Dahulu, hidroponik mungkin hanya dianggap sebagai hobi bercocok tanam di pekarangan rumah. Namun, dalam lanskap pertanian modern, hidroponik dan aeroponik telah bertransformasi menjadi industri bernilai miliaran rupiah yang menyuplai kebutuhan pangan di supermarket, hotel, hingga restoran papan atas. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Fakultas Pertanian tidak hanya diajarkan cara menanam di air, tetapi dididik untuk menguasai teknologi rekayasa lingkungan yang kompleks.
Memahami sistem hidroponik dan aeroponik skala industri memerlukan perpaduan antara biologi tumbuhan, teknik sipil, kimia, dan manajemen bisnis. Berikut adalah poin-poin krusial yang dipelajari mahasiswa untuk menjadi ahli di bidang ini.
1. Rekayasa Nutrisi dan Kimia Air
Dalam sistem tanpa tanah, air adalah satu-satunya media pembawa nutrisi. Mahasiswa belajar bahwa tanaman tidak hanya butuh air, tetapi juga komposisi mineral yang presisi.
- Formulasi AB Mix Kustom: Mahasiswa belajar menghitung kebutuhan unsur hara makro dan mikro (Nitrogen, Fosfor, Kalium, hingga Magnesium) berdasarkan fase pertumbuhan tanaman. Mereka tidak sekadar membeli nutrisi jadi, tetapi belajar meracik sendiri agar biaya produksi lebih efisien.
- Manajemen pH dan EC (Electro Conductivity): Mahasiswa dilatih untuk memantau tingkat keasaman (pH) dan kepekatan nutrisi (EC) secara harian. Kesalahan kecil dalam angka desimal pada alat ukur bisa menyebabkan gagal panen massal dalam hitungan jam.
2. Teknologi Aeroponik: Mengelola Kabut dan Oksigen
Aeroponik adalah tingkat lanjut dari hidroponik, di mana akar tanaman digantung di udara dan disemprotkan kabut nutrisi secara berkala.
- Sistem Pengkabutan (Misting): Mahasiswa belajar tentang tekanan pompa dan ukuran nozzle (lubang semprot) untuk menghasilkan ukuran butiran air yang tepat agar mudah diserap pori-pori akar.
- Oksigenasi Maksimal: Pelajaran utama di sini adalah bagaimana mengoptimalkan pertumbuhan tanaman melalui pasokan oksigen yang melimpah pada akar. Mahasiswa mempelajari mengapa tanaman aeroponik tumbuh lebih cepat dibandingkan metode konvensional karena efisiensi metabolisme yang lebih tinggi.
3. Otomasi dan Pertanian Presisi (Smart Farming)
Skala industri tidak mungkin dikelola secara manual. Mahasiswa Pertanian di Universitas Ma’soem diperkenalkan pada konsep Greenhouse pintar.
- Sensor dan IoT: Mahasiswa belajar mengintegrasikan sensor suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya dengan perangkat komputer atau smartphone. Mereka belajar cara kerja sistem otomatis yang akan menyalakan kipas atau pompa secara mandiri saat suhu lingkungan melewati batas tertentu.
- Kontrol Iklim Mikro: Karena tanaman ditanam di dalam ruangan atau greenhouse, mahasiswa belajar memanipulasi cuaca. Mereka menciptakan kondisi “musim semi” sepanjang tahun agar tanaman tetap produktif tanpa tergantung pada musim di luar.
4. Analisis Ekonomi dan Manajemen Rantai Pasok
Pertanian industri bukan hanya soal menanam, tetapi soal keuntungan. Mahasiswa Agribisnis belajar aspek finansial dari teknologi ini.
- Kalkulasi Capital Expenditure (CapEx): Membangun sistem aeroponik industri memerlukan modal awal yang sangat besar. Mahasiswa belajar menghitung kapan modal tersebut akan kembali (Return on Investment).
- Target Pasar Premium: Karena biaya produksi hidroponik lebih tinggi dari pertanian konvensional, mahasiswa belajar cara melakukan branding produk “bebas pestisida” atau “sayuran premium” agar bisa menembus pasar ritel modern dengan harga yang pantas.
Membentuk Ahli yang “Pinter dan Bageur”
Mengelola sistem berteknologi tinggi memerlukan kecerdasan teknis sekaligus karakter yang disiplin. Universitas Ma’soem melalui prinsip “Pinter dan Bageur” membimbing mahasiswa untuk menjadi profesional yang utuh.
- Pinter (Cerdas): Mahasiswa harus mampu melakukan pemecahan masalah (troubleshooting) secara cepat jika terjadi kerusakan sistem, seperti listrik padam atau pompa macet, agar tanaman tidak layu.
- Bageur (Berperilaku Baik): Kejujuran dalam penggunaan nutrisi yang aman bagi kesehatan konsumen dan komitmen untuk tidak menggunakan pestisida kimia berbahaya adalah wujud integritas lulusan Ma’soem.
Kuliah di Fakultas Pertanian saat ini adalah tentang menjadi ilmuwan dan manajer teknologi. Belajar hidroponik dan aeroponik industri memberikan mahasiswa kemampuan untuk memproduksi pangan secara bersih, efisien, dan berkelanjutan tanpa harus memiliki lahan berhektar-hektar.
Lulusan dari Universitas Ma’soem yang menguasai teknologi ini akan menjadi garda terdepan dalam solusi pangan perkotaan (urban farming) masa depan, di mana kemandirian pangan bisa diciptakan langsung dari dalam gedung-gedung atau lahan sempit di pusat kota.





