Dunia pertanian modern saat ini tidak hanya bicara tentang cara menanam, tetapi bagaimana memenangkan persaingan di meja pasar. Di Jurusan S1 Agribisnis Universitas Ma’soem (Masoem University), mahasiswa dididik untuk memahami rantai nilai pangan dari hulu hingga ke hilir secara komprehensif. Menjadi mahasiswa Agribisnis di Universitas Ma’soem berarti Anda akan mengeksplorasi perpaduan antara ilmu pertanian, manajemen bisnis, dan analisis ekonomi digital.
Kampus yang terletak strategis di kawasan Jatinangor ini membekali mahasiswanya dengan kemampuan untuk melihat peluang cuan di balik setiap komoditas pertanian. Salah satu pembahasan paling menarik yang dibedah dalam kurikulum Agribisnis Ma’soem adalah melalui mata kuliah Tata Niaga Pertanian. Di sini, mahasiswa diajak membongkar teka-teki yang sering ditanyakan masyarakat: Mengapa satu ikat bayam yang sama bisa memiliki harga berkali-kali lipat lebih mahal di mall dibandingkan di pasar tradisional?
Memahami Mata Kuliah Tata Niaga Pertanian
Tata Niaga Pertanian atau pemasaran pertanian adalah studi mengenai aliran barang dari tingkat petani (produsen) hingga ke tangan konsumen akhir. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa belajar bahwa harga sebuah produk pertanian tidak hanya ditentukan oleh biaya tanam, tetapi oleh panjangnya rantai distribusi dan “nilai tambah” yang diberikan pada produk tersebut.
Fenomena perbedaan harga antara sayur di pasar dan mall bukan sekadar masalah tempat yang ber-AC, melainkan hasil dari strategi agribisnis yang melibatkan berbagai komponen biaya tersembunyi.
1. Rantai Pasok (Supply Chain) yang Berbeda
Di pasar tradisional, sayur biasanya menempuh jalur distribusi yang sangat panjang. Mulai dari petani, pengepul kecil, pengepul besar, pasar induk, hingga pedagang eceran. Setiap berpindah tangan, ada margin keuntungan yang diambil.
Namun, mengapa di mall bisa lebih mahal padahal mereka seringkali memangkas perantara? Mahasiswa Agribisnis di Universitas Ma’soem mempelajari bahwa mall atau ritel modern menerapkan standar seleksi yang sangat ketat. Sayur yang masuk ke mall harus melalui proses sortasi (grading). Jika seorang petani memanen 100 kg tomat, mungkin hanya 20 kg yang lolos kualifikasi masuk mall. Biaya dari sisa 80 kg yang tidak lolos inilah yang sering kali dibebankan pada harga jual tomat premium tersebut.
2. Nilai Tambah melalui Pasca-Panen (Added Value)
Perbedaan harga yang mencolok juga disebabkan oleh perlakuan produk. Di pasar tradisional, sayur seringkali dijual dalam kondisi apa adanya, terkadang masih terdapat tanah atau akar yang kotor.
Di sisi lain, sayur di mall telah melalui proses:
- Pencucian (Cleaning): Dibersihkan dari sisa pestisida dan kotoran.
- Pemotongan (Trimming): Bagian daun yang layu atau akar yang tidak perlu dibuang.
- Pengemasan (Packaging): Dibungkus plastik wrap atau wadah styrofoam untuk menjaga kelembapan.
- Pelabelan (Branding): Adanya stiker merek yang memberikan kesan higienis dan eksklusif.
Mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem diajarkan bahwa konsumen di mall tidak hanya membeli sayur, mereka membeli kenyamanan, kebersihan, dan jaminan kualitas. Inilah yang dalam ilmu agribisnis disebut sebagai Value Added.
3. Biaya Logistik dan Penyimpanan Cold Storage
Sayuran adalah produk yang cepat rusak (perishable). Di pasar tradisional, risiko kerusakan ditanggung oleh pedagang dengan cara menjual cepat meski harga turun saat sore hari.
Ritel modern menggunakan teknologi Cold Chain (rantai dingin). Mulai dari truk berpendingin hingga rak display yang sejuk. Biaya listrik dan perawatan teknologi pendingin ini sangat mahal. Di mata kuliah Tata Niaga Pertanian Universitas Ma’soem, dijelaskan bahwa biaya teknologi ini masuk ke dalam komponen harga jual, namun sebagai imbalannya, konsumen mendapatkan sayur yang tetap segar dan renyah meskipun sudah tiga hari di toko.
4. Perilaku Konsumen dan Segmentasi Pasar
Universitas Ma’soem juga membekali mahasiswa Agribisnis dengan ilmu psikologi pasar. Konsumen pasar tradisional biasanya adalah price sensitive (sangat sensitif terhadap harga) dan mengutamakan kuantitas. Sementara konsumen mall adalah quality sensitive yang bersedia membayar lebih demi keamanan pangan (food safety) dan efisiensi waktu belanja.
Perbedaan harga ini merupakan bentuk segmentasi pasar yang wajar dalam dunia bisnis pertanian. Mall menyasar masyarakat kelas menengah ke atas yang membutuhkan kepastian bahwa sayuran yang mereka makan bebas ulat dan tertata rapi.
Mengapa Kuliah Agribisnis di Universitas Ma’soem?
Mempelajari Tata Niaga Pertanian di Universitas Ma’soem memberikan perspektif nyata bagi mahasiswa. Selain teori di kelas, mahasiswa diajak untuk melakukan survei pasar langsung, membandingkan harga, dan menganalisis margin pemasaran.
Kampus Ma’soem memiliki komitmen untuk mencetak lulusan yang mampu memotong rantai distribusi yang merugikan petani. Dengan penguasaan teknologi informasi, mahasiswa Agribisnis didorong untuk menciptakan marketplace pertanian atau solusi direct-to-consumer agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan konsumen mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Peluang Karier Lulusan Agribisnis Universitas Ma’soem
Dengan pemahaman mendalam tentang tata niaga, lulusan Agribisnis Ma’soem memiliki peluang karier yang luas, seperti:
- Supply Chain Manager: Mengelola distribusi pangan di perusahaan ritel besar.
- Analyst Pasar Pertanian: Bekerja di lembaga pemerintah atau swasta untuk memprediksi tren harga pangan.
- Agripreneur: Membangun bisnis sayur organik dengan target pasar premium (mall dan ekspor).
- Konsultan Pemasaran Pertanian: Membantu kelompok tani dalam mengemas dan memasarkan produk mereka agar naik kelas.
Perbedaan harga sayur antara pasar dan mall bukanlah sebuah “penipuan” harga, melainkan refleksi dari biaya logistik, proses seleksi, dan nilai tambah yang diberikan. Melalui Jurusan Agribisnis di Universitas Ma’soem, Anda akan belajar cara mengelola variabel-variabel tersebut untuk menciptakan bisnis pertanian yang menguntungkan dan berkelanjutan.





