Dari Brand Awareness Ke Penjualan, Bagaimana Strategi Pemasaran Online Menghubungkan Keduanya?

Sebuah brand bisa memiliki banyak pengikut, mendapatkan views tinggi, atau sering muncul di media sosial. Namun, apakah kondisi tersebut otomatis membuat penjualan meningkat? Belum tentu. Konsumen mungkin sudah mengenal sebuah brand, tetapi masih membutuhkan alasan lain sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli.

Di sinilah strategi pemasaran online berperan. Pemasaran tidak hanya bertujuan membuat brand dikenal, tetapi juga mengarahkan calon konsumen secara bertahap dari mengenal produk, mencari informasi, mempertimbangkan pilihan, hingga melakukan transaksi. Setiap tahap membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda agar perhatian yang sudah diperoleh tidak berhenti hanya sebagai angka di media sosial.

Bagi mahasiswa yang ingin memahami proses tersebut secara lebih mendalam, Ma’soem University menyediakan program S1 Bisnis Digital yang mempelajari berbagai aspek bisnis digital, termasuk pemasaran, perilaku konsumen, strategi bisnis, dan pemanfaatan teknologi. Pembelajaran tersebut dapat menjadi bekal untuk memahami bagaimana sebuah bisnis menghubungkan aktivitas pemasaran dengan tujuan penjualan.

Brand Awareness Menjadi Langkah Awal

Sebelum membeli sebuah produk, konsumen perlu mengetahui bahwa produk tersebut ada. Karena itu, brand awareness menjadi salah satu bagian penting dalam pemasaran online.

Bisnis dapat membangun awareness melalui berbagai saluran, seperti media sosial, mesin pencarian, marketplace, website, hingga kolaborasi dengan content creator. Konten yang dibuat tidak harus selalu berupa promosi langsung. Informasi edukatif, tips, hiburan, storytelling, maupun konten yang berkaitan dengan kebutuhan target konsumen juga dapat membantu brand lebih mudah dikenali.

Namun, tujuan awareness bukan sekadar membuat nama brand muncul sebanyak mungkin. Brand perlu membangun kesan yang jelas agar konsumen dapat mengingat apa yang ditawarkan dan alasan mengapa brand tersebut relevan bagi mereka.

Setelah Dikenal, Konsumen Mulai Mencari Informasi

Ketika sebuah brand berhasil mendapatkan perhatian, tahap berikutnya adalah membangun ketertarikan. Konsumen bisa mulai mengunjungi akun media sosial, membaca deskripsi produk, melihat website, mencari review, atau membandingkan produk dengan kompetitor.

Pada tahap ini, bisnis perlu memastikan informasi yang tersedia cukup lengkap. Foto produk, harga, spesifikasi, ulasan, cara penggunaan, hingga informasi pengiriman dapat membantu konsumen mengurangi keraguan.

Bayangkan seseorang melihat sebuah produk melalui video pendek. Kontennya menarik, tetapi ketika calon pembeli membuka halaman produk, informasi yang tersedia sangat sedikit. Kemungkinan konsumen untuk melanjutkan pencarian ke tempat lain tetap terbuka.

Karena itu, pemasaran online perlu memiliki alur yang saling terhubung. Konten menarik harus mengarah pada informasi yang jelas, sementara informasi tersebut perlu memudahkan konsumen menuju tahap berikutnya.

Konten dan Penawaran Perlu Memiliki Tujuan yang Jelas

Tidak semua konten harus bertujuan menjual secara langsung. Ada konten yang berfungsi mengenalkan brand, membangun kepercayaan, memberikan edukasi, atau mendorong konsumen melakukan tindakan tertentu.

Bisnis dapat membagi tujuan konten berdasarkan tahap perjalanan konsumen, misalnya:

  • Awareness: mengenalkan brand dan masalah yang dapat diselesaikan produk.
  • Consideration: memberikan informasi, edukasi, dan bukti dari pengalaman pelanggan.
  • Conversion: memberikan penawaran dan kemudahan untuk melakukan pembelian.
  • Retention: menjaga hubungan agar konsumen tertarik melakukan pembelian kembali.

Pembagian tersebut membuat strategi pemasaran lebih terarah. Bisnis tidak perlu memaksa semua konten untuk langsung menghasilkan transaksi karena setiap konten dapat memiliki peran yang berbeda dalam perjalanan konsumen.

Kepercayaan Menjadi Penghubung antara Minat dan Pembelian

Salah satu alasan konsumen belum melakukan pembelian meskipun sudah mengenal sebuah brand adalah kurangnya kepercayaan. Mereka mungkin masih mempertanyakan kualitas produk, keamanan transaksi, pelayanan, atau pengalaman pelanggan lainnya.

Karena itu, strategi pemasaran online perlu didukung dengan bukti yang dapat membantu calon konsumen merasa lebih yakin. Ulasan pelanggan, foto produk dari pembeli, video penggunaan, informasi yang transparan, serta respons terhadap pertanyaan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Kepercayaan juga tidak hanya dibangun melalui iklan. Pengalaman ketika menghubungi customer service, melakukan pembayaran, menerima barang, hingga mengajukan komplain ikut memengaruhi cara konsumen menilai sebuah brand.

Tantangan: Banyak Traffic, tetapi Penjualan Tidak Mengikuti

Salah satu masalah yang dapat terjadi dalam pemasaran online adalah tingginya jumlah pengunjung tetapi rendahnya transaksi. Konten mungkin berhasil mendapatkan views dan website memperoleh banyak kunjungan, tetapi calon konsumen berhenti sebelum checkout.

Situasi ini perlu dilihat dari berbagai sisi. Bisa saja informasi produk kurang jelas, harga tidak kompetitif, proses checkout terlalu rumit, metode pembayaran terbatas, atau konsumen belum cukup percaya.

Bisnis dapat menggunakan data untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Jika banyak orang melihat produk tetapi hanya sedikit yang melakukan pembelian, misalnya, strategi tidak selalu harus dimulai dengan membuat lebih banyak konten. Bisa jadi halaman produk, penawaran, atau pengalaman checkout yang perlu dievaluasi.

Penjualan Bukan Akhir dari Strategi Pemasaran

Ketika transaksi berhasil terjadi, hubungan antara brand dan konsumen sebenarnya belum selesai. Pengalaman setelah pembelian dapat menentukan apakah pelanggan akan membeli kembali atau justru berpindah ke brand lain.

Bisnis dapat melanjutkan komunikasi melalui informasi perawatan produk, layanan pelanggan, program loyalitas, rekomendasi produk yang relevan, atau penawaran yang sesuai dengan riwayat pembelian. Pendekatan tersebut membuat pemasaran tidak berhenti pada satu transaksi.

Untuk memperoleh informasi mengenai program pendidikan dan perkuliahan, calon mahasiswa dapat menghubungi Admin Univ Ma’soem melalui +62 851 8563 4253.

Dari Dikenal hingga Dibeli, Semuanya Membutuhkan Alur

Brand awareness dan penjualan bukan dua tujuan yang berdiri sendiri. Keduanya dapat dihubungkan melalui perjalanan konsumen yang dirancang dengan baik. Brand perlu terlebih dahulu mendapatkan perhatian, kemudian memberikan informasi yang relevan, membangun kepercayaan, memudahkan proses pembelian, dan menjaga hubungan setelah transaksi.

Dengan begitu, pemasaran online tidak hanya mengejar jumlah views atau followers. Setiap aktivitas memiliki peran dalam membawa konsumen dari tahap “pernah melihat brand” menjadi “mempertimbangkan produk”, lalu akhirnya melakukan pembelian dan mengenal brand lebih jauh melalui pengalaman mereka sendiri.