Pernahkah Anda membayangkan bahwa sepertiga dari seluruh makanan yang diproduksi di dunia berakhir begitu saja di tempat sampah? Di satu sisi, dunia masih berjuang melawan kelaparan, namun di sisi lain, kita menghadapi krisis “sampah makanan” yang sangat masif. Isu ini bukan sekadar masalah lingkungan, tapi juga masalah ekonomi dan kemanusiaan.
Dalam dunia profesional, fenomena ini dibagi menjadi dua kategori besar: Food Loss dan Food Waste. Meskipun terdengar mirip, keduanya terjadi di tahapan yang berbeda dan membutuhkan solusi yang berbeda pula. Di sinilah peran penting lulusan Teknologi Pangan (Tekpang) Universitas Ma’soem (Masoem University) dibutuhkan. Melalui penguasaan sains dan teknologi, mereka dididik untuk menjadi agen perubahan yang mampu menekan angka kehilangan pangan di Indonesia.
Mengenal Universitas Ma’soem: Rumah Para Inovator Pangan
Universitas Ma’soem, yang terletak di kawasan Jatinangor-Cileunyi, bukan sekadar institusi pendidikan tinggi biasa. Dengan filosofi “Cageur, Bageur, Pinter”, kampus ini membentuk mahasiswa yang memiliki keseimbangan karakter:
- Cageur (Sehat): Fisik yang kuat untuk terjun ke lapangan dan laboratorium demi mencari solusi pangan.
- Bageur (Baik): Memiliki empati dan integritas untuk menyelesaikan masalah sosial seperti kelaparan dan pemborosan.
- Pinter (Cerdas): Menguasai IPTEK untuk menciptakan sistem pengolahan pangan yang efisien.
Di jurusan Teknologi Pangan Ma’soem, mahasiswa tidak hanya belajar cara membuat makanan enak, tetapi juga belajar bagaimana menjaga agar makanan tersebut tidak terbuang sia-sia dari ladang hingga ke meja makan.
Food Loss vs Food Waste: Apa Bedanya?
Mahasiswa Tekpang Ma’soem dibekali pemahaman mendalam mengenai rantai pasok pangan agar bisa membedakan kedua masalah ini:
1. Food Loss (Kehilangan Pangan)
Food Loss terjadi pada tahap awal rantai pasok, yaitu saat produksi, pasca-panen, pengolahan, hingga distribusi. Contohnya adalah buah yang busuk karena pengemasan yang buruk, tercecer saat pengangkutan, atau rusak karena serangan hama di gudang penyimpanan. Di negara berkembang seperti Indonesia, angka food loss sangat tinggi karena teknologi penyimpanan (seperti cold chain) yang belum merata.
2. Food Waste (Limbah Pangan)
Food Waste terjadi pada tahap akhir, yaitu di tingkat retail (toko/supermarket) dan konsumen (rumah tangga/restoran). Contoh nyatanya adalah makanan yang dibuang karena sudah melewati tanggal kedaluwarsa, atau sisa makanan di piring yang tidak dihabiskan. Ini lebih berkaitan dengan perilaku konsumen dan manajemen stok di tingkat retail.
Peran Strategis Lulusan Tekpang Ma’soem dalam Memberi Solusi
Mengatasi masalah ini membutuhkan sentuhan sains. Berikut adalah bagaimana lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem berperan dalam menyelesaikannya:
Mengatasi Food Loss dengan Teknologi Pasca-Panen
Lulusan Ma’soem diajarkan untuk menciptakan metode pengawetan yang tepat tanpa merusak nutrisi. Dengan teknik seperti Modified Atmosphere Packaging (MAP) atau pengeringan (dehydration) yang efisien, hasil panen petani yang melimpah dapat diolah menjadi produk turunan yang lebih awet. Jika buah tomat yang cepat busuk diolah menjadi pasta atau bubuk tomat berkualitas tinggi, maka angka food loss bisa ditekan secara signifikan.
Inovasi Pengemasan Pintar (Smart Packaging)
Salah satu penyebab food waste adalah kebingungan konsumen terhadap tanggal kedaluwarsa. Mahasiswa Tekpang Ma’soem mempelajari teknologi kemasan yang bisa memberikan indikator kesegaran produk secara real-time. Jika kemasan bisa memberitahu bahwa produk di dalamnya masih sangat layak konsumsi meski mendekati tanggal best before, konsumen tidak akan terburu-buru membuangnya.
Pemanfaatan Sampingan (Upcycling Food)
Lulusan Ma’soem memiliki kreativitas untuk mengolah bagian bahan pangan yang biasanya dibuang menjadi produk bernilai jual. Misalnya, mengolah kulit buah menjadi pektin atau mengubah ampas tahu menjadi produk tinggi protein lainnya. Konsep circular economy ini menjadi senjata utama lulusan Ma’soem dalam meminimalkan limbah.
Edukasi Keamanan Pangan
Banyak orang membuang makanan karena takut keracunan. Dengan ilmu Mikrobiologi Pangan yang dipelajari di kampus, lulusan Ma’soem dapat mengedukasi masyarakat dan industri mengenai batas aman konsumsi sebuah produk, sehingga pembuangan makanan yang sebenarnya masih layak dapat dikurangi.
Mengapa Harus Kuliah Tekpang di Universitas Ma’soem?
Universitas Ma’soem memberikan lingkungan yang sangat mendukung untuk mendalami isu ini. Laboratorium yang lengkap memungkinkan mahasiswa melakukan riset langsung mengenai daya simpan produk. Selain itu, kurikulum yang adaptif memastikan mahasiswa selalu update dengan tren pangan global tahun 2026, termasuk isu sustainability (keberlanjutan).
Dukungan dosen yang ahli dan koneksi dengan industri pangan di Jawa Barat memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat langsung masalah food loss di dunia nyata dan mencoba memberikan solusi teknis yang aplikatif.
Peluang Karier Masa Depan
Ahli pangan yang fokus pada efisiensi dan pengurangan limbah sedang sangat dicari oleh perusahaan besar dunia. Lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem dapat berkarier sebagai:
- Sustainability Specialist di perusahaan multinasional.
- Quality Assurance yang fokus pada efisiensi lini produksi.
- Konsultan Rantai Pasok Pangan untuk pemerintah maupun organisasi internasional (seperti FAO).
- Entrepreneur yang fokus pada produk pangan upcycled atau ramah lingkungan.
Masalah Food Loss dan Food Waste adalah tantangan besar bagi ketahanan pangan Indonesia. Namun, dengan hadirnya lulusan Teknologi Pangan yang kompeten dari Universitas Ma’soem, kita memiliki harapan besar untuk mengubah sistem pangan menjadi lebih efisien dan tidak mubazir.
Menjadi mahasiswa Tekpang Ma’soem berarti belajar untuk menghargai setiap bulir pangan melalui sains. Bukan hanya soal karier, ini adalah dedikasi untuk memastikan masa depan di mana tidak ada lagi makanan yang terbuang sia-sia sementara masih ada orang yang membutuhkannya.





