IMG

Teknik Negosiasi Eksportir: Strategi Agribisnis Universitas Ma’soem Membawa Produk Lokal ke Pasar Global

Program studi S1 Agribisnis di Universitas Ma’soem (Masoem University) merupakan kawah candradimuka bagi para calon “Agripreneur” muda yang bercita-cita mengubah wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern dan berorientasi ekspor. Di jurusan ini, mahasiswa tidak hanya berkutat di lahan pertanian untuk memahami teknis budidaya, tetapi juga digembleng di laboratorium bisnis untuk menguasai manajemen, analisis pasar, hingga strategi distribusi internasional.

Universitas Ma’soem memahami bahwa tantangan terbesar sektor pertanian bukan hanya pada cara menanam, melainkan bagaimana menjual hasil panen dengan harga yang adil dan menguntungkan. Oleh karena itu, kurikulum Agribisnis Universitas Ma’soem dirancang sangat adaptif terhadap kebutuhan industri global, salah satunya melalui mata kuliah Komunikasi Bisnis. Di sinilah mahasiswa mempelajari teknik negosiasi tingkat tinggi yang digunakan oleh para eksportir profesional agar produk petani lokal mampu menembus standar ketat pasar global.


Urgensi Komunikasi Bisnis dalam Dunia Agribisnis

Mengapa seorang lulusan agribisnis harus jago bernegosiasi? Dalam rantai pasok pangan internasional, hambatan seringkali muncul bukan karena kualitas produk yang buruk, melainkan karena kegagalan dalam membangun kesepahaman antara petani di desa dengan buyer di luar negeri.

Di Universitas Ma’soem, mata kuliah Komunikasi Bisnis menjadi jembatan krusial. Mahasiswa diajarkan bahwa negosiasi bukan sekadar tawar-menawar harga, melainkan proses membangun kepercayaan (trust building), memahami regulasi internasional, dan menyelaraskan kepentingan antara ketersediaan komoditas lokal dengan permintaan spesifik pasar dunia seperti Jepang, Eropa, atau Amerika Serikat.


Teknik Negosiasi Ala Eksportir yang Dipelajari di Ma’soem

Mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem dibekali dengan beberapa teknik negosiasi strategis yang menjadi kunci sukses para eksportir besar:

1. Penguasaan Data dan Standar Kualitas (Product Knowledge)

Seorang negosiator ulung tidak akan maju ke meja perundingan tanpa data. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa dilatih untuk memahami profil produk secara detail—mulai dari kadar air, ambang batas residu pestisida, hingga sertifikasi organik. Dengan data yang akurat, mahasiswa dapat meyakinkan pembeli luar negeri bahwa produk petani lokal bukan hanya murah, tapi juga aman dan berkualitas.

2. Memahami Psikologi dan Budaya Bisnis Internasional

Negosiasi dengan pembeli dari Korea tentu berbeda dengan pembeli dari Timur Tengah. Melalui studi kasus di Universitas Ma’soem, mahasiswa belajar cara berkomunikasi yang efektif sesuai latar belakang budaya mitra bisnis. Hal ini mencakup etika berpakaian, cara menyapa, hingga gaya bahasa tubuh yang dapat menentukan keberhasilan kontrak kerja sama.

3. Teknik Win-Win Solution (Integrative Negotiation)

Alih-alih mencoba mengalahkan lawan bicara, mahasiswa Agribisnis diajarkan untuk mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Misalnya, jika buyer meminta harga lebih rendah, negosiator dapat menawarkan kontrak jangka panjang atau volume yang lebih besar sebagai kompensasi. Teknik ini memastikan keberlanjutan bisnis pertanian bagi para petani di daerah.


Menghancurkan Mitos: Produk Lokal Susah Tembus Ekspor

Sering ada anggapan bahwa produk petani kita sulit bersaing di luar negeri karena masalah birokrasi dan standar yang terlalu tinggi. Namun, di bawah bimbingan dosen praktisi di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajak untuk melihat hambatan tersebut sebagai peluang.

Mahasiswa belajar cara bernegosiasi mengenai Incoterms (International Commercial Terms), yakni istilah pengiriman barang yang menentukan siapa yang bertanggung jawab atas biaya angkut dan asuransi. Dengan memahami aspek teknis ini, calon lulusan Agribisnis Ma’soem dapat memberikan penawaran harga yang lebih kompetitif tanpa merugikan margin keuntungan petani lokal.


Simulasi Nyata di Lingkungan Universitas Ma’soem

Belajar di Universitas Ma’soem tidak hanya sebatas teori di dalam kelas. Mahasiswa Agribisnis sering dilibatkan dalam simulasi business matching. Mereka berperan sebagai eksportir yang harus menawarkan produk unggulan daerah—seperti kopi, rempah-rempah, atau buah-buahan tropis—kepada panelis yang berperan sebagai pembeli asing.

Simulasi ini bertujuan untuk mengasah mental dan kelancaran berkomunikasi mahasiswa dalam bahasa Inggris bisnis. Di era 2026, kemampuan digital dalam negosiasi juga ditekankan, seperti bagaimana melakukan presentasi produk yang memukau melalui platform pertemuan virtual dan mengelola korespondensi bisnis melalui email internasional yang profesional.


Mengapa Pilih Agribisnis di Universitas Ma’soem?

Memilih S1 Agribisnis Universitas Ma’soem adalah investasi masa depan bagi Anda yang ingin menjadi penggerak ekonomi desa melalui jalur ekspor. Keunggulan belajar di sini antara lain:

  • Kurikulum Relevan: Materi yang diajarkan selalu diperbarui sesuai tren perdagangan global dan isu ketahanan pangan.
  • Fokus pada Kewirausahaan: Mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi pegawai, tetapi menjadi pemilik usaha (Agripreneur) yang mandiri.
  • Jejaring Luas: Universitas Ma’soem memiliki hubungan erat dengan berbagai asosiasi eksportir dan industri pengolahan pangan di Jawa Barat.

Peluang Karier: Menjadi Jembatan Pangan Dunia

Lulusan Agribisnis Ma’soem yang menguasai teknik negosiasi dan komunikasi bisnis internasional memiliki prospek karier yang sangat cerah:

  1. Export-Import Manager: Mengelola seluruh operasional perdagangan luar negeri di perusahaan agribisnis.
  2. Market Analyst: Menganalisis peluang komoditas baru di pasar internasional.
  3. Liaison Officer: Menjadi penghubung antara koperasi petani dengan investor atau pembeli global.
  4. Agripreneur Mandiri: Membuka usaha ekspor produk olahan pertanian yang memiliki nilai tambah tinggi.

Negosiasi adalah seni yang harus dikuasai untuk mengubah potensi lahan menjadi pundi-pundi devisa negara. Melalui pendidikan di S1 Agribisnis Universitas Ma’soem, Anda akan belajar bahwa menjadi anak pertanian tidak hanya soal berlumur tanah, tetapi juga soal tampil elegan di meja perundingan global untuk memperjuangkan nasib produk lokal.

Dengan penguasaan komunikasi bisnis yang mumpuni, mahasiswa Ma’soem siap membuktikan bahwa produk petani Indonesia layak menjadi rebutan di pasar internasional.