Dilema klasik mahasiswa adalah memilih antara mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi atau membangun portofolio kepemimpinan di organisasi. Bagi mahasiswa, kedua hal ini sering kali terlihat seperti dua kutub magnet yang saling tolak-menolak. Padahal, jika dikelola dengan strategi yang tepat, kuliah dan organisasi bisa menjadi dua mesin yang saling mempercepat laju karier di masa depan.
Matriks Eisenhower dalam Dunia Kampus
Kunci utama dalam mengatur prioritas adalah kemampuan membedakan antara hal yang “penting” dan hal yang “mendesak”. Mahasiswa sering kali terjebak dalam aktivitas yang mendesak (seperti rapat mendadak) namun sebenarnya tidak terlalu penting bagi tujuan jangka panjang mereka.
- Kuadran Penting & Mendesak: Tugas kuliah dengan tenggat waktu esok hari atau ujian tengah semester. Ini tidak boleh ditunda.
- Kuadran Penting tapi Tidak Mendesak: Membangun relasi di organisasi, belajar skill baru, atau mencicil skripsi. Di sinilah investasi waktu yang sebenarnya terjadi.
- Kuadran Tidak Penting tapi Mendesak: Gangguan notifikasi grup WhatsApp organisasi yang tidak memerlukan tindakan segera.
Integrasi, Bukan Polarisasi
Menyeimbangkan keduanya bukan berarti membagi waktu tepat 50:50. Ada kalanya akademik menuntut porsi 80% (saat musim ujian), dan ada kalanya organisasi mengambil porsi lebih besar (saat acara besar berlangsung).
Di lingkungan universitas ma’soem, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi “kutu buku”, tetapi juga aktif bersosialisasi. Mahasiswa yang cerdas akan mencari irisan antara keduanya. Misalnya, mahasiswa teknik yang aktif di himpunan bisa mengambil peran di divisi perlengkapan atau teknis untuk mempraktikkan ilmu manajemen operasional secara langsung. Dengan cara ini, berorganisasi bukan lagi beban tambahan, melainkan laboratorium praktikum yang nyata.
Manajemen prioritas adalah tentang keberanian untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak mendukung visi masa depan. Kuliah memberikan fondasi intelektual, sementara organisasi memberikan kematangan karakter. Jika dikombinasikan dengan disiplin yang kuat, mahasiswa tidak perlu mengorbankan salah satunya untuk mencapai kesuksesan yang utuh.





