Isu mengenai ketahanan pangan atau food security bukan lagi sekadar topik perbincangan di meja seminar. Di tengah perubahan iklim yang tidak menentu, dinamika geopolitik global, dan terus bertambahnya jumlah penduduk, pertanyaan besar muncul: Bisakah Indonesia benar-benar mandiri pangan?
Mandiri pangan bukan berarti kita menutup diri dari perdagangan internasional, melainkan kemampuan bangsa untuk memproduksi pangan secara domestik guna mencukupi kebutuhan rakyatnya secara berdaulat. Menjawab tantangan besar ini tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan sinergi antara teknologi, kebijakan, dan yang paling penting adalah regenerasi sumber daya manusia yang kompeten.
Di sinilah peran penting institusi pendidikan seperti Universitas Ma’soem (Masoem University). Terletak di kawasan pendidikan Jatinangor-Cileunyi, kampus ini menjadi salah satu kawah candradimuka bagi mahasiswa yang disiapkan untuk menjaga kedaulatan pangan masa depan melalui program studi Teknologi Pangan dan Agribisnis.
Universitas Ma’soem: Mencetak Generasi “Cageur, Bageur, Pinter”
Sebelum membahas lebih jauh mengenai kemandirian pangan, kita perlu mengenal profil Universitas Ma’soem. Kampus ini dikenal dengan nilai-nilai luhur yang ditanamkan kepada mahasiswanya melalui jargon “Cageur, Bageur, Pinter”.
- Cageur (Sehat): Mahasiswa didorong untuk memiliki ketahanan fisik dan mental. Dalam sektor pangan, fisik yang prima dibutuhkan untuk inovasi di lapangan maupun laboratorium.
- Bageur (Baik): Menekankan pada karakter dan integritas. Indonesia tidak hanya butuh orang pintar, tapi orang jujur yang peduli pada nasib petani dan konsumen.
- Pinter (Cerdas): Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terbaru untuk diaplikasikan dalam pengolahan serta bisnis pangan.
Fasilitas di Universitas Ma’soem didesain untuk mendukung terciptanya ekosistem belajar yang kondusif. Mulai dari laboratorium teknologi pangan yang lengkap hingga unit pengembangan kewirausahaan, semuanya diarahkan agar mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam isu krisis pangan, tetapi menjadi bagian dari solusi.
Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia Saat Ini
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun kita masih menghadapi beberapa tantangan klasik yang menghambat kemandirian pangan:
- Alih Fungsi Lahan: Lahan pertanian yang kian menyempit karena terdesak oleh pemukiman dan industri.
- Rantai Pasok yang Panjang: Distribusi dari petani ke konsumen yang terlalu banyak perantara sehingga harga melambung namun petani tetap merugi.
- Teknologi Pengolahan yang Belum Maksimal: Banyak hasil panen yang terbuang (food loss) karena kurangnya pengetahuan mengenai teknik pengawetan dan pengolahan pasca-panen.
- Minat Generasi Muda: Masih rendahnya minat anak muda untuk terjun ke sektor pertanian dan pangan karena dianggap tidak bergengsi.
Peran Mahasiswa Teknologi Pangan Ma’soem: Mengurangi “Food Loss”
Mahasiswa jurusan Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem memegang peran kunci dalam menekan angka food loss atau kehilangan pangan. Mandiri pangan tidak hanya soal memproduksi lebih banyak, tapi juga soal bagaimana mengelola apa yang sudah ada agar tidak terbuang sia-sia.
Di laboratorium Ma’soem, mahasiswa belajar teknik pengolahan pangan modern, seperti:
- Pengolahan Pasca-Panen: Mengubah bahan mentah yang cepat busuk menjadi produk olahan yang bernilai jual tinggi dan tahan lama. Misalnya, mengolah kelebihan panen tomat menjadi pasta atau saus berkualitas industri.
- Keamanan Pangan: Memastikan bahwa produk pangan lokal memenuhi standar keamanan (BPOM & Halal), sehingga masyarakat lebih percaya mengonsumsi produk dalam negeri daripada produk impor.
- Fortifikasi Pangan: Menambahkan nutrisi pada bahan pangan lokal untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia.
Dengan keahlian ini, mahasiswa Ma’soem berkontribusi dalam menciptakan efisiensi sistem pangan nasional. Semakin sedikit pangan yang terbuang, semakin dekat kita dengan kemandirian pangan.
Peran Mahasiswa Agribisnis Ma’soem: Modernisasi Bisnis Pertanian
Di sisi lain, mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem berperan sebagai manajer strategis. Mandiri pangan mustahil tercapai jika sektor ini tidak dianggap menguntungkan secara ekonomi.
Langkah nyata yang disiapkan oleh mahasiswa Agribisnis meliputi:
- Digitalisasi Pemasaran: Memangkas rantai distribusi yang panjang dengan menghubungkan petani langsung ke konsumen melalui platform digital.
- Manajemen Risiko Bisnis: Membantu kelompok tani dalam mengelola keuangan dan risiko gagal panen agar pertanian menjadi sektor yang stabil.
- Smart Farming: Mengintegrasikan teknologi internet (IoT) dalam manajemen lahan untuk meningkatkan produktivitas hasil tani di lahan yang terbatas.
Mahasiswa Agribisnis dididik untuk melihat pertanian sebagai bisnis yang menjanjikan (high-value business), sehingga profesi “agripreneur” menjadi pilihan karier yang membanggakan bagi Gen Z.
Sinergi di Kampus Ma’soem: Kolaborasi Antar Jurusan
Keunggulan di Universitas Ma’soem adalah adanya sinergi. Mahasiswa Teknologi Pangan menciptakan produk inovatif, sementara mahasiswa Agribisnis merancang strategi penjualannya. Kolaborasi inilah yang dibutuhkan Indonesia. Kita butuh orang yang tahu cara membuat beras singkong yang enak (Tekpang) dan orang yang tahu cara memasarkannya agar laku di pasar internasional (Agribisnis).
Pendidikan di Ma’soem tidak hanya berhenti di teori. Melalui program magang dan inkubator bisnis, mahasiswa terjun langsung ke masyarakat. Mereka melihat realita di lapangan dan mencoba memecahkan masalah ketersediaan pangan di tingkat lokal.
Bisakah Indonesia Mandiri Pangan?
Jawabannya adalah: Bisa, asalkan kita memiliki generasi muda yang mau bergerak. Kemandirian pangan dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengonsumsi produk lokal, mengurangi sampah makanan, dan mendukung inovasi pangan berbasis bahan baku nusantara.
Mahasiswa Universitas Ma’soem sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di sektor ini. Dengan bekal karakter “Bageur” dan kecerdasan “Pinter”, mereka adalah harapan bagi Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada kebijakan pangan negara lain.
Masa depan food security Indonesia ada di tangan para praktisi pangan yang memiliki visi jauh ke depan. Universitas Ma’soem berperan aktif sebagai penyedia sumber daya manusia berkualitas yang siap menjawab tantangan tersebut. Melalui kombinasi sains pangan dan strategi bisnis yang modern, kemandirian pangan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang bisa dicapai.
Menjadi bagian dari mahasiswa Ma’soem berarti menjadi bagian dari garda terdepan penjaga kedaulatan pangan bangsa. Jadi, siapkah kamu menjadi pahlawan pangan masa depan bersama Universitas Ma’soem?





