Pernah merasa anak lebih cepat mengikuti arahan guru di sekolah dibandingkan nasihat orang tua di rumah? Kondisi ini sebenarnya cukup umum. Anak yang sulit diminta merapikan kamar, belajar, atau mengurangi waktu bermain di rumah bisa saja justru tertib ketika berada di sekolah.
Hal tersebut bukan berarti anak lebih menyayangi atau menghormati guru daripada orang tua. Ada sejumlah faktor psikologis, sosial, dan lingkungan yang membuat anak lebih mudah menerima arahan guru. Memahami faktor tersebut dapat membantu orang tua membangun pola komunikasi yang lebih efektif di rumah.
Guru Memiliki Peran dan Otoritas yang Jelas
Di sekolah, anak memahami bahwa guru merupakan sosok yang bertanggung jawab mengatur kegiatan belajar. Ada aturan, jadwal, serta konsekuensi yang sudah dikenal oleh siswa.
Situasi tersebut menciptakan batas yang jelas antara peran guru dan murid. Ketika guru meminta siswa membuka buku, mengerjakan tugas, atau menjaga ketenangan kelas, anak memahami bahwa instruksi tersebut merupakan bagian dari kegiatan sekolah.
Di rumah, hubungan antara orang tua dan anak jauh lebih kompleks. Orang tua bukan hanya menjadi pemberi aturan, tetapi juga tempat anak mendapatkan kasih sayang, kenyamanan, dan perlindungan. Karena itu, anak terkadang merasa lebih bebas bernegosiasi dengan orang tua.
Anak Melihat Guru sebagai Figur yang Perlu Dihormati
Guru memiliki posisi sosial tertentu di lingkungan sekolah. Anak biasanya melihat guru sebagai orang dewasa yang memiliki pengetahuan dan kewenangan untuk mengajarkan sesuatu.
Rasa hormat tersebut dapat membuat anak lebih siap menerima instruksi. Apalagi jika guru mampu menunjukkan sikap konsisten, adil, dan tenang ketika menghadapi berbagai karakter siswa.
Kepatuhan anak juga tidak selalu muncul karena takut mendapat hukuman. Hubungan positif antara guru dan siswa justru dapat membuat anak mengikuti arahan karena merasa dipercaya dan dihargai.
Aturan di Sekolah Lebih Konsisten
Salah satu alasan anak lebih menurut kepada guru adalah konsistensi aturan. Sekolah umumnya memiliki rutinitas yang berulang setiap hari.
Misalnya:
- Jam masuk sekolah sudah ditentukan.
- Ada waktu khusus untuk belajar dan beristirahat.
- Tugas memiliki batas waktu.
- Siswa perlu mengikuti tata tertib kelas.
- Ada konsekuensi tertentu ketika aturan dilanggar.
Konsistensi tersebut membantu anak memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di rumah, aturan terkadang berubah sesuai kondisi, kesibukan orang tua, atau situasi keluarga.
Bukan berarti aturan di rumah harus dibuat seketat sekolah. Orang tua justru dapat mengambil prinsip yang sama, yaitu membuat aturan sederhana, jelas, dan diterapkan secara konsisten.
Pengaruh Teman Sebaya Juga Besar
Lingkungan sekolah membuat anak berada di tengah teman-temannya. Ketika mayoritas siswa mengikuti instruksi guru, anak cenderung melakukan hal yang sama.
Ada kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok. Anak tidak ingin dianggap berbeda atau mengganggu kegiatan kelas. Faktor ini membuat kepatuhan kepada aturan sekolah menjadi bagian dari kebiasaan sosial.
Kondisi tersebut berbeda ketika anak berada di rumah. Tidak ada teman sebaya yang menjalankan aturan yang sama sehingga dorongan sosial untuk mengikuti instruksi mungkin lebih kecil.
Guru Biasanya Memberikan Instruksi yang Spesifik
Cara menyampaikan perintah juga berpengaruh terhadap respons anak. Guru yang terbiasa mengelola kelas biasanya memberikan instruksi secara singkat dan konkret.
Contohnya, guru mengatakan, “Buka halaman 20 dan kerjakan nomor satu sampai lima.” Anak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Di rumah, instruksi orang tua terkadang lebih umum, seperti “Jangan malas,” “Belajar yang rajin,” atau “Rapikan semuanya.” Kalimat tersebut sebenarnya memiliki maksud yang baik, tetapi anak mungkin tidak langsung memahami tindakan apa yang diharapkan.
Orang tua dapat mencoba memberikan instruksi yang lebih spesifik. Misalnya, “Setelah makan, tolong masukkan piring ke dapur,” atau “Belajar matematika selama 30 menit sebelum bermain.”
Anak Bisa Memisahkan Peran Guru dan Orang Tua
Anak memahami bahwa sekolah dan rumah memiliki fungsi berbeda. Sekolah identik dengan belajar, aturan, dan tanggung jawab akademik. Rumah lebih sering diasosiasikan sebagai tempat beristirahat dan mendapatkan rasa aman.
Karena perbedaan konteks tersebut, perilaku anak dapat berubah ketika berpindah lingkungan. Anak yang sangat aktif di rumah belum tentu bermasalah ketika berada di kelas. Sebaliknya, anak yang sangat tertib di sekolah juga bisa lebih sulit diarahkan ketika sudah berada di rumah.
Perbedaan perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa orang tua gagal mendidik anak.
Hubungan Emosional Justru Membuat Anak Lebih Berani kepada Orang Tua
Ada paradoks menarik dalam hubungan orang tua dan anak. Anak terkadang justru lebih berani membantah orang tua karena merasa sangat aman secara emosional.
Rumah merupakan tempat anak dapat menunjukkan rasa lelah, kecewa, marah, atau tidak setuju tanpa harus menjaga citra seperti ketika berada di sekolah. Karena itu, sikap “lebih susah diatur” di rumah tidak selalu berarti anak tidak menghormati orang tua.
Orang tua tetap perlu memberikan batas, tetapi batas tersebut dapat disampaikan tanpa menghilangkan rasa aman yang sudah dibangun.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Jika anak lebih mudah mengikuti arahan guru, orang tua tidak perlu menjadikan kondisi tersebut sebagai persaingan. Justru, pola yang efektif di sekolah dapat menjadi inspirasi untuk membangun kebiasaan di rumah.
Beberapa langkah yang dapat dicoba antara lain:
- Buat aturan yang sederhana. Pilih beberapa aturan penting daripada memberikan terlalu banyak larangan.
- Berikan instruksi yang jelas. Sampaikan tindakan yang perlu dilakukan, bukan hanya apa yang tidak boleh dilakukan.
- Terapkan konsekuensi secara konsisten. Anak perlu memahami hubungan antara pilihan dan konsekuensinya.
- Berikan apresiasi. Pengakuan terhadap perilaku positif dapat memperkuat kebiasaan baik.
- Jaga komunikasi. Dengarkan alasan anak sebelum langsung memberikan teguran.
- Hindari terlalu sering mengancam. Disiplin akan lebih efektif jika anak memahami alasan di balik aturan.
- Jadilah contoh. Anak lebih mudah mengikuti kebiasaan yang mereka lihat secara langsung.
Pendekatan tersebut membantu orang tua membangun kewibawaan tanpa harus menciptakan hubungan yang kaku.
Peran Pendidikan dalam Membentuk Cara Anak Berinteraksi
Fenomena anak yang lebih menurut kepada guru juga menunjukkan pentingnya kompetensi pendidik dalam memahami perilaku siswa. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berhadapan dengan karakter, kebutuhan, dan perkembangan sosial peserta didik.
Hal ini membuat bidang pendidikan membutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan pedagogis sekaligus kemampuan memahami individu. Salah satu pilihan pendidikan tinggi yang relevan ialah Ma’soem University, yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
FKIP Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Informasi resmi fakultas menyebutkan bahwa BK berfokus pada pengembangan kemampuan konseling dan pendampingan, sedangkan Pendidikan Bahasa Inggris mempersiapkan calon pendidik yang memiliki kompetensi bahasa sekaligus kemampuan mengajar.
Program BK relevan bagi mahasiswa yang tertarik memahami perkembangan individu, komunikasi interpersonal, serta pendampingan peserta didik. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris dapat menjadi pilihan bagi mereka yang tertarik pada pengajaran bahasa, komunikasi, dan pengembangan kemampuan peserta didik. Keduanya memiliki kaitan erat dengan kebutuhan dunia pendidikan dan pengembangan manusia.
Pemahaman mengenai perilaku anak pada akhirnya tidak hanya penting bagi guru, tetapi juga bagi orang tua. Ketika orang tua memahami mengapa anak dapat lebih patuh di sekolah, respons terhadap perilaku tersebut bisa menjadi lebih tenang dan terarah. Anak tetap membutuhkan aturan, tetapi mereka juga membutuhkan hubungan yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bertanya, melakukan kesalahan, dan berkembang.
Informasi Kontak Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




