Ketika Produk Menjadi Viral, Bagaimana Tren Media Sosial Memengaruhi Belanja Gen Z?

Pernah merasa awalnya cuma ingin scroll sebentar, tetapi tiba-tiba sudah membuka marketplace karena melihat produk yang sama muncul berkali-kali? Fenomena seperti ini semakin akrab bagi Gen Z. Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat mencari hiburan atau mengikuti tren, tetapi juga ruang untuk menemukan produk, membaca ulasan, melihat rekomendasi, hingga mengambil keputusan pembelian.

Produk yang viral biasanya memperoleh perhatian dalam waktu singkat karena dibicarakan banyak orang, muncul berulang kali di konten, atau digunakan oleh kreator yang memiliki banyak pengikut. Bagi Gen Z, paparan tersebut dapat membentuk rasa penasaran: “Memangnya sebagus itu?” Dari rasa penasaran inilah perjalanan belanja sering dimulai.

Mengapa Gen Z Mudah Tertarik Produk Viral?

Viralitas membuat sebuah produk terasa lebih dekat dan relevan. Ketika sebuah barang muncul dari berbagai akun dengan gaya penyampaian yang berbeda, konsumen dapat memperoleh banyak sudut pandang sebelum membeli.

Beberapa faktor yang dapat mendorong ketertarikan Gen Z antara lain:

  • Konten kreator: pengalaman atau rekomendasi kreator dapat membuat produk lebih mudah dipercaya.
  • FOMO: melihat banyak orang membeli barang yang sama dapat memunculkan rasa takut tertinggal tren.
  • Konten review: video penggunaan produk membantu calon pembeli membayangkan manfaat barang secara lebih nyata.
  • Interaksi sosial: komentar, likes, dan jumlah penonton dapat menjadi sinyal bahwa suatu produk sedang ramai diperhatikan.

Namun, ramai bukan berarti selalu sesuai kebutuhan. Di sinilah konsumen perlu mulai membedakan antara produk yang memang bermanfaat dan produk yang sekadar sedang mendapatkan perhatian besar.

Ketika Tren Membentuk Cara Orang Mengambil Keputusan

Kebiasaan belanja Gen Z tidak hanya dipengaruhi oleh harga. Cara sebuah produk dikemas dalam konten juga dapat menentukan apakah seseorang tertarik atau tidak. Video singkat yang menunjukkan hasil penggunaan, misalnya, dapat membuat manfaat produk terasa lebih konkret dibandingkan sekadar melihat foto katalog.

Algoritma media sosial juga berperan dalam menciptakan paparan berulang. Setelah seseorang berinteraksi dengan konten tertentu, konten serupa dapat kembali muncul. Akibatnya, satu produk yang awalnya terlihat biasa saja dapat perlahan terasa familiar. Masalahnya, familiaritas terkadang disalahartikan sebagai kualitas. Produk yang sering muncul belum tentu paling dibutuhkan, paling tahan lama, atau paling sesuai dengan kondisi keuangan konsumen.

Viral Bukan Berarti Wajib Dibeli

Tren belanja yang cepat dapat membawa persoalan lain, yaitu pembelian impulsif. Gen Z bisa saja membeli karena produk sedang ramai, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Jika kebiasaan tersebut tidak dikendalikan, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat menjadi cukup besar.

Sebelum mengikuti tren, konsumen dapat melakukan pemeriksaan sederhana:

  1. Apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan?
  2. Apakah harganya sesuai dengan anggaran?
  3. Apakah ulasannya berasal dari pengalaman nyata atau sekadar promosi?
  4. Apakah ada produk alternatif dengan fungsi serupa?
  5. Apakah keputusan membeli tetap masuk akal jika produk tersebut tidak sedang viral?

Kebiasaan sederhana tersebut membantu konsumen tetap menjadi pengambil keputusan, bukan sekadar mengikuti arus konten.

Belajar Memahami Tren dari Sisi Bisnis

Menariknya, fenomena produk viral bukan hanya persoalan konsumen. Di balik sebuah produk yang tiba-tiba ramai, terdapat strategi pemasaran yang memanfaatkan konten, perilaku audiens, data, hingga media sosial. Karena itu, memahami fenomena ini juga dapat menjadi bekal bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia bisnis digital.

Di titik ini, Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana bisnis memanfaatkan teknologi digital, pemasaran, perilaku konsumen, serta strategi bisnis untuk menghadapi pasar yang terus berubah. Bagi calon mahasiswa yang ingin memahami bukan hanya “mengapa produk bisa viral?”, tetapi juga bagaimana sebuah bisnis merancang strategi agar produknya dikenal dan dipilih konsumen, pembelajaran di bidang Bisnis Digital dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun pemahaman tersebut.

Dari Konsumen Menjadi Pengamat yang Lebih Cerdas

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat selama digunakan secara kritis. Gen Z memiliki kesempatan untuk membandingkan produk, mencari pengalaman pengguna lain, sekaligus mempelajari bagaimana sebuah tren terbentuk.

Jika ingin memperoleh informasi mengenai program studi S1 Bisnis Digital di Ma’soem University, calon mahasiswa juga dapat menghubungi Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perkuliahan dan pendaftarannya.

Menariknya, pola yang sama dapat dilihat dari sisi bisnis. Ketika sebuah produk viral, pelaku usaha perlu bertanya bukan hanya “bagaimana agar produk saya ikut viral?”, tetapi juga “apa yang membuat konsumen berhenti scroll, tertarik, percaya, lalu membeli?” Pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pemahaman terhadap perilaku konsumen dan strategi pemasaran digital.

Tren Berubah Cepat, Cara Berpikir Jangan Ikut Terburu-buru

Satu produk bisa menjadi pembicaraan utama hari ini dan tergantikan oleh produk lain beberapa minggu kemudian. Karena itu, kemampuan memahami tren menjadi semakin penting, baik bagi konsumen maupun calon pelaku bisnis.

Bagi Gen Z, media sosial dapat menjadi tempat menemukan peluang sekaligus tempat belajar membaca pasar. Tantangannya adalah tidak sekadar mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi memahami mengapa sesuatu menjadi ramai dan bagaimana tren tersebut memengaruhi perilaku manusia.

Pada akhirnya, produk viral memang mampu menarik perhatian dalam hitungan detik. Namun, keputusan belanja yang matang membutuhkan pertimbangan yang lebih panjang. Memahami perilaku konsumen, strategi pemasaran, dan cara kerja bisnis digital dapat membantu Gen Z melihat tren bukan hanya sebagai sesuatu yang harus diikuti, tetapi sebagai fenomena yang menarik untuk dipahami.