WhatsApp menjadi salah satu aplikasi komunikasi yang sering digunakan masyarakat Indonesia untuk bertukar informasi. Melalui grup keluarga, teman, lingkungan kerja, hingga komunitas, berbagai berita dapat tersebar hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Berita palsu atau hoaks sering kali ikut menyebar karena pengguna langsung meneruskan pesan tanpa memeriksa kebenarannya.
Kebiasaan membagikan informasi secara cepat memang memudahkan komunikasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Informasi yang belum terbukti kebenarannya dapat memicu kepanikan, merusak reputasi seseorang, bahkan memengaruhi pandangan masyarakat terhadap suatu peristiwa. Oleh karena itu, kemampuan mengecek fakta atau fact-checking menjadi hal penting sebelum membagikan berita viral ke WhatsApp.
Mengapa Berita Viral di WhatsApp Perlu Diperiksa?
Berita yang viral belum tentu benar. Banyak orang menganggap informasi yang diterima berkali-kali dari berbagai grup sebagai sesuatu yang dapat dipercaya. Padahal, satu pesan yang sama bisa saja diteruskan oleh ratusan orang tanpa pernah diperiksa sumber aslinya.
Salah satu alasan hoaks mudah menyebar adalah karena isinya sering memanfaatkan emosi pembaca. Judul yang mengejutkan, kabar tentang bencana, isu kesehatan, hingga informasi mengenai kebijakan pemerintah dapat mendorong seseorang untuk segera membagikannya.
Selain itu, pesan WhatsApp sering kali tidak menyertakan tautan berita atau sumber informasi yang dapat diverifikasi. Akibatnya, penerima kesulitan mengetahui siapa yang pertama kali menyampaikan informasi tersebut.
1. Periksa Sumber Informasi Berita
Langkah pertama untuk mengecek fakta berita viral adalah memperhatikan sumber informasi. Periksa apakah berita berasal dari media massa yang memiliki identitas redaksi, alamat situs resmi, dan informasi penulis yang jelas.
Jika pesan WhatsApp hanya berisi tulisan tanpa mencantumkan sumber, sebaiknya jangan langsung mempercayainya. Cobalah mencari informasi serupa melalui media berita terpercaya atau situs resmi lembaga yang berkaitan dengan isu tersebut.
Misalnya, ketika menerima informasi mengenai perubahan kebijakan pemerintah, periksa langsung situs kementerian atau instansi terkait. Informasi dari sumber resmi biasanya lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan pesan berantai yang tidak diketahui asalnya.
2. Jangan Hanya Membaca Judul Berita
Judul yang sensasional sering digunakan untuk menarik perhatian pembaca. Tidak sedikit informasi viral yang menggunakan kata-kata seperti “Darurat!”, “Sebarkan Segera!”, atau “Jangan Sampai Terlambat!” untuk mendorong orang membagikan pesan.
Padahal, judul belum tentu menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Bahkan, beberapa judul sengaja dibuat berlebihan agar pembaca langsung bereaksi tanpa memahami konteksnya.
Biasakan membaca isi berita secara lengkap. Perhatikan tanggal publikasi, lokasi kejadian, pihak yang terlibat, serta penjelasan yang diberikan. Berita lama juga terkadang dibagikan kembali seolah-olah merupakan peristiwa baru.
3. Bandingkan Informasi dari Beberapa Sumber
Jangan hanya mengandalkan satu sumber ketika menerima berita yang penting atau berpotensi menimbulkan kepanikan. Bandingkan informasi tersebut dengan pemberitaan dari media lain yang memiliki reputasi baik.
Jika beberapa media terpercaya memberitakan peristiwa yang sama dan menyampaikan fakta yang konsisten, informasi tersebut memiliki dasar yang lebih kuat. Namun, tetap perhatikan apakah masing-masing media mengutip sumber yang jelas.
Perbandingan sumber juga membantu menemukan informasi yang sengaja dipotong atau disampaikan tanpa konteks. Cara ini sangat berguna ketika menerima berita mengenai politik, kesehatan, pendidikan, maupun peristiwa sosial.
4. Gunakan Situs Pemeriksa Fakta
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pemeriksa fakta untuk mengetahui apakah informasi yang beredar termasuk hoaks, benar, atau menyesatkan. Beberapa platform yang dapat digunakan antara lain:
- CekFakta.com: Menyediakan hasil pemeriksaan fakta dari kolaborasi sejumlah media di Indonesia.
- TurnBackHoax.id: Dikelola oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan memuat berbagai klarifikasi informasi yang beredar.
- Kominfo: Masyarakat dapat mencari klarifikasi dan informasi terkait hoaks melalui kanal resmi pemerintah yang menangani komunikasi dan digital.
Caranya cukup sederhana. Salin kata kunci utama dari pesan WhatsApp, kemudian masukkan ke kolom pencarian situs pemeriksa fakta. Jika informasi tersebut pernah diperiksa, biasanya akan tersedia penjelasan mengenai fakta sebenarnya beserta sumber pendukungnya.
5. Periksa Foto dan Video yang Menyertai Berita
Tidak semua berita palsu berbentuk tulisan. Foto dan video juga sering digunakan untuk memperkuat informasi yang belum tentu benar. Sebuah gambar dari kejadian beberapa tahun lalu dapat digunakan kembali untuk menggambarkan peristiwa yang berbeda.
Untuk memeriksa keaslian gambar, pengguna dapat memanfaatkan Google Lens. Fitur ini memungkinkan seseorang mencari informasi berdasarkan gambar sehingga dapat menemukan sumber atau penggunaan gambar sebelumnya.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Apakah foto benar-benar berasal dari lokasi yang disebutkan?
- Apakah tanggal pengambilan gambar sesuai dengan waktu kejadian?
- Apakah video menampilkan peristiwa secara utuh atau hanya potongan tertentu?
- Apakah terdapat tanda-tanda gambar telah diedit atau dimanipulasi?
Pemeriksaan visual menjadi semakin penting karena teknologi kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pembuatan foto, suara, dan video palsu yang terlihat meyakinkan.
6. Waspadai Pesan Berantai dan Ajakan Menyebarkan Informasi
Pesan yang meminta penerima meneruskan informasi kepada sebanyak mungkin orang patut dicurigai, terutama jika disertai ancaman atau peringatan yang tidak masuk akal.
Contohnya adalah pesan yang menyatakan bahwa seseorang akan terkena dampak buruk jika tidak meneruskan informasi tersebut kepada sepuluh kontak. Pola seperti ini sering ditemukan dalam pesan berantai yang tidak memiliki dasar informasi jelas.
WhatsApp sebenarnya menyediakan fitur label Forwarded atau Diteruskan untuk membantu pengguna mengenali pesan yang telah dibagikan dari percakapan lain. Meskipun tidak otomatis menunjukkan bahwa pesan tersebut salah, label ini dapat menjadi pengingat untuk memeriksa kebenarannya.
7. Biasakan Berpikir Kritis Sebelum Menekan Tombol Bagikan
Kemampuan mengecek fakta tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga kebiasaan berpikir kritis. Setiap orang perlu membiasakan diri mempertanyakan informasi yang diterima sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ajukan beberapa pertanyaan sederhana:
- Siapa yang membuat informasi tersebut?
- Apa bukti yang mendukung pernyataannya?
- Kapan dan di mana peristiwa itu terjadi?
- Apakah ada sumber lain yang membenarkan informasi tersebut?
- Apakah informasi tersebut berpotensi menyesatkan jika dibagikan tanpa konteks?
Jika belum menemukan bukti yang cukup, lebih baik tidak meneruskan pesan tersebut. Menahan diri untuk tidak membagikan informasi yang belum terverifikasi merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dalam menggunakan media digital.
Pentingnya Literasi Digital bagi Mahasiswa
Kemampuan memeriksa fakta merupakan bagian dari literasi digital yang perlu dimiliki masyarakat, termasuk mahasiswa. Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mencari informasi, tetapi juga harus dapat menilai kredibilitas sumber, membandingkan data, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung turut menjadi lingkungan pendidikan yang relevan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan perlu memiliki keterampilan berpikir kritis dan memahami penggunaan teknologi secara bijak.
Hal ini juga relevan bagi mahasiswa FKIP Ma’soem University, yang memiliki program studi Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan memahami informasi secara kritis dapat mendukung proses pembelajaran, komunikasi, dan penyampaian pengetahuan kepada orang lain.
Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan aplikasi atau menggunakan internet. Lebih dari itu, keterampilan ini mencakup kesadaran untuk menjaga keamanan informasi, menghargai privasi, serta menghindari penyebaran berita yang belum terbukti kebenarannya.
Informasi Kontak Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com





