Kenapa Anak Mudah Terpengaruh Tren di Internet?

Internet sudah menjadi bagian dari keseharian anak dan remaja. Media sosial, video pendek, gim online, hingga berbagai platform komunitas membuat mereka bisa mengetahui sesuatu yang sedang populer hanya dalam hitungan menit. Tidak mengherankan jika tren internet cepat memengaruhi cara anak berbicara, berpakaian, memilih hiburan, bahkan menentukan hal yang dianggap keren atau layak diikuti.

Mengikuti tren sebenarnya bukan selalu hal buruk. Anak sedang berada dalam tahap perkembangan ketika lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan identitas. Persoalannya muncul ketika anak mengikuti tren tanpa memahami alasan, risiko, atau dampak dari perilaku yang ditirunya.

Anak Ingin Diterima oleh Lingkungan Sosial

Salah satu alasan anak mudah terpengaruh tren internet adalah kebutuhan untuk diterima oleh kelompoknya. Pada usia sekolah dan remaja, hubungan dengan teman sebaya menjadi semakin penting. Anak ingin merasa menjadi bagian dari kelompok dan tidak dianggap berbeda.

Tren yang muncul di media sosial sering menjadi bahasa bersama di antara mereka. Misalnya, anak yang mengetahui meme, tantangan, istilah, atau konten tertentu dapat lebih mudah mengikuti percakapan teman-temannya.

Keinginan untuk diterima tersebut dapat membuat anak berpikir, “Kalau semua teman melakukannya, saya juga harus ikut.” Pertimbangan terhadap risiko terkadang kalah oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Algoritma Membuat Tren Terlihat Ada di Mana-Mana

Media sosial memiliki sistem rekomendasi yang dirancang untuk menampilkan konten sesuai minat pengguna. Ketika anak beberapa kali menonton jenis video tertentu, platform dapat terus menyajikan konten yang serupa.

Akibatnya, sebuah tren bisa terlihat jauh lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Anak mungkin merasa semua orang sedang mengikuti tren tersebut karena hampir setiap kali membuka aplikasi, ia melihat konten yang sama.

Paparan berulang juga dapat membuat sesuatu terasa normal. Semakin sering anak melihat perilaku tertentu, semakin kecil kemungkinan ia mempertanyakan apakah perilaku tersebut memang layak ditiru.

Anak Masih Mengembangkan Kemampuan Menilai Informasi

Kemampuan berpikir kritis tidak terbentuk secara instan. Anak dan remaja masih belajar membedakan informasi, opini, promosi, hiburan, serta konten yang sengaja dibuat untuk mendapatkan perhatian.

Hal ini menjadi tantangan ketika sebuah tren dikemas secara menarik. Video yang lucu, musik yang populer, atau figur yang dikagumi dapat membuat anak lebih fokus pada kesenangan konten daripada pesan yang sebenarnya.

Beberapa hal yang perlu dikenalkan kepada anak antara lain:

  • Siapa yang membuat konten tersebut?
  • Apa tujuan konten itu dibuat?
  • Apakah informasi yang disampaikan dapat dipercaya?
  • Apakah tindakan yang ditampilkan aman untuk dilakukan?
  • Apa dampaknya jika ditiru di kehidupan nyata?

Kebiasaan bertanya seperti ini membantu anak membangun literasi digital secara bertahap.

Figur Idola Memiliki Pengaruh Besar

Influencer, kreator konten, atlet, musisi, dan figur publik dapat menjadi panutan bagi anak. Ketika seorang figur yang dikagumi mengikuti tren tertentu, anak dapat menganggap perilaku tersebut layak ditiru.

Pengaruhnya semakin kuat ketika figur tersebut terasa dekat melalui konten sehari-hari. Anak dapat merasa mengenal kehidupan kreator, meskipun hubungan tersebut sebenarnya berlangsung melalui media digital.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya melarang anak mengikuti influencer tertentu. Lebih efektif jika anak diajak memahami bahwa popularitas seseorang tidak otomatis membuat semua perkataan atau perilakunya benar untuk ditiru.

Tren Internet Bisa Memengaruhi Kepercayaan Diri

Media sosial juga mempertemukan anak dengan standar penampilan, gaya hidup, dan pencapaian yang sangat beragam. Anak dapat membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih menarik, populer, atau sukses.

Perbandingan tersebut berpotensi memunculkan tekanan untuk mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal. Ada anak yang mulai mengubah penampilan, membeli barang tertentu, atau melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak diminatinya hanya karena ingin mendapatkan pengakuan.

Orang tua dan pendidik dapat membantu anak memahami bahwa tren bersifat sementara, sedangkan nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, likes, atau kemampuan mengikuti sesuatu yang sedang viral.

Peran Orang Tua Bukan Sekadar Membatasi Gawai

Membatasi waktu penggunaan internet memang dapat membantu, tetapi pendekatan tersebut sebaiknya disertai komunikasi terbuka. Anak perlu memiliki ruang untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat di internet tanpa langsung takut dimarahi.

Orang tua dapat mencoba beberapa kebiasaan berikut:

  1. Tanyakan tren yang sedang mereka ikuti. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami dunia digital anak.
  2. Diskusikan risiko sebelum melarang. Jelaskan alasan sebuah tren berbahaya atau tidak sesuai untuk usia mereka.
  3. Ajarkan cara memeriksa informasi. Anak perlu mengetahui bahwa tidak semua konten viral merupakan fakta.
  4. Berikan contoh penggunaan internet yang sehat. Anak lebih mudah belajar dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.
  5. Bangun kepercayaan. Anak yang merasa didengarkan cenderung lebih terbuka ketika menemukan konten yang membingungkan atau berisiko.

Sekolah Juga Punya Peran dalam Literasi Digital

Pengaruh tren internet tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Sekolah dapat membantu siswa memahami cara menggunakan media digital secara lebih bijak.

Pendidikan literasi digital dapat dikaitkan dengan berbagai aktivitas pembelajaran, seperti mengevaluasi sumber informasi, memahami etika komunikasi online, mengenali manipulasi informasi, serta mendiskusikan dampak media sosial terhadap kehidupan sosial dan emosional.

Peran guru juga penting karena siswa sering membawa pengalaman dari internet ke lingkungan sekolah. Guru dapat menjadi pendamping yang membantu siswa melihat suatu tren dari perspektif yang lebih kritis, bukan sekadar menentukan apakah tren tersebut boleh atau tidak boleh diikuti.

Kebutuhan terhadap pendidik yang mampu memahami perkembangan anak di era digital juga membuat bidang pendidikan dan konseling semakin relevan. Ma’soem University, misalnya, memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling relevan bagi calon pendidik yang ingin memahami perkembangan peserta didik, termasuk tantangan yang muncul dalam lingkungan pendidikan dan era digital. Program tersebut membekali mahasiswa pada aspek konseling serta pengembangan diri sehingga dapat mendukung peran profesional dalam membantu peserta didik

Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada penyiapan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan bahasa Inggris sekaligus keterampilan mengajar. Kedua program tersebut menunjukkan bahwa bidang pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga kemampuan memahami kebutuhan dan perkembangan peserta didik.

Anak Perlu Belajar Memilih, Bukan Sekadar Dilarang

Tren internet akan terus berubah. Melarang seluruh akses terhadap tren juga sulit menjadi solusi jangka panjang karena anak tetap akan berinteraksi dengan lingkungan digital, baik di rumah maupun di sekolah.

Hal yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak untuk menentukan pilihan. Mereka perlu memahami bahwa mengikuti tren boleh saja selama sesuai usia, aman, tidak merugikan orang lain, dan tidak bertentangan dengan nilai yang mereka pegang.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya sebelum mengikuti sesuatu, pengaruh internet dapat berubah dari sekadar sumber tekanan sosial menjadi ruang belajar. Mereka tetap dapat menikmati budaya digital, tetapi tidak harus mengikuti setiap hal yang sedang viral.

Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com (pmb.masoemuniversity.com)