Kenapa Harga Makanan Sehat Lebih Mahal? Peran Ahli Pangan dalam Memformulasi Produk Bernutrisi

Salah satu keluhan paling umum yang terdengar saat seseorang ingin memulai gaya hidup sehat adalah: “Kenapa makanan sehat harganya mahal?” Di supermarket, produk yang berlabel gluten-free, rendah gula, atau tanpa pengawet seringkali dibanderol dengan harga dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dari produk biasa.

Namun, di balik label harga tersebut, terdapat proses riset, formulasi, dan standarisasi yang sangat kompleks. Di sinilah peran seorang Ahli Teknologi Pangan menjadi sangat krusial. Mahasiswa di Universitas Ma’soem dididik untuk memahami bahwa menciptakan makanan sehat bukan sekadar menghilangkan bahan tertentu, melainkan mendesain ulang struktur pangan agar tetap lezat, aman, dan stabil.

Mengapa Makanan Sehat Memiliki Harga Premium?

Ada alasan teknis dan ekonomis mengapa produk bernutrisi memiliki struktur biaya yang berbeda:

1. Bahan Baku yang Lebih Spesifik dan Berkualitas

Makanan sehat seringkali menggunakan bahan baku yang lebih sulit didapat atau memiliki biaya produksi lebih tinggi. Misalnya, penggunaan pemanis alami seperti stevia jauh lebih mahal dibandingkan gula pasir biasa. Ahli pangan harus memastikan bahan pengganti ini tidak hanya sehat, tetapi juga tidak mengubah rasa secara drastis.

2. Masa Simpan yang Lebih Pendek

Banyak produk sehat membatasi atau menghilangkan penggunaan pengawet sintetis. Hal ini membuat risiko kerusakan produk menjadi lebih tinggi selama distribusi. Ahli pangan bertugas mencari cara alami—seperti teknik pengemasan kedap udara atau kontrol pH—agar produk tetap awet tanpa bantuan bahan kimia berbahaya.

3. Biaya Riset dan Pengembangan (R&D)

Memformulasikan produk rendah lemak yang tetap memiliki tekstur lembut seperti produk asli memerlukan ratusan kali percobaan di laboratorium. Biaya inovasi inilah yang seringkali dibebankan pada harga jual produk.


Peran Ahli Pangan: Menjaga Nutrisi Tetap Terjangkau

Tugas utama lulusan Teknologi Pangan bukanlah untuk membuat makanan sehat menjadi eksklusif, melainkan bagaimana menciptakan formulasi yang efisien agar harga bisa ditekan. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa dilatih untuk menjadi solusi bagi dilema ini melalui:

  • Substitusi Bahan Lokal: Ahli pangan bisa mengganti bahan impor mahal dengan bahan lokal yang memiliki nilai gizi serupa. Misalnya, menggunakan tepung umbi-umbian lokal untuk mengganti gandum dalam produk bebas gluten.
  • Optimasi Proses Produksi: Dengan teknik pengolahan yang tepat, kerusakan nutrisi akibat panas dapat diminimalisir, sehingga perusahaan tidak perlu menambahkan suplemen sintetis tambahan yang mahal.
  • Efisiensi Rantai Pasok: Memahami cara menyimpan bahan pangan agar tidak cepat rusak adalah keahlian teknis yang sangat membantu menekan biaya operasional perusahaan.

Proyeksi Karier: Menjadi Arsitek Pangan Masa Depan

Kebutuhan akan tenaga ahli yang mampu memformulasikan makanan sehat sangat tinggi, terutama di perusahaan-perusahaan besar yang mulai beralih ke portofolio produk wellness:

  • R&D Specialist (Formulator): Merancang resep makanan sehat yang enak namun efisien secara biaya.
  • Quality Controller: Memastikan klaim “sehat” pada label benar-benar terbukti secara ilmiah melalui pengujian ketat.
  • Wirausaha Pangan Sehat: Lulusan Universitas Ma’soem banyak yang menjadi pengusaha pangan, menciptakan alternatif camilan sehat lokal dengan harga yang lebih bersahabat bagi masyarakat.

Mengapa Menempuh Ilmu di Universitas Ma’soem?

Universitas Ma’soem menyiapkan mahasiswanya untuk menjawab tantangan industri pangan modern dengan pendekatan:

  1. Praktik Laboratorium Berbasis Inovasi: Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi langsung mempraktikkan cara membuat formulasi pangan fungsional yang memiliki nilai ekonomis.
  2. Karakter Jujur dan Peduli: Sesuai filosofi “Bageur dan Pinter”, ahli pangan lulusan Ma’soem dididik untuk memiliki integritas. Mereka tidak akan memanipulasi label demi keuntungan semata, melainkan benar-benar berfokus pada kesehatan konsumen.
  3. Koneksi dengan Industri: Mahasiswa dibekali wawasan pasar agar produk sehat yang mereka buat nantinya tidak hanya bagus di atas kertas, tapi juga bisa diterima oleh kantong masyarakat luas.

Harga makanan sehat yang mahal saat ini adalah tantangan yang harus dijawab oleh para ilmuwan pangan. Dengan teknologi dan kreativitas, kita bisa menciptakan dunia di mana nutrisi bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan hak setiap orang.

Bersama Universitas Ma’soem, Anda akan dibekali keahlian untuk menjadi sosok yang mampu menyeimbangkan antara gizi, rasa, dan harga. Jika Anda tertarik untuk menciptakan solusi pangan bagi masa depan, Ilmu Teknologi Pangan adalah jalan karier yang tepat bagi Anda.