Sekolah yang berada di sekitar kawasan gunung api memiliki tantangan yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu sehingga siswa, guru, dan seluruh warga sekolah perlu memahami langkah keselamatan sebelum kondisi darurat terjadi. Persiapan bukan hanya soal mengetahui jalur evakuasi, tetapi juga membangun kebiasaan tanggap bencana dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Lingkungan sekolah yang dekat gunung api tetap dapat menjadi tempat belajar yang aman jika memiliki perencanaan kebencanaan yang jelas. Kesiapan tersebut perlu melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga pihak terkait di lingkungan sekitar sekolah.
Mengapa Sekolah Dekat Gunung Api Perlu Persiapan Khusus?
Gunung api dapat menimbulkan berbagai ancaman, mulai dari abu vulkanik, lontaran material, awan panas, lava, hingga lahar yang dapat mengalir mengikuti sungai. Dampaknya terhadap sekolah tentu berbeda berdasarkan jarak, kondisi geografis, dan karakteristik gunung api di wilayah tersebut.
Abu vulkanik, misalnya, dapat mengganggu jarak pandang dan pernapasan serta membuat permukaan menjadi licin. Sementara itu, hujan lebat setelah erupsi dapat meningkatkan risiko lahar di daerah yang berada dekat aliran sungai.
Karena itu, sekolah perlu memiliki pemahaman mengenai tingkat risiko di wilayahnya. Informasi dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta lembaga pemantauan gunung api dapat menjadi rujukan dalam menentukan tindakan yang tepat.
Hal yang Perlu Disiapkan Siswa
Siswa tidak harus menjadi ahli kebencanaan untuk dapat bersikap siap. Hal terpenting adalah memahami instruksi keselamatan dan tidak panik ketika terjadi kondisi darurat.
Beberapa kebiasaan yang perlu dimiliki siswa antara lain:
- Mengetahui lokasi titik kumpul dan jalur evakuasi sekolah.
- Mengikuti simulasi evakuasi secara serius.
- Memahami instruksi guru dan petugas ketika terjadi keadaan darurat.
- Menggunakan masker atau pelindung pernapasan sesuai arahan ketika terjadi hujan abu.
- Menjaga barang pribadi tetap sederhana agar tidak menghambat proses evakuasi.
- Mengetahui kontak darurat yang dapat dihubungi.
- Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi melalui media sosial.
- Membantu teman yang membutuhkan bantuan sesuai kemampuan tanpa membahayakan diri sendiri.
Siswa juga perlu memahami bahwa evakuasi bukan waktu untuk mengambil barang atau mendokumentasikan keadaan. Keselamatan diri dan mengikuti arahan petugas harus menjadi prioritas.
Guru Perlu Memiliki Rencana Darurat yang Jelas
Guru memiliki peran penting karena berada langsung bersama siswa selama kegiatan belajar berlangsung. Ketika kondisi darurat terjadi, guru perlu mampu memberikan instruksi secara tenang dan terarah.
Rencana sekolah sebaiknya mencakup pembagian tugas yang jelas. Misalnya, ada pihak yang bertanggung jawab mendampingi siswa, melakukan pendataan, membawa informasi penting, menghubungi orang tua, serta berkoordinasi dengan pihak berwenang.
Guru juga perlu mengetahui karakter siswa di kelasnya, termasuk siswa yang mungkin membutuhkan pendampingan lebih saat proses evakuasi. Pendekatan tersebut membuat prosedur keselamatan tidak berhenti sebagai aturan tertulis, tetapi benar-benar dapat diterapkan.
Simulasi Evakuasi Perlu Dilakukan Secara Berkala
Simulasi membantu siswa dan guru mengingat apa yang harus dilakukan ketika situasi sebenarnya terjadi. Latihan sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali karena prosedur dapat terlupakan jika jarang dipraktikkan.
Dalam simulasi, sekolah dapat melatih beberapa skenario, seperti peringatan erupsi saat proses pembelajaran, hujan abu ketika siswa berada di luar kelas, atau perintah evakuasi saat jam istirahat.
Setelah latihan, sekolah dapat mengevaluasi beberapa hal:
- Apakah semua warga sekolah memahami jalur evakuasi?
- Apakah titik kumpul mudah dijangkau?
- Apakah pendataan siswa berjalan cepat?
- Apakah terdapat hambatan bagi siswa atau guru yang membutuhkan bantuan khusus?
- Apakah komunikasi antara sekolah, orang tua, dan pihak terkait sudah jelas?
Evaluasi tersebut penting agar sekolah dapat memperbaiki prosedur sebelum menghadapi keadaan darurat yang sebenarnya.
Perlengkapan Darurat yang Perlu Tersedia di Sekolah
Sekolah di kawasan rawan bencana perlu memiliki perlengkapan dasar yang mudah ditemukan dan diperiksa secara berkala. Isi perlengkapan dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan arahan pihak berwenang.
Beberapa perlengkapan yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Kotak pertolongan pertama.
- Masker untuk menghadapi paparan abu vulkanik.
- Air minum dan kebutuhan dasar.
- Senter serta baterai cadangan.
- Alat komunikasi darurat.
- Daftar kontak penting.
- Salinan data siswa dan tenaga pendidik yang diperlukan untuk proses pendataan.
- Penanda jalur evakuasi dan titik kumpul.
Perlengkapan tersebut perlu ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau, tetapi tetap aman. Pemeriksaan berkala juga diperlukan agar barang yang rusak atau kedaluwarsa dapat segera diganti.
Pentingnya Literasi Kebencanaan dalam Pendidikan
Kesiapsiagaan menghadapi gunung api tidak harus selalu diberikan melalui pelajaran khusus. Materinya dapat diintegrasikan secara natural ke dalam kegiatan pendidikan.
Guru dapat mengajak siswa memahami kondisi lingkungan melalui tugas observasi, diskusi, presentasi, atau proyek sekolah. Pembelajaran seperti ini membantu siswa memahami bahwa kondisi geografis tempat tinggal memiliki hubungan dengan keselamatan dan kehidupan sehari-hari.
Kemampuan komunikasi juga menjadi bagian penting dalam situasi bencana. Siswa perlu mampu menerima informasi, memahami instruksi, serta menyampaikan informasi secara tepat. Guru dapat melatih keterampilan tersebut melalui kegiatan pembelajaran yang relevan.
Peran Pendidikan Tinggi dalam Mendukung Kesiapan SDM
Kesiapsiagaan bencana juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang memahami pendidikan, komunikasi, pendampingan, dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan calon tenaga profesional maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Ma’soem University menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang relevan untuk dikaitkan dengan pengembangan sumber daya manusia di bidang pendidikan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.
Bidang Bimbingan dan Konseling memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pendampingan siswa, termasuk dalam membangun kesiapan psikologis dan kemampuan beradaptasi ketika menghadapi kondisi sulit. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris dapat mendukung pengembangan kompetensi komunikasi calon pendidik yang nantinya berhadapan dengan beragam kebutuhan pembelajaran.
Peran perguruan tinggi tentu tidak menggantikan fungsi lembaga kebencanaan atau sekolah. Namun, pendidikan tinggi dapat menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong peningkatan kapasitas guru, calon pendidik, dan masyarakat melalui pendidikan serta kegiatan akademik yang relevan.
Komunikasi Sekolah dan Orang Tua Harus Disiapkan
Saat terjadi peningkatan aktivitas gunung api, informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan. Sekolah sebaiknya memiliki mekanisme komunikasi yang sudah disepakati sebelum keadaan darurat.
Orang tua perlu mengetahui siapa pihak sekolah yang menjadi sumber informasi resmi, bagaimana prosedur penjemputan siswa, serta apa yang harus dilakukan jika akses menuju sekolah terganggu.
Sekolah juga perlu menghindari penyebaran informasi yang belum terkonfirmasi. Mengacu pada sumber resmi dapat membantu mencegah kepanikan dan informasi keliru yang berpotensi menghambat proses evakuasi.
Kontak Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




