Mengenal Proses Ekstraksi dan Fortifikasi: Cara Ahli Pangan Menambahkan Vitamin ke dalam Makanan Harian

Pernahkah Anda membaca label pada kemasan tepung terigu, garam, atau susu dan menemukan keterangan seperti “Diperkaya Vitamin A” atau “Mengandung Zat Besi”? Penambahan nutrisi ke dalam bahan pangan tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari proses sains yang presisi. Dua teknik utama yang digunakan oleh para ilmuwan pangan untuk meningkatkan kualitas gizi produk adalah ekstraksi dan fortifikasi.

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Teknologi Pangan mempelajari teknik-teknik ini secara mendalam di laboratorium. Tujuannya adalah untuk menciptakan produk pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi solusi bagi masalah kekurangan gizi di masyarakat.

Apa Itu Ekstraksi dan Fortifikasi?

Kedua istilah ini sering muncul dalam pengembangan produk pangan, namun keduanya memiliki peran yang berbeda dalam alur produksi:

1. Ekstraksi: Mengambil Sari Nutrisi Terpilih

Ekstraksi adalah proses pemisahan zat aktif atau nutrisi tertentu dari bahan alami. Misalnya, mengambil antioksidan dari kulit manggis, kafein dari biji kopi, atau vitamin E dari minyak sawit. Ahli pangan menggunakan metode seperti ekstraksi pelarut atau pengepresan untuk mendapatkan konsentrat nutrisi murni yang nantinya bisa digunakan kembali.

2. Fortifikasi: Menambahkan Kekuatan Gizi

Fortifikasi adalah proses penambahan satu atau lebih zat gizi mikro (vitamin dan mineral) ke dalam makanan yang umum dikonsumsi masyarakat. Tujuannya adalah untuk mencegah kekurangan gizi pada skala besar. Contoh klasiknya adalah penambahan yodium pada garam dapur atau penambahan asam folat dan zat besi pada tepung terigu.


Mengapa Proses Ini Sangat Penting Bagi Industri Pangan?

Kehadiran ahli pangan yang menguasai teknik ini sangat krusial karena beberapa alasan berikut:

  • Meningkatkan Nilai Jual Produk: Produk yang difortifikasi memiliki nilai tambah bagi konsumen yang peduli kesehatan, sehingga mampu bersaing di pasar premium.
  • Menjawab Krisis Gizi Nasional: Pemerintah sering bekerja sama dengan industri untuk melakukan fortifikasi wajib pada bahan pokok guna menurunkan angka stunting dan anemia.
  • Memperbaiki Nutrisi yang Hilang: Selama proses pengolahan (seperti pemanasan suhu tinggi), beberapa vitamin alami dalam bahan baku bisa rusak. Fortifikasi berfungsi untuk mengembalikan nutrisi yang hilang tersebut agar kualitas produk tetap terjaga.

Tantangan Teknis yang Dihadapi Ahli Pangan

Menambahkan vitamin ke dalam makanan tidak semudah mencampurkan bumbu. Seorang ahli pangan harus mempertimbangkan:

  1. Stabilitas: Beberapa vitamin sensitif terhadap cahaya dan panas. Ahli pangan harus memastikan vitamin tersebut tidak rusak selama proses pemasakan atau penyimpanan.
  2. Bioavailabilitas: Nutrisi yang ditambahkan harus mudah diserap oleh tubuh manusia, bukan sekadar tertera di label kemasan.
  3. Sensorik: Penambahan mineral seperti zat besi kadang mengubah warna atau rasa makanan. Ahli pangan harus menemukan formulasi agar gizi bertambah namun rasa tetap lezat.

Persiapan Menjadi Inovator Pangan di Universitas Ma’soem

Universitas Ma’soem membekali mahasiswanya dengan keahlian teknis untuk menguasai metode-metode ini melalui:

  1. Praktikum Biokimia dan Kimia Pangan: Mahasiswa belajar langsung cara mengekstraksi senyawa aktif dari bahan pangan lokal dan melakukan uji kadar vitamin secara akurat.
  2. Pengembangan Produk Baru: Kurikulum mendorong mahasiswa untuk menciptakan inovasi pangan fungsional—misalnya, biskuit yang diperkaya serat atau minuman yang difortifikasi vitamin alami.
  3. Karakter Jujur dan Presisi: Mengingat fortifikasi berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, Universitas Ma’soem menekankan kejujuran dalam pelabelan gizi. Karakter “Pinter dan Bageur” memastikan lulusan bekerja dengan standar etika tinggi.
  4. Wawasan Regulasi Pangan: Mahasiswa diajarkan mengenai standar SNI dan aturan BPOM terkait batas aman penambahan nutrisi, sehingga produk yang dihasilkan legal dan aman.

Proses ekstraksi dan fortifikasi adalah bukti bahwa teknologi pangan adalah kunci bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui tangan dingin para ahli pangan, makanan harian kita kini bertransformasi menjadi kendaraan yang membawa nutrisi penting bagi tubuh.

Bersama Universitas Ma’soem, Anda dididik untuk menjadi ahli yang mampu mengolah kekayaan alam Indonesia menjadi produk pangan bergizi tinggi. Jika Anda tertarik pada persilangan antara sains, kesehatan, dan industri kreatif, menguasai teknologi ekstraksi dan fortifikasi adalah langkah awal yang sangat menjanjikan untuk karier masa depan Anda.