Pernah nggak kamu membayangkan bagaimana jadinya aktivitas sehari-hari tanpa smartphone, internet, atau aplikasi digital? Bangun tidur, mungkin hal pertama yang dilakukan adalah mengecek notifikasi. Mau membeli makanan? Tinggal buka aplikasi. Ingin bekerja dari rumah? Rapat bisa dilakukan secara online. Bahkan untuk mengirim dokumen yang dahulu membutuhkan waktu cukup lama, sekarang cukup beberapa klik.
Teknologi bukan lagi sesuatu yang hanya digunakan oleh perusahaan besar atau orang-orang yang bekerja di bidang IT. Kehadirannya sudah masuk ke berbagai aktivitas sederhana, mulai dari rumah, sekolah, kampus, tempat usaha, hingga lingkungan kerja. Tanpa disadari, cara manusia berkomunikasi, bekerja, berbelanja, belajar, bahkan mengambil keputusan ikut berubah mengikuti kebiasaan digital.
Dari Rumah, Banyak Hal Jadi Serba Praktis
Coba lihat aktivitas di rumah. Dulu, mencari informasi biasanya dilakukan melalui buku, koran, atau bertanya kepada orang lain. Sekarang, mesin pencari dan berbagai platform digital membuat informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Begitu juga dengan kebutuhan sehari-hari. Masyarakat dapat:
- Memesan makanan tanpa harus keluar rumah.
- Membayar tagihan melalui aplikasi.
- Berbelanja kebutuhan rumah secara online.
- Mengikuti kelas atau seminar secara virtual.
- Menggunakan perangkat pintar untuk membantu aktivitas rumah.
Kemudahan tersebut membuat banyak aktivitas menjadi lebih cepat dan fleksibel. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: semakin banyak teknologi digunakan, semakin penting pula kemampuan untuk menggunakannya dengan tepat.
Masuk ke Dunia Kerja, Cara Bekerja Ikut Berubah
Perubahan tersebut semakin terasa ketika teknologi masuk ke lingkungan kerja. Komunikasi yang dahulu mengandalkan pertemuan langsung kini dapat dilakukan melalui video conference, aplikasi pesan instan, maupun platform kolaborasi.
Dokumen pekerjaan pun tidak harus selalu dicetak. Tim yang berada di lokasi berbeda tetap dapat mengerjakan satu file secara bersamaan. Data penjualan dapat dipantau secara digital, sementara laporan dapat dibuat berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari berbagai platform.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai memanfaatkan teknologi untuk memahami perilaku konsumen. Data dari media sosial, marketplace, dan website dapat menjadi bahan pertimbangan ketika menentukan strategi bisnis. Artinya, teknologi tidak hanya membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Teknologi juga ikut memengaruhi cara sebuah bisnis mengambil keputusan.
Ketika Kemudahan Justru Menjadi Tantangan
Namun, apakah semua perubahan tersebut selalu memberikan dampak positif? Belum tentu. Penggunaan teknologi yang semakin luas juga menghadirkan berbagai persoalan. Tidak semua orang memiliki kemampuan digital yang sama. Ada yang terbiasa menggunakan berbagai aplikasi, tetapi ada pula yang masih kesulitan memahami sistem digital.
Selain itu, terlalu bergantung pada teknologi dapat menimbulkan masalah baru, seperti:
- Kesulitan beradaptasi ketika muncul platform atau sistem baru.
- Kurangnya kemampuan menganalisis informasi digital.
- Risiko keamanan data dan privasi.
- Kebiasaan bekerja tanpa memahami alasan di balik penggunaan teknologi.
- Persaingan kerja yang semakin membutuhkan keterampilan digital.
Jadi, persoalannya bukan lagi sekadar “apakah kita menggunakan teknologi?”, tetapi “apakah kita benar-benar memahami cara memanfaatkannya?”
Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Aplikasi
Bayangkan ada seseorang yang mampu menggunakan media sosial setiap hari, tetapi belum memahami bagaimana data konsumen dapat digunakan untuk menentukan strategi pemasaran. Ada pula orang yang bisa membuka marketplace, tetapi belum mengetahui bagaimana sebuah bisnis membangun pengalaman pelanggan secara digital.
Di sinilah keterampilan digital yang lebih mendalam menjadi penting. Bagi kamu yang tertarik memahami bagaimana teknologi digunakan dalam aktivitas bisnis, pemasaran, pengelolaan data, hingga membangun strategi di era digital, mempelajari bidang Bisnis Digital dapat menjadi salah satu pilihan.
Kalau ingin bertanya lebih lanjut mengenai program pendidikan yang tersedia, kamu bisa menghubungi Admin Ma’soem University di +62 851 8563 4253.
Lalu, Harus Mulai Belajar dari Mana?
Solusinya bukan berarti harus langsung menjadi programmer atau ahli teknologi. Yang lebih penting adalah memahami hubungan antara teknologi, manusia, dan kebutuhan bisnis.
Kamu bisa mulai dengan mengenali beberapa kemampuan berikut:
- Digital marketing, untuk memahami bagaimana bisnis menjangkau konsumen melalui berbagai kanal digital.
- Analisis data, agar keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan.
- Manajemen bisnis digital, untuk memahami bagaimana teknologi dapat mendukung proses bisnis.
- Pemanfaatan platform digital, supaya berbagai tools tidak hanya digunakan, tetapi benar-benar memberikan hasil.
- Kemampuan beradaptasi, karena teknologi akan terus menghadirkan cara baru dalam menyelesaikan pekerjaan.
Belajar Teknologi Sekaligus Memahami Bisnis
Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari dunia bisnis dalam lingkungan yang semakin terdigitalisasi. Bidang ini menarik karena tidak hanya membahas penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk pemasaran, pengelolaan bisnis, strategi, dan penciptaan peluang usaha. Dengan mempelajarinya secara lebih terarah, mahasiswa dapat membangun pemahaman yang menghubungkan kebutuhan bisnis dengan pemanfaatan teknologi digital.
Dari Pengguna Teknologi Menjadi Orang yang Memahami Teknologi
Pada akhirnya, teknologi sudah menjadi bagian dari rutinitas manusia, bahkan sering kali digunakan tanpa kita sadari. Dari alarm di pagi hari, transaksi digital, komunikasi dengan teman, aktivitas kuliah, sampai pekerjaan kantor, semuanya dapat bersinggungan dengan teknologi.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “seberapa sering kita menggunakan teknologi?”, tetapi “seberapa jauh kita memahami peluang yang bisa diciptakan dari teknologi tersebut?”
Kalau selama ini kamu hanya menjadi pengguna berbagai aplikasi, mungkin sudah waktunya naik satu tingkat: belajar memahami bagaimana teknologi dapat menciptakan nilai, menyelesaikan masalah, dan membuka peluang baru. Salah satu langkahnya bisa dimulai dengan menempuh pendidikan di bidang yang menggabungkan teknologi dan bisnis.




