Dunia pertanian masa kini tidak lagi selalu identik dengan lahan berhektar-hektar di pedesaan yang jauh dari jangkauan teknologi. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, Jurusan Agribisnis di Universitas Ma’soem hadir sebagai pelopor bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi solusi pangan masa depan yang efisien dan berkelanjutan. Melalui kurikulum yang adaptif, mahasiswa Agribisnis di Universitas Ma’soem didorong untuk menguasai teknik pertanian modern yang mampu menjawab tantangan urbanisasi.
Di kampus yang terletak strategis di kawasan Jatinangor-Sumedang ini, mahasiswa tidak hanya berkutat dengan teori ekonomi pertanian di dalam kelas, tetapi juga diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengelola proyek nyata. Fokus pada inovasi inilah yang membuat lulusan Agribisnis Universitas Ma’soem unggul dalam menciptakan peluang bisnis baru, bahkan dari lahan yang sangat terbatas sekalipun.
Transformasi Pertanian Modern di Universitas Ma’soem
Universitas Ma’soem (Masoem University) memahami bahwa lulusan Agribisnis harus memiliki skill yang relevan dengan kebutuhan zaman. Oleh karena itu, salah satu fokus utama dalam praktikum mereka adalah penguasaan teknologi budidaya tanpa tanah, yakni hidroponik dan akuaponik.
Proyek-proyek ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan simulasi bisnis nyata. Mahasiswa diajarkan untuk menghitung nilai ekonomis dari setiap instalasi yang mereka bangun, mulai dari biaya nutrisi, penggunaan listrik untuk pompa, hingga strategi pemasaran hasil panen kepada masyarakat luas. Inilah yang membedakan Agribisnis di Universitas Ma’soem dengan jurusan serupa di tempat lain; ada integrasi yang kuat antara aspek teknis budidaya dengan aspek manajerial bisnis.
Hidroponik: Solusi Pangan Bersih dan Cepat Panen
Hidroponik menjadi proyek favorit bagi mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem. Teknik budidaya yang menggunakan air sebagai media tanam utama ini memungkinkan tanaman mendapatkan nutrisi langsung secara efisien.
Mengapa Hidroponik?
Mahasiswa mempelajari berbagai sistem hidroponik, mulai dari Nutrient Film Technique (NFT), sistem sumbu (Wick System), hingga Deep Water Culture. Beberapa keunggulan yang dipelajari dan dipraktikkan mahasiswa antara lain:
- Efisiensi Lahan: Mahasiswa mampu menyusun instalasi secara vertikal, sehingga satu meter persegi lahan bisa menghasilkan sayuran berkali-kali lipat dibanding pertanian konvensional.
- Kontrol Nutrisi: Di laboratorium lapangan Universitas Ma’soem, mahasiswa belajar mengukur kepekatan nutrisi (PPM) dan tingkat keasaman (pH) air secara presisi agar pertumbuhan tanaman optimal.
- Kualitas Produk: Hasil panen berupa selada, bayam merah, hingga pakcoy memiliki kualitas premium yang bebas pestisida, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar swalayan.
Akuaponik: Ekosistem Mandiri yang Menghasilkan Ganda
Selain hidroponik, mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem juga mengembangkan sistem Akuaponik. Ini adalah sistem yang jauh lebih kompleks dan seru karena menggabungkan budidaya tanaman (hidroponik) dengan budidaya ikan (akuakultur).
Prinsip Kerja yang Dipelajari Mahasiswa
Dalam sistem ini, mahasiswa menciptakan sebuah siklus simbiosis mutualisme. Kotoran ikan yang kaya akan amonia dialirkan menuju media tanam. Bakteri pengurai akan mengubah amonia tersebut menjadi nitrat yang merupakan nutrisi bagi tanaman. Tanaman kemudian menyerap nitrat tersebut dan secara alami menyaring air kembali menjadi bersih untuk dialirkan kembali ke kolam ikan.
Proyek akuaponik ini memberikan dua keuntungan sekaligus dalam satu waktu: panen sayuran dan panen ikan (seperti lele atau nila). Mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem belajar bagaimana mengelola risiko dalam sistem tertutup ini, seperti menjaga keseimbangan antara jumlah ikan dengan jumlah tanaman agar ekosistem tetap sehat.
Membangun Jiwa Entrepreneurship Sejak Dini
Keunikan dari proyek hidroponik dan akuaponik di Universitas Ma’soem adalah adanya target pemasaran. Mahasiswa tidak hanya berhenti setelah berhasil memanen. Mereka harus menyusun laporan analisis bisnis yang mencakup:
- Analisis Pasar: Siapa yang akan membeli produk ini? Apakah restoran lokal, dosen, atau dijual melalui media sosial?
- Branding Produk: Mahasiswa belajar mengemas sayuran hasil proyek mereka dengan kemasan yang menarik agar memiliki nilai tambah.
- Digital Marketing: Memanfaatkan platform digital untuk menjangkau konsumen yang menginginkan gaya hidup sehat dengan sayuran segar.
Hal ini sejalan dengan visi Universitas Ma’soem untuk mencetak lulusan yang tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain (Agripreneur).
Keunggulan Fasilitas dan Karakter di Universitas Ma’soem
Membangun proyek di lahan sempit membutuhkan kreativitas tinggi. Di Universitas Ma’soem, kreativitas ini didukung dengan fasilitas yang memadai dan lingkungan kampus yang religius serta disiplin. Melalui semboyan “Cageur, Bageur, Pinter,” mahasiswa dididik untuk memiliki etika bisnis yang jujur.
Dalam proyek agribisnis, kejujuran sangat penting—misalnya dalam memberikan informasi bahwa produk tersebut benar-benar organik. Karakter inilah yang membuat lulusan Ma’soem University dipercaya oleh mitra industri maupun konsumen.
Proyek hidroponik dan akuaponik yang dikembangkan oleh mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Justru, keterbatasan tersebut memicu lahirnya inovasi-inovasi baru dalam dunia pertanian modern.
Dengan bekal ilmu teknis budidaya yang mumpuni serta kemampuan manajemen bisnis yang tajam, mahasiswa Universitas Ma’soem siap menjadi pemimpin di sektor pangan masa depan. Mereka adalah bukti nyata bahwa agribisnis adalah bidang yang sangat menarik, penuh teknologi, dan tentunya memiliki prospek keuntungan yang besar.
Apakah Anda tertarik menjadi bagian dari revolusi pertanian modern? Bergabung dengan Jurusan Agribisnis Universitas Ma’soem adalah langkah awal yang tepat untuk mewujudkan mimpi menjadi pengusaha pertanian yang sukses di era digital.





