Dalam definisi klasik, pertahanan negara sering kali diidentikkan dengan kekuatan militer, senjata, dan penjagaan perbatasan. Namun, di era modern, ancaman terhadap kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya datang dari serangan fisik, melainkan juga dari kerawanan pangan. Sebuah negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri adalah negara yang rapuh.
Oleh karena itu, mahasiswa pertanian di Universitas Ma’soem tidak sekadar belajar menanam atau berbisnis; mereka sedang dilatih untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga pertahanan negara di sektor pangan. Inilah alasan mengapa peran mahasiswa pertanian setara dengan peran penjaga kedaulatan bangsa.
1. Pangan sebagai Senjata Geopolitik
Sejarah dunia menunjukkan bahwa pangan sering kali digunakan sebagai alat tekan dalam politik internasional. Negara yang bergantung pada impor pangan dari negara lain akan memiliki posisi tawar yang lemah.
Mahasiswa pertanian mempelajari cara meningkatkan produktivitas dalam negeri melalui teknologi dan manajemen lahan. Dengan memastikan ketersediaan pangan nasional yang mandiri, mereka sedang membantu negara agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan asing. Inilah inti dari ketahanan nasional yang sesungguhnya.
2. Melawan Ancaman Krisis Iklim dan Kelangkaan Lahan
Musuh nyata yang dihadapi saat ini bukanlah pasukan bersenjata, melainkan perubahan iklim yang ekstrem dan alih fungsi lahan yang masif. Mahasiswa pertanian dilatih untuk mengatasi “serangan” ini melalui:
- Inovasi Benih Unggul: Menciptakan varietas yang tahan kekeringan atau banjir.
- Smart Farming: Mengoptimalkan lahan yang semakin sempit dengan hasil panen yang berlipat ganda. Setiap keberhasilan inovasi yang ditemukan oleh mahasiswa di kampus adalah kemenangan kecil dalam perang melawan kelaparan di masa depan.
3. Menjaga Stabilitas Sosial dan Ekonomi
Kenaikan harga pangan yang tidak terkendali adalah pemicu utama ketidakstabilan sosial dan kerusuhan di berbagai belahan dunia. Dengan menjadi tenaga ahli yang mampu mengelola rantai pasok dan distribusi pangan secara efisien, lulusan Agribisnis membantu menjaga stabilitas harga di pasar.
Mahasiswa Universitas Ma’soem dibekali ilmu untuk memotong rantai distribusi yang tidak efisien, sehingga petani mendapatkan harga yang layak dan konsumen mendapatkan harga yang terjangkau. Masyarakat yang kenyang adalah masyarakat yang tenang, dan masyarakat yang tenang adalah pondasi negara yang kuat.
4. Regenerasi “Prajurit” Agraria
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan serius berupa penurunan jumlah petani muda. Jika tidak ada generasi yang bersedia terjun ke sektor ini, pertahanan pangan kita akan runtuh dalam beberapa dekade ke depan.
Memutuskan menjadi mahasiswa pertanian adalah sebuah tindakan patriotik. Mereka adalah generasi yang memilih untuk mengamankan kebutuhan paling dasar manusia. Mereka bukan sekadar pekerja lapangan, melainkan manajer, peneliti, dan pengusaha yang memastikan roda kehidupan bangsa tetap berputar.
Menjadi mahasiswa pertanian di Universitas Ma’soem adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Setiap ilmu yang diserap di ruang kelas dan setiap praktik yang dilakukan di laboratorium adalah bentuk persiapan untuk menjaga kedaulatan bangsa.
Lulusan pertanian tidak hanya mencetak keuntungan ekonomi, tetapi juga mencetak keamanan nasional. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja di balik layar, memastikan bahwa saat kita bangun esok hari, bangsa ini masih memiliki martabat karena perut rakyatnya terisi dari hasil bumi sendiri.





