Pernah berencana mengerjakan tugas jauh sebelum deadline, tetapi akhirnya baru mulai ketika waktu pengumpulan tinggal beberapa jam? Kondisi ini cukup sering terjadi pada mahasiswa, pelajar, maupun pekerja. Menunda pekerjaan atau procrastination bukan selalu berarti seseorang malas. Ada berbagai faktor psikologis dan kebiasaan yang membuat seseorang tetap menunda meskipun sudah mengetahui bahwa deadline semakin dekat.
Menariknya, semakin dekat deadline, seseorang justru bisa merasa semakin terdorong untuk bekerja. Masalahnya, kebiasaan tersebut dapat membuat pekerjaan terasa lebih berat, meningkatkan stres, dan menurunkan kualitas hasil yang dikerjakan.
Apa Itu Kebiasaan Menunda Pekerjaan?
Menunda pekerjaan adalah kecenderungan untuk menangguhkan tugas yang sebenarnya perlu segera dilakukan dan menggantinya dengan aktivitas lain yang dianggap lebih menyenangkan atau lebih mudah.
Misalnya, seorang mahasiswa memiliki tugas yang harus dikumpulkan lima hari lagi. Ia sebenarnya sudah mengetahui tugas tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Namun, ia memilih menonton video, bermain media sosial, membersihkan kamar, atau melakukan kegiatan lain.
Awalnya, penundaan terasa tidak terlalu bermasalah karena deadline masih jauh. Ketika waktu semakin sedikit, tekanan mulai meningkat. Pada akhirnya, tugas dikerjakan terburu-buru karena tidak ada lagi banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan.
Mengapa Kita Sering Menunda Pekerjaan?
Ada beberapa alasan yang membuat seseorang sulit mulai mengerjakan tugas meskipun deadline sudah diketahui.
1. Tugas Terasa Terlalu Berat
Pekerjaan yang terlihat besar dan rumit sering membuat seseorang bingung harus mulai dari mana. Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga otak cenderung mencari aktivitas yang lebih mudah.
Contohnya, tugas membuat makalah membutuhkan pencarian referensi, membaca beberapa sumber, menyusun kerangka, menulis, dan melakukan revisi. Jika semua tahapan tersebut dipikirkan sekaligus, pekerjaan bisa terasa sangat berat.
Memecah tugas menjadi bagian kecil dapat membantu. Alih-alih berpikir “harus menyelesaikan makalah”, seseorang bisa menetapkan target pertama berupa mencari tiga sumber referensi.
2. Takut Hasilnya Tidak Sempurna
Perfeksionisme juga dapat menjadi penyebab procrastination. Seseorang mungkin memiliki standar yang terlalu tinggi terhadap hasil pekerjaannya sehingga merasa harus menghasilkan sesuatu yang sempurna sejak awal.
Akibatnya, proses memulai justru menjadi sulit.
Pikiran seperti “nanti kalau sudah punya ide bagus baru mulai” atau “aku belum cukup siap mengerjakannya” dapat membuat tugas terus ditunda. Padahal, ide dan kualitas tulisan biasanya dapat dikembangkan setelah proses pengerjaan dimulai.
3. Lebih Memilih Aktivitas yang Memberikan Kepuasan Cepat
Media sosial, video pendek, permainan, dan hiburan lainnya memberikan kesenangan secara cepat. Sebaliknya, mengerjakan tugas biasanya membutuhkan usaha sebelum hasilnya dapat dirasakan.
Karena itu, ketika harus memilih antara membaca materi selama satu jam atau membuka media sosial selama beberapa menit, seseorang bisa lebih mudah memilih aktivitas yang memberikan kepuasan langsung.
Jika kebiasaan tersebut terus berulang, pekerjaan akademik maupun pekerjaan lain semakin mudah ditunda.
4. Merasa Deadline Masih Lama
Deadline yang masih beberapa hari lagi sering membuat seseorang merasa memiliki banyak waktu. “Nanti saja” terdengar aman karena pekerjaan belum harus diselesaikan hari itu.
Masalahnya, waktu luang tersebut belum tentu benar-benar tersedia pada hari berikutnya. Ada tugas lain, kegiatan organisasi, pekerjaan rumah, jadwal kuliah, atau kebutuhan pribadi yang dapat muncul secara bersamaan.
Kesalahan memperkirakan waktu pengerjaan akhirnya membuat pekerjaan menumpuk menjelang deadline.
5. Menunggu Mood untuk Mulai
Sebagian orang terbiasa berpikir bahwa pekerjaan akan lebih mudah jika dikerjakan ketika sedang memiliki mood yang bagus. Padahal, mood tidak selalu muncul sesuai jadwal yang kita inginkan.
Menunggu motivasi terlebih dahulu justru dapat memperpanjang penundaan. Dalam banyak situasi, tindakan kecil untuk memulai pekerjaan justru dapat membantu membangun motivasi berikutnya.
Dampak Menunda Pekerjaan Terlalu Lama
Menunda sekali atau dua kali mungkin tidak langsung menimbulkan masalah besar. Namun, jika menjadi pola yang berulang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan kondisi seseorang.
Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- pekerjaan harus diselesaikan secara terburu-buru;
- kualitas tugas berpotensi menurun;
- waktu istirahat menjadi berkurang;
- muncul rasa bersalah karena belum mengerjakan tugas;
- stres meningkat ketika deadline semakin dekat;
- pekerjaan lain ikut tertunda;
- kesempatan melakukan revisi menjadi lebih sedikit.
Bagi mahasiswa, kebiasaan tersebut juga dapat membuat beberapa tugas dari mata kuliah berbeda menumpuk dalam waktu yang sama.
Cara Mengurangi Kebiasaan Menunda Pekerjaan
Mengatasi procrastination tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Beberapa strategi sederhana dapat dicoba untuk membuat pekerjaan terasa lebih mudah dimulai.
Tentukan Target yang Sangat Spesifik
Target “mengerjakan tugas” masih terlalu umum. Buat target yang lebih jelas, seperti membaca lima halaman, membuat kerangka tulisan, atau menyelesaikan satu bagian tugas.
Target kecil memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai tindakan yang perlu dilakukan.
Gunakan Teknik Waktu Sederhana
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah bekerja selama 25 menit, kemudian beristirahat selama lima menit. Pola ini sering dikenal sebagai teknik Pomodoro.
Bagi orang yang sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, pembagian waktu tersebut dapat membuat pekerjaan terasa lebih ringan karena fokus diarahkan pada satu periode singkat.
Jauhkan Gangguan Saat Mulai Bekerja
Notifikasi ponsel dapat mengganggu fokus bahkan ketika seseorang hanya berniat memeriksanya sebentar. Menonaktifkan notifikasi atau meletakkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau dapat membantu mengurangi godaan untuk berhenti bekerja.
Lingkungan belajar juga perlu dibuat cukup nyaman, tetapi tidak terlalu banyak menyediakan distraksi.
Mulai Sebelum Deadline Terasa Mendesak
Tidak perlu menunggu sampai memiliki waktu kosong berjam-jam. Mengerjakan tugas selama 15–20 menit sejak beberapa hari sebelum deadline tetap lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.
Waktu tersebut dapat digunakan untuk memahami instruksi, mencari referensi, atau membuat kerangka awal.
Lingkungan Kampus dan Kebiasaan Mengatur Waktu
Kehidupan perkuliahan menuntut mahasiswa mengatur berbagai aktivitas secara mandiri. Jadwal kuliah, tugas, organisasi, kegiatan kampus, hingga kebutuhan pribadi perlu dikelola agar tidak saling bertabrakan.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar dan pengelolaan tanggung jawab akademik.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan, FKIP Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Pengelolaan waktu dan tanggung jawab akademik menjadi bagian penting dalam menjalani aktivitas perkuliahan, terlepas dari program studi yang dipilih.
Kebiasaan menyelesaikan pekerjaan secara bertahap juga dapat membantu mahasiswa menghadapi tugas yang membutuhkan proses panjang. Daripada mengandalkan tekanan deadline sebagai pemicu utama, pekerjaan dapat dibagi menjadi target harian yang lebih realistis.
Kapan Menunda Pekerjaan Mulai Menjadi Masalah?
Tidak semua penundaan harus dianggap sebagai masalah serius. Seseorang terkadang memang membutuhkan waktu istirahat atau memilih mengerjakan tugas pada waktu tertentu karena alasan yang masuk akal.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pola yang terbentuk. Jika hampir setiap tugas selalu dikerjakan pada menit terakhir, penundaan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuat seseorang terus merasa tertekan, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang membuat saya sulit mulai?” dapat membantu menemukan penyebabnya. Jawabannya mungkin bukan karena malas, tetapi karena tugas terlalu besar, instruksi kurang dipahami, takut melakukan kesalahan, atau terlalu banyak gangguan.
Mengenali penyebab tersebut membuat strategi yang digunakan menjadi lebih tepat. Jika masalahnya adalah tugas yang terlalu besar, tugas dapat dipecah. Jika gangguannya berasal dari ponsel, notifikasi dapat dibatasi. Jika penyebabnya adalah rasa takut terhadap hasil yang tidak sempurna, fokus awal dapat diarahkan pada menyelesaikan draf terlebih dahulu.
Pada akhirnya, pekerjaan tidak harus selalu dimulai ketika motivasi sedang tinggi. Sering kali, langkah pertama yang kecil justru menjadi bagian tersulit sekaligus bagian yang paling penting untuk menghentikan kebiasaan menunda.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




