Komentar Netizen Bisa Sampai ke Anak, Bagaimana Orang Tua Melindunginya?

Aktivitas anak di internet kini tidak hanya berkaitan dengan menonton video atau bermain gim. Anak juga dapat berinteraksi di media sosial, mengikuti komunitas daring, membaca komentar, bahkan menjadi sasaran komentar dari orang lain. Situasi ini membuat peran orang tua semakin penting, terutama ketika komentar netizen mulai menyentuh kondisi emosional anak.

Komentar yang terlihat sederhana bagi orang dewasa belum tentu dianggap biasa oleh anak. Pujian memang dapat meningkatkan kepercayaan diri, tetapi komentar negatif, ejekan, perbandingan fisik, atau perkataan yang merendahkan dapat meninggalkan dampak psikologis. Karena itu, orang tua perlu memahami cara melindungi anak tanpa membuat mereka merasa seluruh aktivitas digitalnya diawasi secara berlebihan.

Mengapa Komentar Netizen Bisa Berdampak pada Anak?

Anak masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan mengelola emosi dan menilai bagaimana sebuah perkataan harus disikapi. Komentar negatif yang datang berulang kali dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik, berbeda, atau tidak diterima oleh lingkungan.

Dampaknya dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Anak menjadi lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain.
  • Kepercayaan diri menurun.
  • Anak enggan berbicara tentang pengalaman di internet.
  • Muncul rasa takut untuk mengunggah sesuatu atau berinteraksi secara daring.
  • Anak menjadi mudah cemas atau tersinggung.
  • Aktivitas di sekolah dan hubungan dengan teman ikut terganggu.

Risiko tersebut semakin besar ketika komentar negatif berasal dari banyak akun atau terus muncul pada unggahan tertentu. Anak bisa menganggap banyaknya komentar sebagai bukti bahwa penilaian buruk terhadap dirinya memang benar.

Orang Tua Perlu Menjadi Tempat Aman untuk Bercerita

Langkah pertama bukan langsung melarang anak menggunakan media sosial. Orang tua perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita ketika menemukan komentar yang menyakitkan.

Alih-alih mengatakan, “Makanya jangan main media sosial,” orang tua dapat menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anak. Respons seperti ini membantu anak memahami bahwa masalahnya dapat dibicarakan tanpa langsung disalahkan.

Orang tua juga sebaiknya tidak menganggap komentar netizen sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Anak perlu tahu bahwa perkataan orang lain tidak menentukan nilai dirinya.

Ajarkan Anak Membedakan Kritik dan Perundungan

Tidak semua komentar negatif memiliki bentuk yang sama. Kritik yang disampaikan secara sopan dan relevan dapat menjadi masukan. Sebaliknya, komentar yang sengaja merendahkan, menghina, mempermalukan, mengancam, atau dilakukan berulang kali dapat mengarah pada perundungan siber.

Anak perlu memiliki kemampuan sederhana untuk mengenali perbedaannya. Orang tua dapat mengajarkan beberapa pertanyaan:

  1. Apakah komentar tersebut memberikan masukan yang jelas?
  2. Apakah orang yang berkomentar menggunakan bahasa yang menghormati?
  3. Apakah komentar tersebut bertujuan memperbaiki sesuatu atau mempermalukan?
  4. Apakah komentar serupa terus dilakukan oleh akun yang sama atau banyak akun?

Pemahaman ini membantu anak tidak langsung menganggap setiap perkataan orang lain sebagai gambaran tentang dirinya.

Ajarkan Penggunaan Fitur Blokir dan Laporkan

Perlindungan anak di ruang digital juga membutuhkan pengetahuan teknis. Anak perlu mengetahui bahwa mereka tidak wajib melayani setiap orang yang memberikan komentar.

Fitur blokir, batasi interaksi, hapus komentar, dan laporkan akun dapat digunakan ketika situasi sudah mengganggu atau mengandung unsur pelecehan dan perundungan. Untuk anak yang masih kecil, orang tua dapat mendampingi proses tersebut.

Orang tua juga sebaiknya mengajarkan anak untuk tidak membagikan informasi pribadi kepada orang yang tidak dikenal secara daring, termasuk alamat rumah, nomor telepon, lokasi secara real-time, nama sekolah secara terbuka, maupun informasi lain yang dapat meningkatkan risiko keamanan.

Jangan Langsung Mengambil Alih Akun Anak

Keinginan orang tua untuk melindungi anak terkadang membuat mereka ingin langsung mengambil ponsel, membalas komentar, atau menghubungi akun yang dianggap bermasalah. Namun, tindakan spontan dapat membuat situasi semakin rumit.

Lebih baik orang tua dan anak mendiskusikan langkah yang akan dilakukan. Jika komentar mengarah pada ancaman, pelecehan serius, penyebaran informasi pribadi, atau bentuk perundungan yang berkelanjutan, simpan bukti berupa tangkapan layar dan pertimbangkan mencari bantuan dari pihak yang tepat.

Pendekatan ini sekaligus mengajarkan anak bahwa menghadapi masalah digital membutuhkan keputusan yang tenang, bukan respons emosional.

Perhatikan Perubahan Perilaku Anak

Tidak semua anak akan mengatakan secara langsung bahwa dirinya terluka oleh komentar netizen. Perubahan perilaku dapat menjadi petunjuk penting bagi orang tua.

Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain anak tiba-tiba kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, menjadi lebih tertutup, sulit tidur, terus memeriksa ponsel, atau terlihat sangat takut ketika menerima notifikasi.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti anak mengalami masalah akibat media sosial. Namun, kondisi itu dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk membuka percakapan secara perlahan dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Jika tekanan emosional terlihat berat atau berlangsung lama, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi kepada tenaga profesional seperti konselor atau psikolog.

Orang Tua Juga Perlu Memberikan Contoh

Anak belajar banyak dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, edukasi mengenai etika berkomentar sebaiknya tidak hanya diberikan kepada anak.

Orang tua dapat menunjukkan bahwa perbedaan pendapat di internet tidak harus berakhir pada hinaan. Kebiasaan memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghormati privasi orang lain, serta tidak ikut menertawakan seseorang di kolom komentar merupakan contoh yang dapat ditiru anak.

Pendampingan seperti ini membuat literasi digital tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami dampak dari perilaku di ruang digital.

Pendidikan dan Pendampingan Psikologis Sama-Sama Penting

Perlindungan anak di era digital membutuhkan pemahaman mengenai komunikasi, perkembangan anak, pendidikan, dan kesehatan psikologis. Pengetahuan tersebut relevan tidak hanya bagi orang tua, tetapi juga bagi calon pendidik dan tenaga yang nantinya berinteraksi langsung dengan anak.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang studi relevan adalah Ma’soem University. Pada FKIP Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Program BK memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pendampingan peserta didik, termasuk kemampuan memahami persoalan komunikasi dan perkembangan sosial-emosional anak.

Kehadiran tenaga pendidik yang memahami aspek tersebut dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih responsif terhadap tantangan anak di era digital.

Bangun Aturan Digital yang Disepakati Bersama

Aturan penggunaan internet akan lebih mudah diterapkan ketika anak ikut terlibat dalam pembuatannya. Orang tua dapat menyepakati waktu penggunaan gawai, jenis informasi yang boleh dibagikan, akun yang boleh diikuti, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika anak mendapatkan komentar yang membuat tidak nyaman.

Aturan tersebut juga perlu disesuaikan dengan usia anak. Anak yang lebih kecil membutuhkan pendampingan lebih dekat, sedangkan remaja perlu diberi ruang untuk belajar mengambil keputusan secara mandiri sambil tetap mengetahui bahwa orang tua siap membantu.

Yang paling penting, anak perlu memahami satu hal: mereka tidak harus menghadapi komentar yang menyakitkan sendirian. Ketika rumah menjadi tempat yang aman untuk bercerita, anak memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan di dunia digital.

Kontak Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com