29 20260218 150744 0018.jpg

Pentingnya Empati bagi Calon Guru Profesional

Empati bukan sekadar sikap simpatik atau rasa iba kepada orang lain. Dalam dunia pendidikan, empati adalah fondasi utama yang membentuk kualitas seorang guru profesional. Guru yang memiliki empati mampu memahami kondisi psikologis, sosial, dan emosional peserta didik, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, pentingnya empati bagi calon guru profesional menjadi topik yang relevan dan krusial untuk dibahas, terutama bagi mahasiswa kependidikan yang sedang mempersiapkan diri terjun ke dunia pendidikan.

Empati sebagai Kompetensi Inti Guru Profesional

Seorang guru profesional dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Empati berada di titik temu keempat kompetensi tersebut. Dengan empati, guru mampu memahami perbedaan latar belakang siswa, mulai dari kondisi keluarga, budaya, hingga kemampuan belajar. Setiap siswa datang ke kelas dengan cerita hidup yang berbeda. Guru yang empatik tidak akan terburu-buru memberi label “malas” atau “kurang mampu”, melainkan berusaha mencari akar permasalahan dan solusi yang tepat.

Dalam praktiknya, empati membantu guru menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman. Siswa akan merasa dihargai, didengar, dan dipahami. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa. Tidak heran jika empati sering disebut sebagai kunci keberhasilan pembelajaran yang humanis.

Tantangan Pendidikan dan Peran Empati

Dunia pendidikan saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti perbedaan kemampuan akademik, masalah kesehatan mental siswa, hingga pengaruh teknologi dan media sosial. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Di sinilah empati menjadi sangat penting.

Calon guru perlu dilatih untuk peka terhadap perubahan perilaku siswa. Misalnya, siswa yang tiba-tiba menjadi pendiam atau prestasi belajarnya menurun bisa jadi sedang menghadapi masalah pribadi. Guru yang empatik akan mencoba membuka ruang dialog, bukan langsung memberikan hukuman atau teguran keras. Sikap inilah yang membedakan guru profesional dengan pengajar yang hanya berorientasi pada target kurikulum.

Empati dalam Proses Pembelajaran

Empati juga berperan besar dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Guru yang memahami kebutuhan siswa akan lebih bijak dalam memilih metode, media, dan strategi belajar. Tidak semua siswa cocok dengan metode ceramah, dan tidak semua siswa nyaman belajar dengan tekanan tinggi. Dengan empati, guru mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lebih inklusif dan efektif.

Selain itu, empati membantu guru membangun komunikasi dua arah yang sehat. Siswa tidak takut untuk bertanya, berpendapat, atau mengemukakan kesulitan yang mereka alami. Hubungan guru dan siswa pun menjadi lebih dekat secara emosional, tanpa menghilangkan batas profesionalitas.

Peran Lembaga Pendidikan dalam Menanamkan Empati

Pembentukan empati tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan proses pembelajaran dan pembiasaan yang terstruktur. Lembaga pendidikan keguruan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai empati kepada mahasiswa calon guru. Melalui mata kuliah, praktik lapangan, hingga kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa diajak untuk memahami realitas pendidikan secara langsung.

Di lingkungan Ma’soem University, khususnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), pengembangan karakter mahasiswa menjadi perhatian penting. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori pendidikan, tetapi juga dilatih untuk memiliki kepekaan sosial dan emosional. Melalui kegiatan praktik mengajar, observasi sekolah, dan interaksi langsung dengan peserta didik, mahasiswa FKIP belajar memahami dinamika kelas yang sesungguhnya.

Empati dan Etika Profesi Guru

Empati juga berkaitan erat dengan etika profesi guru. Guru yang empatik akan menjaga tutur kata, sikap, dan tindakan agar tidak melukai perasaan siswa. Ia sadar bahwa setiap ucapan memiliki dampak jangka panjang terhadap psikologis anak. Dalam konteks ini, empati menjadi pengontrol moral yang membantu guru bersikap adil dan bijaksana.

Calon guru profesional perlu menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari kemampuan guru membentuk manusia yang berkarakter. Empati memungkinkan guru melihat siswa sebagai individu utuh, bukan sekadar objek pembelajaran.

Membentuk Guru Berempati untuk Masa Depan Pendidikan

Pendidikan masa depan membutuhkan guru-guru yang adaptif, humanis, dan berempati tinggi. Perubahan zaman yang cepat menuntut guru untuk terus belajar dan memahami generasi yang mereka hadapi. Tanpa empati, guru akan kesulitan menjalin hubungan yang bermakna dengan siswa.

Mahasiswa kependidikan, khususnya calon guru, perlu menjadikan empati sebagai nilai dasar dalam perjalanan profesional mereka. Dengan empati, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan.

Pentingnya empati bagi calon guru profesional tidak dapat dipandang sebelah mata. Empati adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, hubungan yang sehat antara guru dan siswa, serta lingkungan pendidikan yang inklusif. Melalui pendidikan keguruan yang tepat, seperti yang dikembangkan di FKIP Ma’soem University, calon guru dibimbing untuk menjadi pendidik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional.