Mengajak anak memasak bukan hanya tentang membuat makanan bersama di dapur. Aktivitas sederhana ini dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan berbagai kemampuan belajar melalui kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat memasak, anak bisa belajar mengikuti instruksi, mengenal angka, memahami urutan kegiatan, berkomunikasi, hingga melatih ketelitian. Karena dilakukan melalui praktik langsung, proses belajar terasa lebih alami dan tidak selalu seperti sedang mengikuti kegiatan belajar formal.
Memasak Bisa Menjadi Aktivitas Belajar yang Menyenangkan
Anak umumnya lebih mudah tertarik pada aktivitas yang melibatkan mereka secara langsung. Memasak memiliki banyak tahapan yang bisa disesuaikan dengan usia anak, mulai dari mencuci bahan, mengambil bahan sesuai jumlah, mengaduk adonan, sampai menghias makanan.
Orang tua dapat memberikan tugas sederhana sesuai kemampuan anak. Anak yang masih kecil, misalnya, bisa diminta memasukkan bahan ke wadah atau menghitung jumlah telur. Anak yang lebih besar dapat membantu membaca resep, menimbang bahan, atau mengikuti langkah memasak secara berurutan.
Aktivitas tersebut membuat anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba menerapkannya. Pengalaman langsung seperti ini dapat membantu mereka memahami bahwa pengetahuan yang dipelajari memiliki kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melatih Kemampuan Mengikuti Instruksi
Resep makanan pada dasarnya berisi serangkaian instruksi. Anak perlu memahami apa yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Orang tua bisa meminta anak membaca atau mendengarkan langkah sederhana seperti:
- Ambil dua butir telur.
- Masukkan tepung ke dalam mangkuk.
- Aduk bahan sampai tercampur.
- Tuangkan adonan ke dalam cetakan.
Kegiatan tersebut membantu melatih kemampuan menyimak dan memahami instruksi. Anak juga belajar bahwa urutan pekerjaan dapat memengaruhi hasil akhir.
Kemampuan mengikuti instruksi akan berguna dalam berbagai kegiatan belajar, termasuk ketika anak mengerjakan tugas sekolah, melakukan eksperimen sederhana, maupun mengikuti arahan guru.
Mengenalkan Matematika Lewat Takaran dan Hitungan
Dapur juga dapat menjadi tempat yang menarik untuk mengenalkan konsep matematika. Takaran bahan, jumlah potongan, waktu memasak, hingga pembagian makanan semuanya dapat menjadi bahan pembelajaran.
Anak bisa diajak menghitung berapa sendok tepung yang diperlukan atau berapa menit makanan harus dipanggang. Orang tua juga dapat memberikan pertanyaan sederhana, seperti berapa banyak kue yang diperoleh jika satu adonan dipotong menjadi beberapa bagian.
Bagi anak yang lebih besar, kegiatan memasak dapat digunakan untuk mengenalkan pecahan, perbandingan, konversi ukuran, dan perkiraan waktu. Konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami ketika anak melihat langsung penggunaannya.
Mengembangkan Kemampuan Bahasa
Memasak juga dapat membantu memperkaya kosakata anak. Ada banyak kata baru yang dapat dikenalkan, mulai dari nama bahan makanan, peralatan dapur, hingga istilah dalam proses memasak.
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi selama kegiatan berlangsung. Misalnya, tanyakan mengapa adonan perlu diaduk atau bagaimana perubahan warna makanan setelah dimasak.
Kegiatan percakapan tersebut dapat mendorong anak untuk menyampaikan pendapat, menjelaskan sesuatu, dan mengajukan pertanyaan. Bagi anak yang sedang belajar bahasa asing, resep sederhana juga bisa menjadi media untuk mengenalkan kosakata bahasa Inggris yang berkaitan dengan makanan dan aktivitas di dapur.
Melatih Konsentrasi dan Ketelitian
Memasak membutuhkan perhatian terhadap beberapa hal sekaligus. Anak perlu memperhatikan jumlah bahan, urutan langkah, serta perubahan pada makanan selama proses berlangsung.
Kegiatan seperti menakar bahan atau menghias makanan dapat melatih ketelitian. Anak belajar bahwa kesalahan kecil, seperti memasukkan terlalu banyak bahan atau melewatkan salah satu langkah, dapat memengaruhi hasil.
Meski begitu, orang tua tidak perlu menuntut hasil sempurna. Kesalahan justru dapat menjadi bagian dari proses belajar. Anak bisa diajak mencari tahu apa yang menyebabkan hasil masakan berbeda dan bagaimana memperbaikinya pada percobaan berikutnya.
Mendorong Anak Memecahkan Masalah
Tidak semua proses memasak berjalan sesuai rencana. Adonan bisa terlalu cair, bahan tertentu mungkin habis, atau hasil masakan tidak sesuai perkiraan.
Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan memecahkan masalah. Alih-alih langsung memberikan jawaban, orang tua dapat mengajak anak berpikir melalui pertanyaan.
Contohnya, “Kalau adonannya terlalu cair, kira-kira apa yang bisa dilakukan?” atau “Kalau kita tidak punya bahan ini, apakah ada bahan lain yang bisa digunakan?”
Pertanyaan sederhana seperti itu mendorong anak mempertimbangkan pilihan dan memahami hubungan antara sebab dan akibat.
Mengajarkan Kemandirian dan Tanggung Jawab
Mengajak anak memasak juga dapat menjadi latihan kemandirian. Anak bisa diberikan tanggung jawab kecil, seperti menyiapkan bahan, merapikan meja, atau mencuci peralatan yang aman untuk mereka gunakan.
Tugas tersebut mengajarkan bahwa setiap kegiatan memiliki tanggung jawab yang perlu diselesaikan. Anak juga dapat belajar menjaga kebersihan dan memahami pentingnya bekerja secara teratur.
Pembagian tugas di dapur sekaligus dapat menjadi aktivitas yang memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak. Orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya menilai hasil makanan yang dibuat.
Sesuaikan Aktivitas Memasak dengan Usia Anak
Agar kegiatan tetap aman dan menyenangkan, jenis tugas perlu disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Beberapa contoh aktivitas yang dapat diberikan antara lain:
- Usia dini: mencuci buah, mengaduk bahan, menuangkan bahan yang ringan, atau mengenal warna dan bentuk makanan.
- Usia sekolah dasar: membaca resep sederhana, menghitung bahan, menimbang, mengukur, dan membantu menyiapkan makanan.
- Anak yang lebih besar: mengikuti resep lebih kompleks, membuat perencanaan bahan, menghitung kebutuhan porsi, serta mengevaluasi hasil masakan.
Penggunaan kompor, pisau, oven, dan peralatan panas tetap membutuhkan pengawasan orang dewasa. Keselamatan sebaiknya menjadi prioritas agar kegiatan belajar tidak berubah menjadi pengalaman yang berisiko.
Keterampilan Belajar Berawal dari Aktivitas Sehari-hari
Kemampuan belajar anak tidak hanya berkembang melalui buku dan tugas sekolah. Aktivitas sehari-hari seperti memasak dapat memberikan pengalaman yang melatih berbagai keterampilan sekaligus.
Anak dapat belajar membaca instruksi, berhitung, berkomunikasi, berkonsentrasi, memecahkan masalah, serta bertanggung jawab. Orang tua pun dapat menjadikan kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk mengamati minat dan cara anak belajar.
Pendekatan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari juga relevan bagi dunia pendidikan. Bagi calon pendidik, memahami bagaimana anak belajar melalui aktivitas praktis menjadi bagian penting dalam mengembangkan cara pendampingan yang sesuai kebutuhan mereka.
Salah satu pilihan pendidikan tinggi yang relevan bagi calon pendidik adalah Ma’soem University. Kampus swasta ini memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini menyediakan dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.
Program BK berkaitan dengan pendampingan perkembangan individu, sedangkan Pendidikan Bahasa Inggris membekali mahasiswa pada bidang pendidikan bahasa. Keduanya dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan dan perkembangan peserta didik.
Informasi Ma’soem University:
- No. WhatsApp: 085185634253
- Instagram: @masoem_university
- Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




