar yang disiplin, dukungan keluarga yang sehat, guru yang responsif, serta lingkungan pendidikan yang mendorong anak untuk terus berkembang.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com



