Logika vs Perasaan: Dinamika Mahasiswa Teknik dalam Mengambil Keputusan

Dunia teknik identik dengan angka, rumus, dan kepastian. Mahasiswa teknik dilatih untuk berpikir linear. Namun, dalam realita kehidupan kampus yang kompleks, pengambil keputusan tidak sesederhana menyelesaikan soal kalkulus. Sering kali, terjadi pergolakan antara “otak kiri” yang sangat analitis dengan “sisi humanis” yang melibatkan perasaan.

Algoritma Keputusan: Dominasi Rasionalitas

Secara alami, mahasiswa teknik cenderung melakukan pendekatan sistematis terhadap masalah. Ketika dihadapkan pada pilihan misalnya memilih fokus riset atau strategi organisasimereka akan menggunakan parameter yang terukur:

  • Analisis Cost-Benefit: Menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang didapat.
  • Manajemen Risiko: Mengidentifikasi titik kritis yang bisa menyebabkan kegagalan sistem.
  • Efisiensi: Mencari jalan pintas paling logis tanpa mengurangi kualitas output.

Namun, pendekatan yang terlalu kaku pada data terkadang membuat mahasiswa lupa bahwa mereka bekerja dalam sistem sosial yang dinamis. Keputusan yang secara teknis benar belum tentu bisa diterima secara emosional oleh rekan tim.

Menyeimbangkan Persamaan di Dunia Nyata

Di sinilah letak tantangannya. Mahasiswa di lingkungan universitas ma’soem mulai belajar bahwa kepemimpinan dan kolaborasi membutuhkan lebih dari sekadar logika mesin. Perasaanseperti empati, intuisi, dan kepedulian adalah variabel penting yang tidak boleh diabaikan dalam “persamaan” pengambilan keputusan.

Misalnya, saat mengejar deadline proyek besar, seorang ketua tim teknik harus memutuskan apakah akan terus menekan anggotanya (logika efisiensi) atau memberikan jeda istirahat karena melihat kondisi mental tim yang mulai jenuh (perasaan/empati). Mahasiswa yang mampu menyeimbangkan kedua aspek ini biasanya tumbuh menjadi sosok yang lebih bijak dan adaptif.

Dinamika antara logika dan perasaan bukanlah sebuah eror, melainkan proses kalibrasi diri. Menjadi mahasiswa teknik yang tangguh berarti tahu kapan harus bersikap objektif berdasarkan data, dan kapan harus mendengarkan intuisi serta nurani. Keseimbangan inilah yang nantinya akan membedakan antara seorang operator mesin dengan seorang pemimpin masa depan yang inspiratif.