Yuk Simak Sebenarnya Apa yang Membuat Sebuah Kode Disebut Efisien dan Mudah Dikembangkan? Ini Dia Penjelasannya

Coding bukan hanya tentang membuat program yang bisa berjalan. Di balik sebuah aplikasi yang terlihat sederhana, terdapat cara programmer menyusun logika, memilih struktur kode, hingga memikirkan bagaimana program tersebut akan dikembangkan di kemudian hari. Kode yang berhasil dijalankan belum tentu menjadi kode yang baik. Bisa saja program berjalan lancar hari ini, tetapi justru menyulitkan ketika harus diperbaiki atau ditambahkan fitur baru.

Dalam dunia teknologi, kebutuhan terhadap software semakin beragam. Website, aplikasi mobile, sistem informasi, layanan keuangan, platform pendidikan, hingga artificial intelligence membutuhkan kode yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga dapat dipelihara. Karena itu, memahami karakteristik kode yang efisien dan mudah dikembangkan menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin serius belajar coding.

Ma’soem University, Tempat Membangun Fondasi Coding dari Awal

Bagi calon programmer yang ingin mempelajari coding sekaligus memahami bagaimana teknologi diterapkan dalam sistem informasi, Ma’soem University menyediakan Program Studi S1 Sistem Informasi sebagai salah satu pilihan pendidikan. Pembelajaran di perguruan tinggi dapat membantu mahasiswa mengenal konsep teknologi secara lebih terarah, mulai dari logika pemrograman hingga penerapan sistem untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan. Dengan lingkungan belajar yang mendukung, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teori, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah yang menjadi bagian penting dalam dunia coding.

Kode Bisa Berjalan, tetapi Apakah Sudah Efisien?

Pernah menemukan program yang membutuhkan waktu lama hanya untuk melakukan tugas sederhana? Atau mungkin pernah melihat kode yang terdiri dari ratusan baris, padahal masalah yang diselesaikan sebenarnya tidak terlalu rumit?

Di sinilah konsep efisiensi kode menjadi penting.

Kode yang efisien mampu menyelesaikan pekerjaan dengan penggunaan sumber daya yang tepat, baik dari sisi waktu maupun memori. Programmer tidak sekadar membuat program “jalan”, tetapi juga memikirkan bagaimana program tersebut dapat bekerja secara optimal.

Beberapa hal yang biasanya diperhatikan antara lain:

  • Waktu eksekusi program.
  • Penggunaan memori.
  • Jumlah proses yang dilakukan.
  • Struktur algoritma yang digunakan.
  • Kemudahan kode untuk dipahami programmer lain.

Misalnya, jika sebuah program dapat menghasilkan output yang sama dengan proses yang lebih sederhana dan cepat, tentu pendekatan tersebut lebih layak dipertimbangkan.

Masalahnya Bukan Selalu pada Banyaknya Baris Kode

Banyak orang mengira bahwa semakin sedikit baris kode, semakin baik kualitas program. Padahal, tidak sesederhana itu.

Kode yang terlalu singkat justru dapat sulit dipahami apabila penamaannya buruk atau logikanya terlalu rumit. Sebaliknya, kode yang lebih panjang dapat tetap berkualitas apabila struktur dan alurnya jelas.

Masalah yang sering muncul dalam sebuah project antara lain:

  • Nama variabel tidak menggambarkan fungsinya.
  • Satu fungsi menangani terlalu banyak pekerjaan.
  • Kode yang sama ditulis berulang kali.
  • Struktur folder tidak terorganisasi.
  • Perubahan kecil justru memengaruhi banyak bagian program.

Ketika kondisi tersebut dibiarkan, programmer akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan maintenance.

Kode yang Mudah Dikembangkan Itu Seperti Apa?

Bayangkan sebuah aplikasi memiliki fitur login. Beberapa bulan kemudian, perusahaan ingin menambahkan login menggunakan Google. Jika struktur kode sejak awal dibuat dengan baik, fitur tersebut dapat ditambahkan tanpa harus membongkar seluruh sistem.

Inilah salah satu ciri kode yang mudah dikembangkan.

Kode yang baik seharusnya memiliki struktur yang memungkinkan programmer melakukan perubahan tanpa menimbulkan masalah baru di berbagai bagian program. Konsep seperti modularitas, penggunaan fungsi, penamaan yang jelas, serta pemisahan tanggung jawab dapat membantu mewujudkannya.

Sederhananya, programmer perlu berpikir:

“Kalau bulan depan ada perubahan, apakah kode ini masih mudah diperbaiki?”

Pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah cara seseorang menulis program.

Ketika Kode Berantakan Mulai Menjadi Masalah

Masalah biasanya baru terasa ketika project sudah semakin besar. Pada awalnya, kode yang ditulis secara asal mungkin terlihat baik-baik saja. Namun, ketika jumlah fitur bertambah dan beberapa programmer ikut mengerjakan project, kelemahan struktur kode mulai terlihat.

Dampaknya bisa cukup merepotkan:

  • Bug lebih sulit ditemukan.
  • Proses maintenance memakan waktu.
  • Penambahan fitur menjadi lebih berisiko.
  • Programmer baru membutuhkan waktu lama untuk memahami project.
  • Kesalahan kecil dapat memengaruhi fitur lainnya.

Kondisi tersebut sering disebut sebagai technical debt, yaitu konsekuensi dari keputusan teknis yang kurang tepat dan akhirnya perlu diperbaiki di kemudian hari.

Solusinya: Belajar Cara Berpikir di Balik Coding

Mengatasi persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan menghafal syntax. Programmer perlu memahami mengapa sebuah struktur kode digunakan dan kapan pendekatan tertentu lebih tepat.

Misalnya, ketika membuat program, biasakan untuk:

  1. Memahami masalah sebelum menulis kode.
  2. Membuat alur solusi terlebih dahulu.
  3. Memecah masalah besar menjadi bagian kecil.
  4. Menggunakan nama fungsi dan variabel yang jelas.
  5. Menghindari pengulangan kode yang tidak diperlukan.
  6. Melakukan pengujian setelah membuat perubahan.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membentuk pola berpikir yang lebih sistematis.

Bukan Cuma Coding, tetapi Juga Problem Solving

Seorang programmer mungkin menguasai banyak bahasa pemrograman, tetapi kemampuan tersebut belum tentu cukup ketika menghadapi persoalan nyata.

Contohnya, perusahaan membutuhkan sistem pendataan mahasiswa. Programmer tidak bisa langsung memilih bahasa pemrograman lalu mulai mengetik. Ia perlu memahami siapa pengguna sistem, data apa yang dibutuhkan, bagaimana data disimpan, dan bagaimana sistem akan digunakan.

Artinya, proses coding sebenarnya dimulai sebelum baris kode pertama ditulis.

Kemampuan seperti:

  • Logical thinking
  • Problem solving
  • Algorithmic thinking
  • Database understanding
  • System analysis

ikut menentukan kualitas solusi yang dibuat.

Lalu, Bagaimana Cara Mulai Belajar?

Jika baru mengenal coding, jangan langsung mengejar banyak bahasa pemrograman sekaligus. Fokuslah membangun fondasi terlebih dahulu.

Mulai dari logika pemrograman, algoritma, struktur data, kemudian lanjutkan dengan membuat project sederhana. Misalnya membuat sistem kasir sederhana, website portofolio, aplikasi pencatatan data, atau sistem pengelolaan tugas.

Dari project tersebut, kesalahan justru menjadi bagian penting dalam proses belajar. Ketika program error, jangan hanya mencari kode yang bisa langsung memperbaikinya. Cobalah memahami mengapa error tersebut terjadi.

Dengan pola belajar:

Pahami → praktikkan → error → analisis → perbaiki → kembangkan

kemampuan coding dapat tumbuh secara bertahap.

Ingin Belajar Coding Lebih Terarah? Mulai dari Lingkungan yang Tepat

Kesulitan terbesar bagi pemula sering kali bukan karena coding terlalu sulit, melainkan karena tidak tahu harus mempelajari apa terlebih dahulu. Tutorial yang terlalu banyak justru dapat membuat proses belajar kehilangan arah.

Karena itu, pendidikan formal di bidang sistem informasi dapat menjadi salah satu solusi bagi calon programmer yang ingin membangun kemampuan secara bertahap. Melalui pembelajaran yang terstruktur, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk memahami konsep teknologi, menganalisis permasalahan, mengembangkan sistem, serta mengasah kemampuan coding melalui proses pembelajaran yang lebih terarah.

Jika kamu ingin mulai membangun fondasi tersebut melalui Program Studi S1 Sistem Informasi di Ma’soem University, informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi Admin Ma’soem University di +62 851 8563 4253.

Jangan Hanya Membuat Kode yang Bisa Jalan

Pada akhirnya, kode yang baik bukan sekadar kode yang menghasilkan output sesuai keinginan. Kode yang baik juga perlu dipikirkan untuk digunakan, diperbaiki, dan dikembangkan dalam jangka panjang.

Coba bayangkan kamu membuat sebuah aplikasi hari ini. Enam bulan kemudian, kamu diminta menambahkan fitur baru. Jika kamu masih dapat memahami struktur program tanpa harus membaca ulang seluruh kode dari awal, berarti kamu sudah berada di jalur yang tepat.

Jadi, ketika menulis kode, jangan berhenti pada pertanyaan “Apakah program ini berhasil?”

Tambahkan satu pertanyaan lagi:

“Apakah program ini akan tetap mudah dipahami dan dikembangkan nanti?”

Dari pertanyaan sederhana tersebut, cara seseorang belajar coding dapat berubah. Bukan lagi sekadar mengejar program agar berhasil dijalankan, tetapi belajar menciptakan solusi teknologi yang efisien, terstruktur, dan siap menghadapi kebutuhan yang terus berubah.