15 20260218 150743 0004.jpg

Kesalahan Fatal Saat Praktik Mengajar di Sekolah yang Wajib Dihindari Calon Guru

Praktik mengajar di sekolah merupakan fase krusial dalam perjalanan seorang calon guru. Di tahap inilah teori pendidikan yang dipelajari di bangku kuliah diuji langsung di ruang kelas yang nyata, dengan karakter siswa yang beragam, dinamika kelas yang kompleks, serta tuntutan profesionalisme yang tinggi. Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa keguruan yang melakukan kesalahan fatal saat praktik mengajar di sekolah, baik karena kurang persiapan, mental yang belum matang, maupun pemahaman pedagogik yang belum utuh.

Kesalahan-kesalahan ini tidak hanya berdampak pada kualitas pembelajaran siswa, tetapi juga dapat memengaruhi penilaian guru pamong, dosen pembimbing, bahkan kepercayaan diri calon guru itu sendiri. Oleh karena itu, memahami apa saja kesalahan fatal saat praktik mengajar di sekolah menjadi bekal penting bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Kurang Persiapan Sebelum Masuk Kelas

Kesalahan paling mendasar namun sering terjadi adalah masuk kelas tanpa persiapan matang. Banyak mahasiswa praktikan menganggap RPP atau modul ajar sebagai formalitas administratif, padahal dokumen tersebut merupakan peta utama pembelajaran. Tanpa persiapan yang jelas, proses mengajar menjadi tidak terarah, tujuan pembelajaran tidak tercapai, dan siswa mudah kehilangan fokus.

Persiapan tidak hanya soal materi, tetapi juga mencakup metode, media pembelajaran, strategi pengelolaan kelas, serta alternatif solusi jika rencana awal tidak berjalan sesuai harapan. Guru yang siap akan terlihat percaya diri, sedangkan guru yang tidak siap akan mudah panik ketika situasi kelas berubah.

Mengabaikan Karakter dan Kebutuhan Siswa

Setiap kelas memiliki karakter unik. Kesalahan fatal saat praktik mengajar di sekolah adalah memperlakukan semua siswa dengan pendekatan yang sama. Ada siswa yang cepat memahami, ada yang butuh pengulangan, ada pula yang memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik.

Calon guru yang tidak peka terhadap perbedaan ini cenderung menyampaikan materi secara monoton. Akibatnya, siswa merasa tidak diperhatikan dan pembelajaran menjadi kurang bermakna. Guru profesional seharusnya mampu menyesuaikan gaya mengajar dengan kebutuhan siswa, bukan memaksa siswa menyesuaikan diri dengan gaya mengajarnya.

Terlalu Fokus pada Materi, Lupa Membangun Relasi

Banyak mahasiswa praktikan beranggapan bahwa mengajar berarti menyampaikan materi sebanyak mungkin. Padahal, esensi pendidikan adalah membangun hubungan edukatif antara guru dan siswa. Kesalahan fatal lainnya adalah kurangnya komunikasi dua arah, minim interaksi, dan tidak memberi ruang bagi siswa untuk bertanya atau berpendapat.

Relasi yang baik akan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif. Siswa tidak takut salah, berani mencoba, dan lebih mudah menerima materi. Guru yang hanya “mengejar target materi” tanpa membangun kedekatan emosional akan kesulitan mengelola kelas.

Manajemen Kelas yang Lemah

Tidak mampu mengendalikan kelas adalah kesalahan yang sering terjadi saat praktik mengajar di sekolah. Kelas menjadi ribut, siswa tidak fokus, dan waktu pembelajaran terbuang percuma. Ini biasanya terjadi karena calon guru kurang tegas, ragu dalam mengambil keputusan, atau tidak memiliki aturan kelas yang jelas sejak awal.

Manajemen kelas bukan berarti bersikap keras, melainkan tegas dan konsisten. Guru harus mampu menetapkan batasan, memberi penguatan positif, serta menegur dengan cara yang mendidik. Kelas yang tertib akan memudahkan tercapainya tujuan pembelajaran.

Kurang Mampu Mengelola Waktu

Kesalahan fatal berikutnya adalah pengelolaan waktu yang buruk. Materi terlalu panjang sehingga tidak selesai, atau justru terlalu cepat sehingga waktu tersisa tanpa aktivitas bermakna. Hal ini menunjukkan kurangnya perencanaan dan pengalaman mengajar.

Guru yang baik tahu kapan harus mempercepat, memperlambat, atau mengubah strategi. Praktik mengajar adalah latihan penting untuk membangun kepekaan terhadap ritme kelas dan efektivitas waktu.

Tidak Mau Menerima Masukan

Sebagian mahasiswa praktikan merasa tertekan saat menerima kritik dari guru pamong atau dosen pembimbing. Bahkan ada yang bersikap defensif dan menganggap masukan sebagai serangan pribadi. Padahal, sikap ini merupakan kesalahan fatal dalam proses belajar menjadi guru.

Masukan adalah bagian dari pembentukan profesionalisme. Guru yang hebat justru lahir dari proses evaluasi berkelanjutan. Kemampuan menerima kritik dengan terbuka akan mempercepat perkembangan kompetensi mengajar.

Peran FKIP dalam Mencegah Kesalahan Praktik Mengajar

Kesadaran akan berbagai kesalahan fatal saat praktik mengajar di sekolah mendorong lembaga pendidikan guru untuk menyiapkan mahasiswa secara komprehensif. Di Ma’soem University, khususnya melalui FKIP, mahasiswa tidak hanya dibekali teori pedagogik, tetapi juga dilatih secara intensif melalui microteaching, observasi sekolah, serta pendampingan dosen berpengalaman.

FKIP Ma’soem University menekankan pembentukan karakter pendidik, kemampuan komunikasi, manajemen kelas, serta refleksi diri. Mahasiswa diarahkan untuk memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar menguasai materi, melainkan juga menjadi fasilitator, motivator, dan teladan bagi peserta didik.

Lingkungan akademik yang suportif ini membantu mahasiswa mengantisipasi kesalahan sejak dini, sehingga praktik mengajar di sekolah dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan membangun kepercayaan diri.

Kesalahan fatal saat praktik mengajar di sekolah sejatinya adalah bagian dari proses belajar, selama disadari dan diperbaiki. Calon guru perlu memahami bahwa praktik mengajar bukan ajang pembuktian kesempurnaan, melainkan ruang latihan untuk tumbuh dan berkembang.