Kenapa Profesi Guru dan Dosen Sama-Sama Membutuhkan Kemampuan Komunikasi?

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan penting dalam profesi guru dan dosen. Keduanya sama-sama berhadapan dengan peserta didik, tetapi berada pada jenjang pendidikan dan karakteristik pembelajaran yang berbeda. Guru berinteraksi dengan siswa di sekolah, sedangkan dosen mendampingi mahasiswa di perguruan tinggi.

Materi pembelajaran yang baik belum tentu mudah dipahami apabila tidak disampaikan secara jelas. Karena itu, kemampuan komunikasi membantu guru dan dosen menyampaikan informasi, membangun interaksi, memberikan arahan, serta menciptakan suasana belajar yang mendukung.

Guru dan Dosen Tidak Hanya Menyampaikan Materi

Peran guru dan dosen tidak sebatas menjelaskan materi di depan kelas. Keduanya juga perlu memastikan bahwa peserta didik memahami informasi yang disampaikan dan memiliki kesempatan untuk berinteraksi selama proses pembelajaran.

Guru, misalnya, perlu menyesuaikan bahasa berdasarkan usia dan tingkat pemahaman siswa. Penjelasan untuk siswa sekolah dasar tentu berbeda dari cara menjelaskan konsep kepada siswa sekolah menengah.

Dosen juga menghadapi kebutuhan komunikasi yang berbeda. Mahasiswa diharapkan lebih mandiri dalam belajar, sehingga komunikasi dosen tidak selalu berupa penjelasan materi. Diskusi, pengarahan tugas, pemberian umpan balik, dan konsultasi akademik juga menjadi bagian dari interaksi antara dosen dan mahasiswa.

Mengapa Kemampuan Komunikasi Penting bagi Guru?

Guru berinteraksi secara langsung dan rutin dengan siswa. Cara guru berbicara dapat memengaruhi bagaimana siswa memahami instruksi, materi, maupun tujuan pembelajaran.

Kemampuan komunikasi membantu guru dalam beberapa hal, seperti:

  • Menjelaskan materi secara runtut dan mudah dipahami.
  • Memberikan instruksi kegiatan secara jelas.
  • Mendorong siswa untuk berani bertanya dan menyampaikan pendapat.
  • Memberikan koreksi tanpa membuat siswa merasa direndahkan.
  • Mengelola interaksi di dalam kelas.
  • Berkomunikasi dengan orang tua mengenai perkembangan siswa.

Komunikasi yang baik juga berkaitan dengan kemampuan guru mendengarkan. Ketika siswa mengalami kesulitan belajar atau memiliki pertanyaan, guru perlu memahami persoalan tersebut sebelum memberikan respons.

Mengapa Dosen Juga Membutuhkan Kemampuan Komunikasi?

Pada pendidikan tinggi, komunikasi tetap menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Dosen perlu menjelaskan konsep yang terkadang lebih kompleks sekaligus mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis.

Komunikasi dosen dapat muncul melalui berbagai kegiatan, mulai dari perkuliahan, diskusi, presentasi, bimbingan akademik, hingga pemberian umpan balik terhadap tugas mahasiswa.

Dosen yang mampu menyampaikan penjelasan secara terstruktur dapat membantu mahasiswa mengikuti pembelajaran secara lebih sistematis. Sebaliknya, instruksi yang kurang jelas dapat membuat mahasiswa kesulitan memahami tugas atau tujuan pembelajaran.

Kemampuan mendengarkan juga diperlukan. Mahasiswa memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara belajar yang beragam. Respons dosen terhadap pertanyaan atau pendapat mahasiswa menjadi bagian dari proses komunikasi akademik.

Bentuk Kemampuan Komunikasi yang Dibutuhkan Guru dan Dosen

Kemampuan komunikasi dalam profesi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan kelas. Ada beberapa keterampilan yang saling melengkapi.

1. Komunikasi Lisan

Guru dan dosen perlu mampu menyampaikan gagasan secara jelas, runtut, dan sesuai kondisi peserta didik. Intonasi, pilihan kata, volume suara, serta kecepatan berbicara juga dapat memengaruhi penerimaan informasi.

2. Kemampuan Mendengarkan

Komunikasi berjalan dua arah. Guru maupun dosen perlu memberikan perhatian ketika siswa atau mahasiswa menyampaikan pertanyaan, pendapat, maupun kesulitan.

Kemampuan mendengarkan membantu pendidik memahami kebutuhan peserta didik sebelum menentukan respons atau memberikan solusi.

3. Komunikasi Nonverbal

Ekspresi wajah, kontak mata, gestur, dan bahasa tubuh turut memberikan pesan dalam proses pembelajaran. Sikap terbuka dan perhatian dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih nyaman di kelas.

4. Komunikasi Tertulis

Guru dan dosen juga menggunakan komunikasi tertulis melalui bahan ajar, instruksi tugas, pengumuman, pesan kepada orang tua, maupun umpan balik akademik. Tulisan yang jelas dapat mengurangi kesalahpahaman dalam menyampaikan informasi.

Komunikasi Membantu Membangun Interaksi di Kelas

Kelas bukan hanya tempat berlangsungnya penyampaian materi. Interaksi antara pendidik dan peserta didik turut menentukan bagaimana proses belajar berlangsung.

Guru dapat menggunakan pertanyaan untuk mendorong siswa berpikir dan berpendapat. Dosen dapat membuka ruang diskusi agar mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan menyampaikan argumen.

Komunikasi yang interaktif juga dapat membantu peserta didik merasa lebih terlibat dalam pembelajaran. Hal tersebut membuat kemampuan komunikasi menjadi keterampilan yang relevan bagi calon pendidik sejak masih berada di bangku kuliah.

Kemampuan Komunikasi Perlu Dilatih Sejak Menjadi Mahasiswa

Mahasiswa yang ingin berkarier sebagai guru atau dosen dapat mulai melatih kemampuan komunikasi melalui berbagai aktivitas akademik. Presentasi, diskusi kelompok, praktik mengajar, organisasi, dan kegiatan akademik lainnya dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan tersebut.

Latihan tidak hanya berfokus pada keberanian berbicara. Mahasiswa juga perlu belajar menyusun gagasan, memilih kata yang sesuai, mendengarkan orang lain, menjawab pertanyaan, serta memberikan penjelasan secara sistematis.

Bagi mahasiswa bidang pendidikan, pengalaman praktik mengajar dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana teori pembelajaran diterapkan dalam situasi nyata. Kemampuan berkomunikasi kemudian dapat berkembang melalui evaluasi dan pengalaman menghadapi berbagai karakter peserta didik.

Pendidikan Guru dan Pengembangan Kemampuan Komunikasi

Perguruan tinggi memiliki peran dalam mempersiapkan mahasiswa agar memiliki keterampilan yang relevan untuk dunia pendidikan. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Ma’soem University, salah satu kampus swasta yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

FKIP Ma’soem University menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki aktivitas akademik yang berkaitan erat dengan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, meskipun fokus keilmuannya berbeda.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, misalnya, perlu mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus kemampuan menyampaikan materi kepada peserta didik. Sementara itu, mahasiswa Bimbingan dan Konseling perlu mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal yang mendukung proses pendampingan dan layanan konseling.

Komunikasi sebagai Keterampilan yang Terus Berkembang

Kemampuan komunikasi bagi guru dan dosen bukan keterampilan yang selesai dipelajari setelah lulus kuliah. Pengalaman mengajar, interaksi dengan peserta didik, evaluasi pembelajaran, serta perkembangan teknologi pendidikan dapat menghadirkan kebutuhan komunikasi yang terus berubah.

Pendidik juga perlu menyesuaikan cara berkomunikasi berdasarkan situasi. Bahasa yang digunakan ketika menjelaskan materi tentu dapat berbeda dari cara memberikan umpan balik, menangani pertanyaan, atau berkomunikasi dengan orang tua dan rekan kerja.

Karena itu, calon guru maupun calon tenaga pendidik perlu memandang komunikasi sebagai bagian dari kompetensi profesional yang terus dilatih. Kemampuan menjelaskan, mendengarkan, merespons, dan membangun interaksi dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com