Konten Viral Belum Tentu Menghasilkan Penjualan, Apa Yang Sebenarnya Perlu Diukur?

Konten yang mendapatkan ribuan bahkan jutaan views sering dianggap sebagai tanda keberhasilan pemasaran digital. Jumlah penonton yang tinggi memang menunjukkan bahwa sebuah konten berhasil mendapatkan perhatian. Namun, dalam bisnis digital dan e-commerce, perhatian belum tentu berakhir pada transaksi.

Bayangkan sebuah toko online membuat video yang kemudian viral. Banyak orang menonton, memberikan komentar, membagikan video, bahkan mengikuti akun tersebut. Namun, ketika data penjualan diperiksa, jumlah pembelian ternyata tidak mengalami perubahan yang signifikan. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa bisnis tidak bisa hanya melihat seberapa ramai sebuah konten.

Yang lebih penting adalah memahami apa yang terjadi setelah audiens melihat konten. Apakah mereka mengunjungi profil? Membuka halaman produk? Memasukkan barang ke keranjang? Atau benar-benar melakukan checkout?

Kemampuan membaca data seperti ini menjadi bagian penting dalam bisnis digital. Ma’soem University menyediakan program S1 Bisnis Digital yang mempelajari berbagai aspek bisnis di era digital, termasuk pemasaran digital, strategi bisnis, perilaku konsumen, dan pemanfaatan teknologi. Pemahaman tersebut dapat membantu mahasiswa melihat bagaimana data digunakan untuk mengevaluasi strategi pemasaran.

Views Hanya Salah Satu Bagian dari Perjalanan Konsumen

Jumlah views memang mudah dilihat dan sering menjadi angka pertama yang diperhatikan ketika mengevaluasi performa konten. Akan tetapi, angka tersebut belum menjelaskan apakah audiens yang melihat konten benar-benar tertarik dengan produk.

Sebuah video dapat viral karena lucu, informatif, mengikuti tren, atau memiliki bagian yang menarik perhatian. Penonton mungkin menikmati kontennya tanpa memiliki kebutuhan untuk membeli produk yang ditawarkan.

Karena itu, bisnis perlu melihat perjalanan konsumen secara lebih lengkap:

Melihat konten → tertarik → mengunjungi profil → membuka produk → mempertimbangkan → memasukkan ke keranjang → checkout → membeli kembali.

Setiap tahap memiliki data yang dapat membantu bisnis memahami bagian mana yang berjalan dengan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Engagement Membantu Melihat Respons Audiens

Setelah views, bisnis dapat melihat engagement atau interaksi yang muncul dari konten. Likes, komentar, shares, dan saves dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana audiens merespons konten.

Komentar, misalnya, dapat menunjukkan bahwa audiens memiliki pertanyaan atau tertarik dengan produk. Sementara itu, shares dapat menunjukkan bahwa konten dianggap cukup menarik untuk dibagikan kepada orang lain.

Namun, engagement juga perlu dibaca secara hati-hati. Konten yang memperoleh banyak komentar karena kontroversi belum tentu memberikan dampak positif bagi bisnis. Karena itu, angka interaksi perlu dikaitkan dengan tujuan kampanye dan karakter audiens yang berinteraksi.

Klik Produk Menunjukkan Adanya Ketertarikan Lebih Lanjut

Jika views dan engagement membantu melihat perhatian audiens, jumlah klik dapat memberikan informasi mengenai ketertarikan yang lebih spesifik.

Misalnya, sebuah konten mendapatkan 100.000 views, tetapi hanya sedikit orang yang membuka halaman produk. Kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bahwa konten berhasil menarik perhatian, tetapi belum cukup mendorong audiens untuk mencari tahu lebih jauh.

Sebaliknya, konten dengan views lebih kecil tetapi menghasilkan banyak kunjungan ke halaman produk dapat menunjukkan bahwa audiensnya lebih sesuai dengan target pasar.

Beberapa metrik yang dapat diperhatikan pada tahap ini meliputi:

  • Jumlah klik menuju halaman produk.
  • Rasio klik dibandingkan jumlah orang yang melihat konten.
  • Jumlah produk yang dimasukkan ke keranjang.
  • Jumlah transaksi yang berasal dari konten.
  • Nilai penjualan yang dihasilkan.

Conversion Rate Mulai Menunjukkan Dampak terhadap Penjualan

Salah satu metrik yang penting dalam e-commerce adalah conversion rate. Secara sederhana, metrik ini membantu melihat seberapa banyak pengunjung yang akhirnya melakukan tindakan yang diharapkan, seperti membeli produk.

Misalnya, sebuah halaman produk mendapatkan 1.000 kunjungan dan menghasilkan 50 transaksi. Bisnis dapat menggunakan data tersebut untuk melihat tingkat konversinya. Angka tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan periode atau kampanye lain untuk melihat perubahan performa.

Namun, conversion rate juga tidak berdiri sendiri. Jika tingkat konversi rendah, penyebabnya bisa berasal dari berbagai hal. Harga mungkin kurang kompetitif, informasi produk tidak lengkap, proses checkout terlalu rumit, biaya pengiriman tinggi, atau konsumen masih memiliki keraguan terhadap brand.

Artinya, data tidak hanya digunakan untuk mengetahui bahwa suatu strategi berhasil atau tidak. Data juga perlu digunakan untuk mencari alasan di balik hasil tersebut.

Konten Viral Bisa Tetap Berguna Meski Tidak Langsung Menjual

Bukan berarti konten yang tidak menghasilkan banyak transaksi secara langsung tidak memiliki manfaat. Konten viral dapat meningkatkan brand awareness dan membuat lebih banyak orang mengenal sebuah bisnis.

Seseorang mungkin melihat konten hari ini, tetapi baru membeli beberapa minggu kemudian ketika membutuhkan produk tersebut. Karena itu, bisnis perlu membedakan tujuan setiap konten.

Ada konten yang memang dirancang untuk meningkatkan jangkauan, ada yang bertujuan memberikan edukasi, dan ada pula yang dibuat untuk mendorong transaksi. Masing-masing memiliki indikator keberhasilan yang berbeda.

Kesalahan dapat terjadi ketika semua konten dinilai hanya berdasarkan penjualan langsung. Strategi yang lebih tepat adalah menghubungkan metrik dengan tujuan konten sejak awal.

Jangan Terjebak Mengejar Angka yang Terlihat Besar

Salah satu tantangan pemasaran digital adalah angka besar terlihat lebih menarik. Jutaan views tentu lebih mudah dibicarakan daripada ratusan klik atau puluhan transaksi. Padahal, angka yang lebih kecil bisa saja memiliki dampak bisnis yang lebih nyata.

Bisnis dapat membuat evaluasi secara berkala dengan membandingkan beberapa metrik sekaligus. Misalnya, melihat hubungan antara jumlah views, engagement, klik, transaksi, dan pembelian ulang.

Untuk informasi mengenai pembelajaran bisnis digital dan program perkuliahan, calon mahasiswa dapat menghubungi Admin Univ Ma’soem melalui +62 851 8563 4253.

Dari Viral ke Bernilai, Data Menjadi Penghubungnya

Konten viral dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan perhatian konsumen, tetapi bisnis perlu mengetahui apa yang terjadi setelah perhatian tersebut muncul. Views, engagement, klik, conversion rate, hingga pembelian ulang dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perjalanan konsumen.

Dengan membaca data secara menyeluruh, bisnis tidak perlu sekadar mengejar konten yang ramai. Mereka dapat mengetahui jenis konten yang mampu menarik target audiens, mendorong interaksi, mengarahkan konsumen ke produk, dan menghasilkan transaksi.

Pada akhirnya, keberhasilan konten digital bukan hanya tentang berapa banyak orang yang melihatnya. Yang perlu dipahami adalah apa yang dilakukan audiens setelah melihat konten tersebut dan seberapa besar aktivitas itu memberikan nilai bagi bisnis.