Kenapa Mahasiswa Lebih Sering Foto Slide daripada Mencatat?

Kebiasaan mahasiswa mengambil foto slide presentasi dosen sudah menjadi pemandangan yang umum di ruang kelas. Ketika materi ditampilkan melalui proyektor, beberapa mahasiswa justru lebih cepat mengeluarkan ponsel dan memotret layar daripada menuliskan poin-poin penting di buku catatan. Praktik ini dianggap lebih praktis karena materi dapat disimpan dan dipelajari kembali kapan saja.

Namun, kebiasaan foto slide tidak selalu berarti mahasiswa malas mencatat. Ada berbagai alasan yang membuat cara tersebut terasa lebih efisien, mulai dari keterbatasan waktu hingga bentuk materi yang sudah tersusun secara lengkap. Di sisi lain, terlalu bergantung pada foto slide juga dapat membuat proses belajar menjadi kurang aktif.

Foto Slide Dianggap Lebih Cepat dan Praktis

Salah satu alasan utama mahasiswa lebih memilih memotret slide adalah efisiensi waktu. Dosen dapat berpindah dari satu slide ke slide berikutnya dalam waktu relatif singkat. Jika mahasiswa berusaha menyalin seluruh isi presentasi, mereka berisiko tertinggal dari pembahasan yang sedang berlangsung.

Memotret slide hanya membutuhkan beberapa detik. Setelah itu, mahasiswa dapat kembali memperhatikan penjelasan dosen tanpa harus membagi perhatian antara melihat layar dan menulis.

Kebiasaan ini semakin mudah dilakukan karena hampir setiap mahasiswa memiliki kamera pada smartphone. Foto materi kuliah juga dapat tersimpan di galeri, kemudian dipindahkan ke folder khusus atau penyimpanan digital agar lebih mudah ditemukan ketika diperlukan.

Tidak Semua Informasi di Slide Perlu Dicatat Ulang

Materi presentasi dosen biasanya sudah memiliki struktur tertentu, mulai dari definisi, konsep utama, contoh, hingga poin-poin penjelasan. Ketika seluruh informasi tersebut sudah tersedia di layar, mahasiswa mungkin merasa tidak perlu menuliskannya kembali.

Hal tersebut berbeda dari kegiatan mencatat ketika mahasiswa harus menyusun sendiri informasi yang diperoleh dari penjelasan lisan. Dalam situasi tersebut, mencatat menjadi cara untuk mengubah informasi yang didengar menjadi bentuk yang lebih mudah dipahami.

Masalahnya muncul ketika mahasiswa hanya menyimpan foto tanpa mengolah informasi di dalamnya. Koleksi foto slide yang banyak belum tentu menunjukkan bahwa materi tersebut benar-benar dipahami.

Foto Slide Belum Tentu Membantu Pemahaman

Menyimpan materi dan memahami materi merupakan dua hal yang berbeda. Foto slide memang membuat informasi lebih mudah diakses, tetapi akses tersebut tidak otomatis menghasilkan pemahaman.

Mahasiswa dapat memiliki puluhan hingga ratusan foto materi kuliah di galeri. Ketika ujian mendekat, mereka mungkin baru membuka kembali foto tersebut. Pada kondisi seperti ini, proses belajar cenderung berubah menjadi membaca ulang materi dalam jumlah banyak secara terburu-buru.

Padahal, proses mencatat memiliki fungsi yang lebih luas. Ketika menulis, mahasiswa perlu menentukan informasi mana yang penting, menyederhanakan penjelasan, serta menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Proses tersebut dapat membantu mahasiswa memproses informasi secara lebih aktif.

Mencatat Tidak Harus Berarti Menyalin Semua Isi Slide

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap mencatat berarti menyalin seluruh isi presentasi. Padahal, catatan kuliah yang efektif justru tidak harus panjang.

Mahasiswa dapat mencatat hal-hal yang tidak tersedia secara lengkap di slide, seperti:

  • Penjelasan tambahan dari dosen.
  • Contoh yang diberikan selama perkuliahan.
  • Istilah yang dianggap penting.
  • Pertanyaan yang muncul selama diskusi.
  • Hubungan antara satu konsep dan konsep lainnya.
  • Bagian materi yang masih belum dipahami.
  • Kesimpulan pribadi dari suatu pembahasan.

Cara tersebut membuat foto slide berfungsi sebagai bahan pendukung, sementara catatan pribadi menjadi hasil pengolahan informasi selama perkuliahan.

Kenapa Mahasiswa Sering Memilih Foto Slide?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut. Setiap mahasiswa tentu memiliki alasan berbeda, tetapi beberapa pertimbangan berikut cukup umum ditemukan dalam kegiatan perkuliahan.

1. Takut tertinggal materi

Kecepatan dosen menjelaskan materi terkadang membuat mahasiswa kesulitan mencatat sekaligus mengikuti pembahasan. Foto slide menjadi solusi cepat agar informasi utama tetap tersimpan.

2. Materi memiliki banyak informasi

Slide yang berisi tabel, diagram, gambar, atau penjelasan panjang lebih sulit disalin secara manual. Mengambil foto menjadi pilihan yang lebih praktis.

3. Catatan dianggap kurang rapi

Sebagian mahasiswa merasa hasil catatan tangan mereka kurang terstruktur. Foto slide yang sudah dibuat secara digital terlihat lebih rapi dan mudah dibaca.

4. Materi dapat dipelajari kembali

Foto memberikan rasa aman karena mahasiswa merasa memiliki salinan materi yang dapat dibuka kapan saja, terutama menjelang tugas atau ujian.

5. Kebiasaan belajar sudah berubah

Perkembangan teknologi membuat proses belajar semakin banyak menggunakan perangkat digital. Smartphone tidak hanya digunakan untuk komunikasi, tetapi juga menjadi media penyimpanan materi kuliah.

Kapan Foto Slide Lebih Berguna?

Foto slide sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai kebiasaan yang sepenuhnya buruk. Dalam kondisi tertentu, dokumentasi materi justru sangat membantu.

Misalnya, dosen menampilkan grafik yang rumit, tabel perbandingan, kutipan, atau diagram yang sulit digambar ulang. Mengambil foto dapat menghemat waktu dan memungkinkan mahasiswa memusatkan perhatian pada penjelasan yang diberikan.

Foto juga berguna ketika materi presentasi tidak langsung dibagikan kepada mahasiswa. Dokumentasi tersebut dapat menjadi cadangan agar mahasiswa tidak kehilangan informasi yang sudah disampaikan di kelas.

Yang perlu diperhatikan adalah cara menggunakan foto tersebut setelah perkuliahan selesai. Materi yang difoto sebaiknya tidak berhenti sebagai arsip di galeri smartphone.

Cara Menggabungkan Foto Slide dan Catatan Kuliah

Mahasiswa sebenarnya tidak perlu memilih antara foto slide atau mencatat. Kedua cara tersebut dapat digunakan secara bersamaan.

Strateginya cukup sederhana. Saat dosen menampilkan slide, mahasiswa dapat mengambil foto jika materi sulit disalin. Setelah itu, perhatian dapat dialihkan pada penjelasan dosen dan mencatat informasi tambahan yang tidak terdapat pada slide.

Setelah perkuliahan, foto tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk merapikan catatan. Mahasiswa bisa membuat rangkuman singkat menggunakan bahasa sendiri sehingga materi tidak hanya tersimpan, tetapi juga diproses kembali.

Metode ini juga dapat membantu ketika menghadapi ujian. Foto slide menjadi sumber materi, sedangkan catatan pribadi membantu mengingat konsep dan penjelasan yang telah dipelajari.

Lingkungan Kampus Juga Mempengaruhi Kebiasaan Belajar

Cara mahasiswa belajar tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh pola pembelajaran di kampus. Perkuliahan yang melibatkan presentasi, diskusi, praktik, tugas, dan kegiatan kolaboratif membuat mahasiswa perlu mengembangkan strategi belajar yang sesuai.

Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung juga menjadi lingkungan pendidikan tinggi yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar dan mengelola materi perkuliahan secara efektif. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan memahami materi tidak hanya bergantung pada seberapa banyak bahan kuliah yang berhasil disimpan, tetapi juga bagaimana mahasiswa mengolah dan menggunakannya.

Bagi mahasiswa FKIP Ma’soem University, pilihan program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kegiatan perkuliahan pada bidang tersebut dapat melibatkan materi teori, diskusi, presentasi, dan berbagai bentuk tugas yang membutuhkan kemampuan memahami informasi secara aktif.

Dari Sekadar Menyimpan Materi Menjadi Memahami Materi

Foto slide pada dasarnya hanyalah alat bantu. Nilainya bergantung pada bagaimana mahasiswa memanfaatkannya. Menyimpan materi memang penting, tetapi proses belajar tidak berhenti ketika tombol kamera ditekan.

Mahasiswa dapat menggunakan foto slide sebagai dokumentasi, kemudian melengkapinya melalui catatan singkat, pertanyaan, rangkuman, atau penjelasan menggunakan bahasa sendiri. Cara ini membuat kegiatan mencatat tidak lagi dipandang sebagai aktivitas menyalin, melainkan bagian dari proses memahami materi.

Pada akhirnya, kebiasaan foto slide bukan persoalan memilih teknologi atau metode lama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa materi yang disimpan benar-benar digunakan untuk mendukung proses belajar, bukan sekadar memenuhi galeri smartphone.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com