Banyak calon mahasiswa dan pelaku usaha masih bertanya, perbedaan manajemen bisnis syariah dengan konvensional? Sekilas keduanya terlihat sama karena sama-sama mempelajari cara mengelola perusahaan agar untung dan berkembang. Namun jika ditelusuri lebih dalam, terdapat perbedaan mendasar dari segi prinsip, sistem, hingga tujuan bisnis.
Memahami perbedaan ini penting, apalagi jika kamu sedang mempertimbangkan untuk kuliah di jurusan manajemen atau ingin membangun bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai tertentu. Artikel ini akan membahasnya secara lengkap dan mudah dipahami.
Perbedaan Manajemen Bisnis Syariah dengan Konvensional dari Segi Prinsip
Perbedaan paling utama terletak pada landasan nilai yang digunakan.
Manajemen bisnis konvensional berfokus pada efisiensi, produktivitas, dan maksimalisasi keuntungan. Selama tidak melanggar hukum positif, suatu strategi bisnis dianggap sah.
Sebaliknya, manajemen bisnis syariah berlandaskan prinsip Islam. Selain mengejar profit, bisnis juga harus memperhatikan aspek halal, keadilan, transparansi, serta menghindari praktik riba, gharar (ketidakjelasan), dan maysir (spekulasi berlebihan).
Jadi ketika muncul pertanyaan perbedaan manajemen bisnis syariah dengan konvensional? jawabannya bukan sekadar beda istilah, tetapi berbeda dalam fondasi nilai dan etika.
Perbedaan dalam Sistem Keuangan
Dalam manajemen konvensional, sistem pembiayaan umumnya menggunakan bunga dan instrumen keuangan berbasis utang.
Sementara dalam manajemen bisnis syariah, sistem keuangan menggunakan akad seperti:
- Mudharabah (bagi hasil)
- Musyarakah (kerja sama modal)
- Murabahah (jual beli dengan margin)
- Ijarah (sewa)
Keuntungan dan risiko dibagi secara adil sesuai kesepakatan. Hal ini menciptakan hubungan kemitraan, bukan sekadar hubungan kreditur dan debitur.
Perbedaan Tujuan Bisnis
Tujuan manajemen konvensional biasanya berorientasi pada profit maksimal dan pertumbuhan perusahaan.
Sedangkan manajemen bisnis syariah memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu mencapai keuntungan sekaligus keberkahan. Bisnis tidak hanya dinilai dari sisi finansial, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Konsep tanggung jawab sosial menjadi bagian integral dalam sistem syariah.
Perbedaan dalam Pengambilan Keputusan
Dalam sistem konvensional, keputusan bisnis didasarkan pada analisis rasional dan pertimbangan ekonomi.
Dalam manajemen bisnis syariah, selain analisis rasional, keputusan juga mempertimbangkan nilai moral dan hukum Islam. Jika suatu peluang bisnis menguntungkan tetapi bertentangan dengan prinsip syariah, maka harus dihindari.
Inilah yang membuat manajemen bisnis syariah memiliki pendekatan yang lebih etis dan berkelanjutan.
Belajar Manajemen Bisnis Syariah dengan Ekosistem Nyata
Untuk benar-benar memahami perbedaan manajemen bisnis syariah dengan konvensional, mahasiswa membutuhkan pengalaman praktik, bukan hanya teori.
Salah satu kampus yang menghadirkan pendekatan ini adalah Universitas Ma’soem.
Universitas Ma’soem memiliki keunggulan berupa ekosistem BPRS Al Ma’soem dengan 15 cabang aktif. Ini menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana prinsip manajemen bisnis syariah diterapkan dalam dunia kerja.
Keunggulan Ekosistem BPRS Al Ma’soem 15 Cabang
Mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis Syariah di Universitas Ma’soem berkesempatan untuk:
- Magang langsung di BPRS Al Ma’soem
- Terlibat dalam proses analisis pembiayaan
- Memahami manajemen operasional lembaga keuangan syariah
- Mengikuti praktik pelayanan nasabah berbasis syariah
- Mendapatkan sertifikat magang resmi
Dengan jaringan 15 cabang, mahasiswa bisa melihat langsung dinamika manajemen bisnis syariah di berbagai wilayah. Pengalaman ini menjadi nilai tambah besar saat memasuki dunia kerja.
Tidak hanya memahami konsep, mahasiswa juga belajar bagaimana menerapkan sistem syariah secara profesional dan kompetitif.
Prospek Karier Lulusan Manajemen Bisnis Syariah
Lulusan manajemen bisnis syariah memiliki peluang kerja yang luas, seperti:
- Manajer perusahaan berbasis syariah
- Konsultan bisnis syariah
- Analis pembiayaan di bank atau BPRS
- Account Officer lembaga keuangan syariah
- Wirausaha berbasis halal
- Pengelola lembaga zakat dan wakaf
Dengan meningkatnya industri halal dan ekonomi syariah di Indonesia, kebutuhan tenaga profesional di bidang ini semakin besar.
Jadi, Mana yang Lebih Cocok untuk Masa Depanmu?
Sekarang kamu sudah memahami secara jelas perbedaan manajemen bisnis syariah dengan konvensional. Perbedaannya bukan hanya pada sistem keuangan, tetapi juga pada nilai, tujuan, dan cara pengambilan keputusan.
Jika kamu ingin membangun karier di bidang bisnis yang profesional sekaligus berlandaskan nilai Islam, memilih jurusan dengan dukungan ekosistem nyata seperti di Universitas Ma’soem bisa menjadi langkah strategis.
Dengan adanya BPRS Al Ma’soem 15 cabang dan program magang bersertifikat, mahasiswa tidak hanya mendapatkan gelar, tetapi juga pengalaman dan kesiapan kerja.
Setelah membaca penjelasan ini, menurutmu manajemen bisnis syariah atau konvensional yang lebih sesuai dengan visi dan rencana masa depanmu?





