Pernah merasa harus ikut mencoba sesuatu hanya karena hampir semua teman membicarakannya? Atau merasa tertinggal ketika melihat orang lain menghadiri konser, mencoba tempat makan baru, mengikuti challenge, hingga membeli produk yang sedang viral? Perasaan seperti itu sering dikaitkan dengan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut melewatkan pengalaman atau informasi yang dianggap sedang dinikmati orang lain.
Fenomena FOMO semakin mudah muncul di tengah penggunaan media sosial. Berbagai tren dapat menyebar dalam waktu singkat dan terus muncul melalui konten yang dilihat setiap hari. Bagi anak muda, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara berinteraksi, menentukan pilihan, bahkan memandang kehidupan diri sendiri.
Apa Itu FOMO?
FOMO merupakan perasaan khawatir bahwa orang lain sedang memperoleh pengalaman yang lebih menyenangkan, menarik, atau berharga sementara diri sendiri tidak ikut mengalaminya. Istilah ini tidak hanya berkaitan dengan tren di media sosial, tetapi juga dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya dapat terlihat ketika seseorang:
- merasa harus mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan;
- takut tidak mengetahui topik yang sedang ramai dibicarakan;
- terus memeriksa media sosial karena khawatir melewatkan informasi;
- membeli barang yang sedang populer meskipun sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya;
- merasa kurang puas setelah melihat aktivitas orang lain di media sosial.
FOMO pada dasarnya berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dan menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Mengapa Anak Muda Mudah Mengalami FOMO?
Masa remaja dan dewasa muda merupakan periode ketika hubungan sosial memiliki peran penting. Pengakuan dari teman, keinginan untuk diterima dalam kelompok, dan kebutuhan untuk membangun identitas dapat membuat seseorang lebih memperhatikan apa yang dilakukan orang lain.
Ketika sebuah tren menjadi populer, muncul dorongan untuk ikut berpartisipasi agar tidak merasa berbeda. Dorongan tersebut dapat semakin kuat ketika lingkungan pertemanan juga mengikuti tren yang sama.
Media sosial kemudian memperluas pengalaman tersebut. Seseorang tidak hanya membandingkan dirinya dengan teman di sekitar, tetapi juga dengan banyak orang yang ditemui melalui layar.
Media Sosial dan Siklus Takut Ketinggalan
Media sosial memungkinkan tren berkembang secara cepat. Satu video dapat menjadi viral, kemudian melahirkan berbagai versi konten lain yang diikuti banyak pengguna.
Algoritma platform juga membuat pengguna terus menerima konten berdasarkan aktivitas sebelumnya. Ketika seseorang beberapa kali melihat konten tentang produk, tempat wisata, gaya berpakaian, atau tren tertentu, konten serupa dapat muncul kembali.
Situasi tersebut dapat menciptakan siklus:
melihat tren → merasa tertarik → membandingkan diri → ingin ikut → mengikuti tren → muncul tren baru.
Siklus ini membuat seseorang sulit merasa benar-benar selesai mengikuti tren karena selalu ada hal baru yang muncul.
FOMO Tidak Selalu Berkaitan dengan Barang
FOMO sering dikaitkan dengan kebiasaan membeli barang viral, tetapi bentuknya jauh lebih luas. Anak muda juga dapat mengalami FOMO terhadap pengalaman dan aktivitas.
Misalnya, seseorang mungkin merasa harus datang ke festival musik karena teman-temannya hadir. Ada pula yang merasa perlu mengikuti serial atau film tertentu agar dapat ikut dalam percakapan kelompok.
FOMO bahkan dapat muncul dalam pendidikan dan kehidupan kampus. Mahasiswa mungkin merasa tertinggal ketika melihat teman mengikuti banyak organisasi, seminar, perlombaan, atau kegiatan lain. Padahal, setiap mahasiswa memiliki prioritas, kemampuan, dan kondisi yang berbeda.
Dampak FOMO terhadap Kehidupan Sehari-hari
Jika muncul sesekali, FOMO belum tentu menjadi masalah besar. Namun, dorongan untuk terus mengikuti orang lain dapat menjadi kurang sehat apabila membuat seseorang sulit menentukan pilihan berdasarkan kebutuhannya sendiri.
Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:
1. Pengeluaran yang Tidak Direncanakan
Tren produk tertentu dapat mendorong seseorang melakukan pembelian secara impulsif. Keinginan untuk memiliki barang yang sedang populer terkadang lebih kuat daripada pertimbangan mengenai kebutuhan dan kemampuan finansial.
2. Sulit Berkonsentrasi
Kebiasaan terus memeriksa media sosial dapat mengganggu waktu belajar, bekerja, beristirahat, atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan fokus.
3. Sering Membandingkan Diri
Melihat kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat membuat seseorang merasa kehidupannya kurang menarik. Padahal, konten media sosial umumnya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang.
4. Mengikuti Tren Tanpa Pertimbangan
Keputusan yang dibuat karena takut tertinggal belum tentu sesuai dengan minat atau kebutuhan pribadi. Dalam jangka panjang, seseorang dapat merasa lelah karena terus berusaha mengikuti perubahan tren.
FOMO dan Perbandingan Sosial
Salah satu faktor yang membuat FOMO terasa kuat adalah kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memberikan banyak kesempatan untuk melakukan perbandingan tersebut.
Masalahnya, perbandingan sering kali tidak seimbang. Seseorang melihat pencapaian, perjalanan, penampilan, atau aktivitas orang lain, tetapi tidak mengetahui seluruh proses dan kondisi di baliknya.
Karena itu, kehidupan yang terlihat melalui media sosial tidak dapat dijadikan ukuran lengkap untuk menilai kehidupan sendiri.
Cara Menghadapi FOMO pada Anak Muda
Mengurangi FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara sadar.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu:
- Tentukan prioritas pribadi. Tidak semua tren perlu diikuti.
- Berikan jeda dari media sosial. Kurangi kebiasaan membuka aplikasi secara otomatis.
- Tanyakan kebutuhan sebelum membeli. Pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang viral.
- Fokus pada pengalaman sendiri. Aktivitas yang sesuai minat pribadi tidak harus selalu populer.
- Batasi kebiasaan membandingkan diri. Kehidupan setiap orang memiliki kondisi dan proses yang berbeda.
- Pilih lingkungan digital yang sehat. Mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat dapat membantu mengurangi paparan terhadap konten yang memicu tekanan sosial.
Pentingnya Literasi Digital bagi Anak Muda
Kemampuan menggunakan media sosial tidak hanya berkaitan dengan keterampilan mengoperasikan aplikasi. Anak muda juga perlu memahami bagaimana informasi dan tren dapat memengaruhi cara berpikir serta pengambilan keputusan.
Literasi digital membantu seseorang lebih kritis dalam menerima konten. Ketika melihat tren yang sedang viral, pengguna dapat mempertanyakan apakah informasi tersebut benar-benar relevan, apakah sesuai kebutuhan, dan apakah keputusan untuk mengikutinya berasal dari keinginan pribadi atau tekanan lingkungan.
Kemampuan tersebut relevan bagi mahasiswa yang setiap hari berhadapan dengan berbagai sumber informasi. Lingkungan perguruan tinggi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pengambilan keputusan secara mandiri.
Ma’soem University dan Lingkungan Pendidikan bagi Anak Muda
Ma’soem University merupakan salah satu kampus swasta yang dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di lingkungan akademik. Pembahasan mengenai FOMO juga relevan bagi kehidupan mahasiswa karena masa perkuliahan sering mempertemukan anak muda dengan berbagai komunitas, aktivitas, informasi, dan tren.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan dan pengembangan individu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keduanya memiliki konteks pembelajaran yang berkaitan dengan interaksi, perkembangan peserta didik, dan kemampuan menghadapi lingkungan sosial maupun akademik.
Pemahaman mengenai fenomena seperti FOMO dapat membantu anak muda melihat penggunaan media sosial secara lebih sadar. Mengikuti tren boleh saja, tetapi keputusan untuk ikut sebaiknya tetap mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, minat, dan prioritas pribadi.
Informasi Ma’soem University:
- No. WhatsApp: 085185634253
- Instagram: @masoem_university
- Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




