Pernahkah Anda merasa “tertipu” saat membeli keripik kentang karena bungkusnya yang sangat kembung namun isinya hanya separuh? Sebelum Anda protes, ada baiknya Anda memahami sains di balik kemasan tersebut. Di Jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem (Masoem University), fenomena ini bukanlah trik pemasaran semata, melainkan bagian dari aplikasi teknologi pengemasan tingkat lanjut.
Mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem mempelajari bagaimana menjaga kualitas, kerenyahan, dan keamanan produk pangan melalui pendekatan ilmiah yang presisi. Dengan semangat “Cageur, Bageur, Pinter”, mahasiswa dididik untuk menjadi ahli pangan yang tidak hanya cerdas (Pinter) secara akademis, tetapi juga memiliki integritas (Bageur) dalam menjamin produk yang sehat (Cageur) bagi masyarakat. Melalui mata kuliah seperti Teknik Pengemasan dan Kimia Pangan, rahasia di balik “bungkus kembung” ini dibedah secara tuntas sebagai solusi memperpanjang masa simpan tanpa bahan pengawet berbahaya.
Mengapa Harus Nitrogen? Bukan Udara Biasa?
Banyak orang menyangka bahwa gas di dalam bungkus keripik adalah oksigen atau udara biasa. Faktanya, jika produsen menggunakan udara biasa, keripik tersebut tidak akan bertahan lama. Di laboratorium Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, mahasiswa belajar tentang proses oksidasi.
Udara yang kita hirup mengandung sekitar 21% oksigen. Oksigen adalah musuh utama bagi makanan yang mengandung lemak atau minyak, seperti keripik kentang. Ketika oksigen bereaksi dengan lemak, akan terjadi proses ketengikan (rancidity). Hasilnya? Keripik akan berbau tidak sedap, rasanya berubah, dan teksturnya menjadi lempem.
Nitrogen dipilih karena sifatnya yang inert atau tidak mudah bereaksi dengan zat lain. Nitrogen berfungsi mendesak oksigen keluar dari kemasan dalam proses yang disebut Nitrogen Flushing. Tanpa oksigen, proses oksidasi berhenti, dan keripik tetap segar serta gurih meski sudah berbulan-bulan di rak supermarket.
Fungsi “Bungkus Kembung” sebagai Bantalan Udara
Selain menjaga rasa, nitrogen yang membuat bungkus menjadi kembung berfungsi sebagai bantalan pelindung (cushioning). Keripik kentang adalah produk yang sangat rapuh. Bayangkan proses distribusinya: dari pabrik, masuk ke truk, ditumpuk di gudang, hingga sampai di tangan Anda.
Jika kemasan tidak dibuat kembung, keripik akan saling berbenturan dan hancur menjadi remah-remah akibat tekanan fisik selama perjalanan. Gas nitrogen memberikan tekanan internal yang menahan bentuk kemasan agar tetap kokoh, sehingga keripik sampai ke tangan konsumen dalam keadaan utuh dan cantik. Inilah alasan mengapa “angin” di dalam bungkus keripik sangatlah krusial.
Teknologi Pengemasan: Materi Unggulan di Teknologi Pangan Ma’soem
Di Universitas Ma’soem, penguasaan terhadap teknologi pengemasan adalah salah satu kompetensi utama. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang jenis gas, tetapi juga tentang material kemasan itu sendiri.
- Multilayer Packaging: Mengapa bungkus keripik biasanya berwarna perak di bagian dalam? Mahasiswa Tekpang Ma’soem belajar bahwa itu adalah lapisan aluminium foil tipis yang berfungsi menahan sinar matahari dan uap air agar tidak masuk ke dalam kemasan.
- Water Activity ($a_w$): Mahasiswa mempelajari bagaimana mengontrol kadar air dalam produk agar mikroorganisme tidak bisa tumbuh, sehingga produk tetap renyah.
- Headspace Analysis: Teknik mengukur volume gas di dalam kemasan untuk memastikan rasio nitrogen dan produk sudah optimal.
Menepis Mitos: Apakah Nitrogen Berbahaya?
Sering muncul kekhawatiran, apakah gas nitrogen dalam makanan aman untuk dikonsumsi? Jawabannya: Sangat aman. Nitrogen menyusun sekitar 78% dari atmosfer bumi yang kita hirup setiap detik. Nitrogen tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Dalam industri pangan, nitrogen dikategorikan sebagai Food Grade yang berfungsi sebagai alat bantu pengolahan, bukan zat aditif yang masuk ke dalam metabolisme tubuh dalam bentuk negatif.
Pengetahuan detail seperti inilah yang membuat mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem memiliki tingkat literasi pangan yang tinggi, sehingga mereka mampu mengedukasi masyarakat dan menepis hoaks-hoaks kesehatan yang sering beredar.
Peluang Karier Ahli Teknologi Pangan Ma’soem di Industri
Kemampuan memahami teknik pengemasan dan masa simpan (shelf-life) membuka peluang karier yang sangat luas bagi lulusan Universitas Ma’soem, di antaranya:
- Product Development (R&D): Menciptakan inovasi produk baru dengan sistem pengemasan yang lebih ramah lingkungan namun tetap efektif.
- Quality Assurance (QA): Memastikan setiap kemasan yang diproduksi kedap udara dan mengandung kadar nitrogen yang tepat sesuai standar industri.
- Production Manager: Mengelola lini produksi pangan skala besar agar efisien dan minim limbah (food loss).
- Entrepreneur Pangan: Membangun merek camilan lokal dengan kualitas internasional berkat penguasaan teknologi pengemasan yang profesional.
Mengapa Harus Teknologi Pangan Universitas Ma’soem?
Memilih kuliah di Universitas Ma’soem memberikan keuntungan tersendiri bagi calon mahasiswa. Terletak di lokasi yang strategis antara Cileunyi dan Jatinangor, kampus ini menawarkan lingkungan belajar yang kondusif dengan fasilitas laboratorium yang terus diperbarui.
Dukungan dosen yang ahli di bidangnya serta program magang di berbagai industri manufaktur pangan ternama di Jawa Barat membuat mahasiswa memiliki kesiapan kerja yang tinggi. Selain itu, penanaman nilai-nilai karakter memastikan lulusan Ma’soem menjadi pribadi yang rendah hati namun berwawasan global.





