Satu tren bisa muncul hari ini, ramai dibicarakan besok, lalu perlahan menghilang beberapa hari kemudian. Bagi bisnis, situasi seperti ini membuka peluang sekaligus menghadirkan jebakan. Mengikuti tren dapat membuat brand lebih mudah ditemukan dan terasa relevan dengan audiens. Namun, jika semua tren langsung diikuti tanpa pertimbangan, strategi pemasaran justru bisa kehilangan arah. Karena itu, bisnis perlu memiliki cara untuk memilah tren mana yang benar-benar layak dimanfaatkan dan mana yang cukup diamati.
Viral Tidak Selalu Berarti Relevan
Jumlah penonton yang tinggi memang menarik perhatian. Namun, viralitas bukan satu-satunya alasan sebuah tren pantas digunakan dalam strategi bisnis.
Misalnya, sebuah sound sedang digunakan oleh jutaan pengguna. Sebuah brand kemudian membuat konten menggunakan sound tersebut, tetapi isi kontennya tidak berkaitan dengan produk maupun karakter audiens. Konten mungkin mendapatkan views, tetapi belum tentu menghasilkan interaksi yang berarti atau membawa pelanggan lebih dekat kepada pembelian.
Sebelum ikut tren, bisnis dapat memeriksa beberapa hal:
- Apakah tren sesuai dengan target pasar?
- Apakah relevan dengan produk atau jasa yang ditawarkan?
- Apakah tren masih memiliki ruang untuk dikembangkan?
- Apakah penggunaannya sesuai dengan identitas brand?
Dengan pertanyaan sederhana tersebut, bisnis tidak sekadar mengejar angka viral, tetapi mempertimbangkan manfaatnya bagi tujuan pemasaran.
Kenali Dulu: Tren Ini Cocok untuk Siapa?
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap tren yang ramai berarti harus digunakan oleh semua bisnis. Padahal, setiap brand memiliki karakter, target konsumen, dan gaya komunikasi yang berbeda.
Brand yang menyasar mahasiswa tentu tidak selalu menggunakan pendekatan yang sama dengan bisnis yang menargetkan orang tua. Bahkan dalam kelompok usia yang sama, kebiasaan dan kebutuhan konsumen dapat berbeda.
Di sinilah pemahaman mengenai bisnis digital menjadi penting. Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai bisnis, pemasaran digital, teknologi, serta strategi menghadapi perubahan perilaku konsumen. Bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari cara membaca peluang digital sekaligus mengembangkan strategi bisnis secara lebih terarah, informasi mengenai program studi dapat ditanyakan melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.
Jangan Sampai Tren Mengubah Identitas Brand
Bayangkan sebuah bisnis yang selama ini dikenal profesional dan informatif, kemudian tiba-tiba membuat konten dengan gaya yang jauh berbeda hanya karena sedang viral. Jika dilakukan tanpa penyesuaian, audiens bisa merasa bingung dengan karakter brand tersebut.
Masalahnya bukan pada mengikuti tren, melainkan bagaimana tren tersebut diterjemahkan. Sebuah tren dapat dimodifikasi agar tetap memiliki ciri khas bisnis.
Alih-alih meniru konten yang sedang ramai secara mentah, bisnis dapat mengambil unsur yang menarik lalu menghubungkannya dengan produknya. Dengan begitu, tren berfungsi sebagai kendaraan untuk menyampaikan pesan brand, bukan mengambil alih identitasnya.
Ada Tren yang Cepat Naik, Ada yang Punya Umur Panjang
Tidak semua tren memiliki siklus hidup yang sama. Ada tren yang meledak karena sebuah video, kemudian hilang dalam hitungan hari. Ada pula tren yang berkembang menjadi kebiasaan konsumen dan bertahan lebih lama.
Bisnis perlu membedakan keduanya. Tren jangka pendek dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perhatian, sedangkan tren yang lebih panjang bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pemasaran yang lebih serius.
Salah satu cara sederhana adalah melihat:
- Seberapa konsisten tren tersebut mendapatkan perhatian.
- Apakah pembahasannya mulai muncul di berbagai komunitas atau platform.
- Apakah tren berkaitan dengan kebutuhan konsumen.
- Apakah bisnis memiliki sumber daya untuk mengikutinya secara konsisten.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya berdasarkan perasaan “lagi ramai”.
Data Membantu Bisnis Tidak Asal Ikut
Ketika sebuah tren mulai digunakan, bisnis dapat melihat hasilnya melalui data. Bukan hanya jumlah views, tetapi juga komentar, penyimpanan, pembagian konten, kunjungan profil, klik produk, hingga transaksi jika tersedia.
Misalnya, sebuah konten mendapatkan 100 ribu views tetapi hanya menghasilkan sedikit kunjungan ke toko. Sementara konten lain memperoleh 20 ribu views tetapi menghasilkan lebih banyak pertanyaan dan pembelian. Dari sini terlihat bahwa popularitas dan dampak bisnis merupakan dua hal yang berbeda.
Jika bisnis kesulitan membaca data tersebut, masalahnya bukan berarti harus berhenti menggunakan tren. Justru kemampuan menganalisis data perlu dipelajari agar keputusan pemasaran tidak hanya berdasarkan intuisi.
Saatnya Belajar Membaca Tren, Bukan Sekadar Mengejarnya
Mengikuti tren memang membutuhkan kecepatan, tetapi kecepatan tanpa strategi dapat membuat bisnis bergerak tanpa tujuan. Dibutuhkan kemampuan untuk membaca perilaku konsumen, memahami pemasaran digital, mengolah informasi, dan menentukan apakah sebuah peluang sesuai dengan tujuan bisnis.
Karena itu, belajar mengenai bisnis digital dapat menjadi langkah untuk membangun kemampuan tersebut sejak awal. Melalui pembelajaran yang menggabungkan konsep bisnis dengan praktik digital, mahasiswa dapat lebih terbiasa melihat tren bukan hanya sebagai sesuatu yang viral, tetapi sebagai fenomena yang perlu dianalisis.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah tren ini sedang viral?”, melainkan “Apa yang bisa dilakukan bisnis dengan tren ini, dan apakah dampaknya benar-benar relevan?” Dari sana, tren tidak lagi sekadar sesuatu yang harus dikejar, tetapi menjadi peluang yang dipilih secara lebih cermat.




