Pengaruh Digital Culture terhadap Perilaku Akademik Mahasiswa FKOM

Perkembangan teknologi informasi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga membentuk budaya baru yang dikenal sebagai digital culture. Digital culture mencerminkan pola perilaku, kebiasaan, serta cara berpikir yang dipengaruhi oleh penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan perguruan tinggi, khususnya Fakultas Komputer (FKOM), budaya digital memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku akademik mahasiswa.

Mahasiswa yang hidup dalam era digital terbiasa dengan akses informasi yang cepat, komunikasi instan, serta penggunaan berbagai platform daring. Kondisi ini membawa dampak positif sekaligus tantangan terhadap proses belajar dan interaksi akademik.

Digital Culture dalam Lingkungan FKOM

Di Fakultas Komputer Ma’soem University, digital culture menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas akademik. Penggunaan Learning Management System (LMS), platform kolaborasi daring, serta perangkat lunak pengembangan sistem menjadi rutinitas harian mahasiswa. Lingkungan ini menciptakan suasana belajar yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Mahasiswa FKOM umumnya memiliki tingkat literasi digital yang baik. Mereka terbiasa mencari referensi melalui jurnal online, mengikuti webinar, hingga berdiskusi melalui forum digital. Pola ini membentuk kebiasaan belajar yang lebih fleksibel dan mandiri.

Namun, di sisi lain, budaya digital juga dapat memengaruhi fokus dan kedisiplinan. Akses tanpa batas terhadap media sosial dan hiburan digital berpotensi mengalihkan perhatian dari kegiatan akademik jika tidak dikelola dengan baik.

Dampak Positif terhadap Perilaku Akademik

Digital culture memberikan sejumlah dampak positif terhadap perilaku akademik mahasiswa FKOM. Pertama, akses informasi yang luas memungkinkan mahasiswa memperoleh referensi pembelajaran yang lebih beragam. Mereka tidak lagi bergantung pada satu sumber, melainkan dapat membandingkan berbagai perspektif untuk memperdalam pemahaman.

Kedua, budaya kolaborasi digital meningkatkan interaksi akademik. Mahasiswa dapat bekerja sama dalam proyek melalui platform daring, berbagi file secara real-time, serta berdiskusi tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini memperkuat kerja tim dan efisiensi dalam menyelesaikan tugas.

Ketiga, pemanfaatan teknologi mendukung pembelajaran berbasis proyek dan riset. Mahasiswa dapat melakukan simulasi, analisis data, hingga pengembangan aplikasi menggunakan tools digital yang relevan dengan kebutuhan industri. Kebiasaan ini membentuk pola pikir inovatif dan adaptif.

Tantangan yang Dihadapi

Meskipun membawa banyak manfaat, digital culture juga menghadirkan tantangan terhadap perilaku akademik. Salah satu tantangan utama adalah potensi distraksi. Penggunaan gawai yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan produktivitas belajar jika tidak diimbangi dengan manajemen waktu yang baik.

Selain itu, kemudahan akses informasi juga dapat memicu perilaku akademik yang kurang etis, seperti plagiarisme. Oleh karena itu, diperlukan penanaman nilai integritas akademik agar mahasiswa tetap menjunjung tinggi etika dalam menggunakan sumber digital.

Tantangan lainnya adalah ketergantungan terhadap teknologi. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis, bukan hanya mengandalkan jawaban instan dari mesin pencari atau aplikasi tertentu. Budaya digital harus diimbangi dengan kemampuan refleksi dan pemahaman mendalam.

Strategi Penguatan Perilaku Akademik Positif

Untuk memaksimalkan dampak positif digital culture, diperlukan strategi yang terarah. Salah satunya adalah integrasi literasi digital dalam pembelajaran. Mahasiswa perlu dibekali pemahaman mengenai etika penggunaan teknologi, keamanan data, serta cara mengelola informasi secara bijak.

Dosen juga berperan penting sebagai fasilitator yang mengarahkan pemanfaatan teknologi secara produktif. Dengan memberikan tugas berbasis proyek, diskusi daring yang terstruktur, serta evaluasi yang menekankan orisinalitas, perilaku akademik mahasiswa dapat tetap terjaga.

Lingkungan akademik yang mendukung inovasi digital sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab menjadi kunci dalam membentuk budaya belajar yang sehat.

Pengaruh digital culture terhadap perilaku akademik mahasiswa FKOM bersifat dinamis. Di satu sisi, budaya digital meningkatkan akses informasi, kolaborasi, dan kreativitas dalam pembelajaran. Di sisi lain, terdapat tantangan berupa distraksi, potensi pelanggaran etika akademik, serta ketergantungan terhadap teknologi.

Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan lingkungan akademik yang kondusif, digital culture dapat menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga individu yang bijak, kritis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan perkembangan digital untuk kemajuan akademik.