Stereotype vs Realita: Membongkar Mitos tentang Anak Teknik yang Selama Ini Salah Kaprah

Siapa yang belum pernah mendengar stereotype tentang anak teknik? “Pasti kutu buku.” “Tidak bisa bergaul.” “Hidupnya cuma coding doang.” “Susah cari pacar.” Stereotype-stereotype ini sudah beredar begitu lama hingga banyak orang yang percaya begitu saja tanpa pernah mempertanyakan kebenarannya.

Sudah saatnya kita luruskan. Karena sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Ma’soem, realitanya jauh lebih seru dan jauh lebih keren dari semua stereotype itu.

Mitos 1: “Anak Teknik Itu Antisosial”

Realitanya? Anak teknik adalah beberapa orang paling kolaboratif yang akan kamu temui. Hampir semua proyek teknik baik di kampus maupun di industri dikerjakan dalam tim. Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Ma’soem belajar bekerja sama dalam proyek pengembangan aplikasi, saling code review, dan berkomunikasi secara efektif untuk menghasilkan produk yang baik. Mahasiswa Teknik Industri belajar mengelola sistem yang melibatkan banyak orang, berkoordinasi lintas departemen, dan memimpin tim dalam proyek perbaikan proses.

Justru salah satu soft skill paling kuat yang dimiliki anak teknik adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi karena tanpa itu, tidak ada sistem yang bisa dibangun dengan baik.

Mitos 2: “Kuliah Teknik Itu Membosankan”

Realitanya? Tidak ada hari yang benar-benar sama di Fakultas Teknik Universitas Ma’soem. Hari ini kamu membangun aplikasi, besok kamu menganalisis sistem produksi, lusa kamu presentasi di depan klien industri saat PPL atau PAL. Setiap minggu membawa tantangan baru, setiap semester membawa ilmu baru, dan setiap proyek membawa kepuasan baru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Mitos 3: “Anak Teknik Tidak Kreatif”

Ini mungkin mitos yang paling jauh dari kebenaran. Teknik justru adalah bidang yang sangat membutuhkan kreativitas. Membangun aplikasi yang tidak hanya berfungsi tetapi juga indah dan intuitif membutuhkan kreativitas tinggi. Merancang sistem produksi yang lebih efisien dengan cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya membutuhkan kreativitas tinggi. Menemukan solusi elegan untuk masalah yang kompleks membutuhkan kreativitas tinggi.

Anak teknik tidak hanya berpikir dengan logika mereka juga berpikir dengan imajinasi. Dan kombinasi keduanya adalah resep untuk inovasi.

Mitos 4: “Susah Kerja Setelah Lulus”

Ini adalah mitos yang paling mudah dibantah dengan data. Di era digital seperti sekarang, lulusan teknik adalah komoditas paling dicari di pasar kerja. Perusahaan-perusahaan dari hampir semua industri berlomba-lomba merekrut talenta teknik terbaik. Lulusan Fakultas Teknik Universitas Ma’soem yang dibekali dengan kurikulum relevan, pengalaman PPL, PAL, dan KKN, serta karakter Islami yang kuat mereka tidak kesulitan mencari pekerjaan. Justru seringkali pekerjaan yang mencari mereka.

Mitos 5: “Harus Jago Matematika Banget Baru Bisa Teknik”

Matematika memang penting dalam pendidikan teknik. Tapi “jago matematika” di sini bukan berarti harus menjadi jenius matematika yang bisa menghitung integral dalam tidur. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, kemampuan berpikir logis, dan ketekunan dalam memecahkan masalah dan semua itu bisa dibangun dan dikembangkan selama proses perkuliahan di Universitas Ma’soem.