Gunung Meletus, Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Aktivitas Belajar? Ini yang Perlu Diketahui

Gunung meletus tidak hanya menimbulkan dampak di sekitar kawasan gunung api. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat menyebar ke wilayah yang cukup jauh dan memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar di sekolah maupun perguruan tinggi.

Kondisi udara, jarak pandang, akses menuju lokasi pendidikan, hingga kesehatan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika terjadi erupsi. Karena itu, kegiatan belajar terkadang perlu disesuaikan berdasarkan kondisi lingkungan dan arahan dari pihak berwenang.

Mengapa Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Aktivitas Belajar?

Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat kecil yang berasal dari material letusan gunung api. Partikel tersebut dapat terbawa angin dan masuk ke berbagai ruang terbuka maupun bangunan.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang, membuat jalan licin, mengganggu kendaraan, serta menyebabkan gangguan pada berbagai fasilitas dan sistem transportasi. Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat menghambat mobilitas siswa, mahasiswa, guru, dosen, maupun tenaga kependidikan.

Di lingkungan pendidikan, gangguan tersebut bisa terlihat dalam beberapa bentuk, seperti:

  • perjalanan menuju sekolah atau kampus menjadi lebih sulit;
  • kegiatan luar ruangan harus dihentikan sementara;
  • ruang kelas perlu ditutup untuk mengurangi masuknya abu;
  • jadwal pembelajaran dapat berubah;
  • kegiatan praktikum atau kegiatan lapangan mungkin perlu ditunda;
  • akses internet, listrik, atau fasilitas tertentu dapat terganggu apabila infrastruktur terdampak.

Artinya, dampak erupsi terhadap pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kondisi di dalam kelas, tetapi juga kesiapan lingkungan sekitar.

Dampak Abu Vulkanik terhadap Kesehatan Pelajar dan Mahasiswa

Kesehatan menjadi pertimbangan utama ketika abu vulkanik berada di udara. Partikel abu dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. CDC menyebutkan bahwa paparan abu vulkanik dapat berdampak pada kesehatan, sementara anak-anak dan orang yang memiliki gangguan pernapasan termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami masalah akibat paparan tersebut.

Ketika konsentrasi abu cukup tinggi, seseorang dapat mengalami mata terasa perih, batuk, iritasi tenggorokan, atau kesulitan bernapas. Aktivitas fisik di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi karena bernapas lebih berat saat beraktivitas dapat membuat lebih banyak partikel masuk ke saluran pernapasan.

Situasi tersebut tentu dapat memengaruhi konsentrasi belajar. Siswa atau mahasiswa yang merasa tidak nyaman akibat udara berdebu akan lebih sulit mengikuti pembelajaran secara optimal.

Perjalanan ke Sekolah dan Kampus Juga Bisa Terkendala

Salah satu dampak erupsi yang sering luput diperhatikan adalah perjalanan menuju tempat belajar. Abu vulkanik yang menutupi jalan dapat mengurangi daya cengkeram kendaraan dan jarak pandang pengemudi.

USGS menjelaskan bahwa abu di jalan dapat membuat permukaan menjadi licin, sementara kendaraan yang melintas juga dapat mengangkat kembali abu ke udara. Pada kondisi tertentu, jarak pandang dapat turun secara signifikan.

Bagi pelajar dan mahasiswa yang harus bepergian menggunakan sepeda motor, mobil, angkutan umum, atau berjalan kaki, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan. Jika wilayah terdampak cukup berat, mengikuti arahan pemerintah atau pihak berwenang untuk membatasi perjalanan dapat menjadi langkah yang lebih aman.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah dan Kampus?

Institusi pendidikan perlu memiliki langkah yang fleksibel ketika terjadi erupsi. Keputusan untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, mengubah jadwal, atau menggunakan pembelajaran jarak jauh perlu mempertimbangkan kondisi aktual di wilayah tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memantau informasi resmi
    Sekolah dan kampus perlu mengikuti informasi dari lembaga berwenang mengenai aktivitas gunung api, arah sebaran abu, kondisi udara, dan rekomendasi keselamatan.
  2. Mengurangi kegiatan luar ruangan
    Aktivitas olahraga, praktikum lapangan, kegiatan organisasi di luar ruangan, atau aktivitas lain yang meningkatkan paparan abu dapat ditunda ketika kondisi tidak memungkinkan.
  3. Menjaga ruang belajar tetap terlindungi
    Pintu dan jendela dapat ditutup ketika abu sedang turun agar partikel tidak mudah masuk ke ruangan. USGS juga merekomendasikan membatasi masuknya abu ke dalam bangunan.
  4. Menyiapkan alternatif pembelajaran
    Jika perjalanan menuju sekolah atau kampus berisiko, pembelajaran daring dapat menjadi salah satu alternatif, selama kondisi dan fasilitas memungkinkan.
  5. Memperhatikan kondisi peserta didik
    Peserta didik yang mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu sebaiknya tidak dipaksakan mengikuti aktivitas fisik atau kegiatan luar ruangan.

Bagaimana Mahasiswa Tetap Bisa Belajar Saat Kondisi Tidak Ideal?

Gangguan akibat erupsi tidak selalu berarti kegiatan akademik harus berhenti sepenuhnya. Ketika kondisi memungkinkan, mahasiswa tetap dapat mengikuti pembelajaran melalui berbagai metode yang tersedia.

Perkuliahan daring, materi digital, diskusi melalui platform pembelajaran, serta komunikasi dengan dosen dapat membantu menjaga proses akademik tetap berjalan. Namun, penerapan metode tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi jaringan, listrik, perangkat, serta kebijakan perguruan tinggi.

Fleksibilitas pembelajaran menjadi semakin penting ketika mahasiswa berada di daerah yang memiliki potensi bencana alam. Perguruan tinggi yang mampu menyesuaikan proses akademik secara terukur dapat membantu mahasiswa tetap memperoleh akses pendidikan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Ketahanan Pendidikan

Kondisi bencana juga menunjukkan pentingnya perguruan tinggi dalam membangun kesiapan mahasiswa menghadapi situasi tidak terduga. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memahami kondisi sosial di lingkungan sekitar.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang relevan dengan bidang pendidikan adalah Ma’soem University. Kampus ini memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berfokus pada pengembangan calon pendidik dan konselor.

FKIP Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling memiliki keterkaitan dengan pengembangan kemampuan mahasiswa dalam memahami persoalan peserta didik, termasuk aspek pribadi, sosial, akademik, dan pengembangan diri. Kompetensi tersebut relevan ketika dunia pendidikan menghadapi situasi yang membutuhkan pendampingan dan penyesuaian proses belajar.

Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada pembentukan kompetensi calon pendidik bahasa Inggris, termasuk kemampuan pedagogik dan praktik pengajaran. Kedua program studi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada bidang kependidikan, memahami kondisi nyata dunia pendidikan, termasuk tantangan ketika terjadi bencana seperti erupsi gunung api, dapat menjadi bagian dari kesiapan untuk berkontribusi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Abu Vulkanik Turun

Ketika abu mulai turun di wilayah tempat tinggal atau lingkungan pendidikan, keselamatan perlu ditempatkan sebagai prioritas. CDC merekomendasikan untuk tetap berada di dalam ruangan jika memungkinkan, menutup pintu dan jendela, melindungi mata, serta menggunakan respirator yang sesuai ketika harus berada di luar atau melakukan pembersihan abu.

Mahasiswa dan pelajar juga sebaiknya tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi jalan, jarak pandang, atau kualitas udara dinilai tidak aman. Informasi mengenai aktivitas gunung api dan keputusan terkait kegiatan pendidikan sebaiknya mengikuti arahan otoritas yang berwenang.

Untuk informasi mengenai Ma’soem University:

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com