TikTok menjadi salah satu platform yang dekat dengan keseharian anak dan remaja. Beragam video singkat menghadirkan gaya bicara, istilah populer, singkatan, hingga ungkapan yang kemudian mudah ditiru dalam percakapan sehari-hari. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan bagi orang tua dan pendidik: apakah kebiasaan anak meniru bahasa dari TikTok dapat memengaruhi kemampuan berbahasa?
Jawabannya tidak sesederhana baik atau buruk. Bahasa yang didengar anak dari media sosial dapat menjadi bagian dari proses belajar bahasa, tetapi dampaknya sangat bergantung pada jenis bahasa yang ditiru, frekuensi penggunaan, usia anak, serta lingkungan komunikasi di sekitarnya.
Mengapa Anak Mudah Meniru Bahasa dari TikTok?
Anak pada dasarnya belajar bahasa melalui proses mendengar, meniru, dan menggunakan kata dalam interaksi. TikTok menyediakan paparan bahasa dalam jumlah besar melalui video yang singkat dan berulang. Ketika sebuah ungkapan sering muncul di berbagai video, anak semakin mudah mengingat dan menggunakannya.
Format video TikTok juga membuat bahasa terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak tidak hanya mendengar kata, tetapi melihat ekspresi wajah, intonasi, konteks percakapan, dan respons orang lain. Semua unsur tersebut dapat membantu anak memahami bagaimana sebuah ungkapan digunakan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Anak sejak dulu meniru bahasa dari orang tua, teman, televisi, lingkungan sekolah, dan tokoh yang mereka kagumi. Perbedaannya, media sosial membuat paparan bahasa berlangsung lebih cepat dan luas.
Dampak Positif Meniru Bahasa dari Media Sosial
Tidak semua bahasa yang ditiru dari TikTok memberikan pengaruh negatif. Jika konten yang dikonsumsi berkualitas, media sosial bahkan dapat menjadi sumber tambahan untuk memperkaya kosakata dan kemampuan komunikasi.
Beberapa manfaat yang mungkin muncul antara lain:
- Menambah kosakata, terutama istilah baru yang digunakan dalam konteks tertentu.
- Mengenalkan variasi bahasa, seperti bahasa formal, informal, bahasa daerah, atau bahasa asing.
- Meningkatkan keberanian berkomunikasi, terutama ketika anak mengikuti tren atau membuat konten sendiri.
- Memahami konteks penggunaan bahasa, termasuk intonasi, ekspresi, dan gaya komunikasi.
- Mendorong ketertarikan terhadap bahasa asing, misalnya ketika anak sering menemukan konten berbahasa Inggris.
Dalam kondisi tertentu, paparan bahasa dari media sosial dapat menjadi pemicu anak untuk mencari tahu arti kata, mencoba menggunakannya, bahkan mempelajari bahasa secara lebih serius.
Risiko Jika Anak Hanya Terpapar Bahasa Informal
Masalah dapat muncul ketika bahasa dari TikTok menjadi sumber utama yang digunakan anak untuk belajar berkomunikasi. Media sosial memiliki karakter bahasa yang sangat beragam. Tidak semua istilah, singkatan, atau gaya bicara cocok digunakan dalam setiap situasi.
Anak yang terlalu terbiasa menggunakan bahasa slang mungkin mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dalam situasi formal. Misalnya, anak perlu membedakan cara berbicara kepada teman sebaya dengan cara menyampaikan pendapat kepada guru, orang tua, atau dalam kegiatan akademik.
Penggunaan bahasa yang tidak sesuai konteks juga dapat memengaruhi kemampuan menulis. Bahasa percakapan di media sosial sering menggunakan singkatan, pemendekan kata, atau struktur kalimat yang tidak mengikuti kaidah bahasa baku.
Hal tersebut bukan berarti bahasa informal harus dilarang. Bahasa informal tetap memiliki fungsi dalam komunikasi. Anak justru perlu memahami kapan, kepada siapa, dan dalam situasi apa sebuah gaya bahasa dapat digunakan.
Apakah TikTok Bisa Menghambat Kemampuan Berbahasa Anak?
TikTok tidak secara otomatis menyebabkan kemampuan berbahasa anak menjadi buruk. Faktor yang lebih penting adalah keseimbangan antara paparan bahasa digital dan interaksi langsung.
Kemampuan berbahasa berkembang melalui berbagai pengalaman. Anak membutuhkan kesempatan untuk berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, berdiskusi, dan mendapatkan koreksi ketika menggunakan bahasa. Jika sebagian besar pengalaman tersebut hanya berasal dari video pendek, kemampuan bahasa anak berisiko berkembang secara kurang seimbang.
Konten video juga cenderung menggunakan bahasa yang ringkas agar mudah dipahami dan menarik perhatian. Sementara itu, kemampuan akademik membutuhkan keterampilan memahami gagasan yang lebih kompleks, menyusun argumen, serta menjelaskan sesuatu secara runtut.
Karena itu, penggunaan TikTok sebaiknya tidak menggantikan aktivitas membaca buku, berdiskusi bersama keluarga, belajar di sekolah, dan berinteraksi secara langsung.
Peran Orang Tua dalam Mengarahkan Bahasa Anak
Orang tua tidak harus melarang setiap kata yang diperoleh anak dari TikTok. Pendekatan yang lebih efektif adalah membantu anak memahami perbedaan antara bahasa informal dan bahasa formal.
Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
- Menanyakan arti istilah yang sering digunakan anak. Cara ini membantu mengetahui apakah anak memahami kata yang ditirunya.
- Mengajak anak berdiskusi. Percakapan rutin memberikan kesempatan bagi anak untuk menggunakan kosakata secara lebih beragam.
- Mengenalkan bacaan yang sesuai usia. Membaca membantu anak menemukan struktur kalimat dan kosakata yang tidak selalu muncul dalam percakapan digital.
- Memberikan contoh bahasa yang baik. Anak cenderung belajar dari cara orang di sekitarnya berbicara.
- Menjelaskan konteks penggunaan kata. Anak perlu mengetahui bahwa sebuah istilah mungkin cocok digunakan bersama teman, tetapi kurang tepat dalam situasi resmi.
Pendekatan seperti ini membuat anak tidak hanya menghafal kata, tetapi memahami fungsi bahasa.
Pendidik Perlu Memahami Perubahan Bahasa di Era Digital
Perubahan gaya bahasa akibat media sosial juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Guru perlu memahami istilah yang populer di kalangan siswa tanpa harus mengikuti seluruh tren yang berkembang. Pemahaman tersebut dapat membantu guru berkomunikasi secara lebih efektif sekaligus mengajarkan kemampuan memilih bahasa sesuai konteks.
Pendidikan bahasa pada era digital tidak cukup hanya mengajarkan aturan tata bahasa. Peserta didik juga perlu memahami literasi digital, etika komunikasi, kemampuan berpikir kritis, serta cara menyampaikan gagasan melalui berbagai media.
Topik seperti perubahan bahasa akibat media sosial juga relevan bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan dan komunikasi. Di Ma’soem University, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keduanya memiliki keterkaitan dengan pengembangan peserta didik dan kemampuan komunikasi dalam lingkungan pendidikan.
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dapat menjadi pilihan bagi calon pendidik yang ingin mendalami kemampuan bahasa dan pengajaran, sedangkan Bimbingan dan Konseling berfokus pada kemampuan membantu perkembangan peserta didik dari aspek pendidikan, pribadi, sosial, dan karier.
Pemahaman mengenai kebiasaan komunikasi generasi digital menjadi salah satu bekal yang relevan bagi calon pendidik. Guru maupun konselor nantinya berhadapan dengan peserta didik yang tumbuh di tengah berbagai sumber informasi dan gaya komunikasi digital.
Membantu Anak Menggunakan Bahasa Sesuai Situasi
Meniru bahasa dari TikTok merupakan bagian dari dinamika perkembangan bahasa di era media sosial. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah anak menggunakan istilah populer, tetapi apakah ia mampu menyesuaikan bahasa berdasarkan situasi.
Anak tetap dapat menggunakan bahasa gaul ketika berbicara dengan teman sebaya, selama memahami batas dan konteksnya. Pada saat yang sama, anak perlu memiliki kemampuan menggunakan bahasa yang lebih terstruktur ketika membuat tugas sekolah, berbicara di depan kelas, berdiskusi dengan guru, atau memasuki lingkungan akademik dan profesional.
Keseimbangan antara konsumsi konten digital, interaksi langsung, membaca, dan aktivitas belajar menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan berbahasa. TikTok dapat menjadi salah satu sumber paparan bahasa, tetapi bukan satu-satunya tempat anak belajar berkomunikasi.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com
Informasi kontak resmi Ma’soem University juga mencantumkan nomor WhatsApp +62 851 8563 4253.




