Masih banyak calon mahasiswa bahkan mahasiswa baru yang mengira bahwa kuliah di jurusan Teknik Informatika itu mirip dengan belajar bahasa asing: cukup hafal kosa kata (sintaks), maka masalah selesai. Mereka berpikir bahwa menjadi hebat berarti hafal di luar kepala perintah-perintah dalam Java, Python, atau C++. Namun, jika kamu berpikir Teknik Informatika di Universitas Ma’soem hanya soal adu kuat ingatan menghafal titik koma, kamu salah besar. Itu bukan kuliah teknik, itu namanya lomba deklamasi kode.
Sintaks hanyalah alat musik, sedangkan informatika adalah tentang bagaimana kamu menggubah simfoni. Menghafal kode tanpa memahami logika di baliknya ibarat menghafal rumus matematika tanpa tahu kapan harus memakainya. Sia-sia.
Lebih dari Sekadar Kode: Arsitektur Logika
Di Universitas Ma’soem, kurikulum Teknik Informatika dirancang untuk melatih kamu menjadi seorang problem solver, bukan sekadar “tukang ketik”. Kamu akan diajak menyelami mengapa sebuah algoritma bisa berjalan lebih cepat daripada yang lain, bagaimana struktur data yang efisien dapat menghemat memori, dan bagaimana membangun sistem yang mampu menampung ribuan pengguna sekaligus.
Inilah letak perbedaan mendasarnya. Jika kamu hanya hafal sintaks, kamu akan bingung saat teknologi berganti. Namun, jika kamu menguasai fundamental dan logika, kamu akan tetap relevan meskipun bahasa pemrograman baru muncul setiap bulan. Di sini, kamu belajar cara berpikir secara komputasional sebuah skill yang jauh lebih mahal harganya daripada sekadar hafal perintah print atau looping.
Sinergi dengan Efisiensi ala Teknik Industri
Menariknya, semangat “anti-hafalan” ini juga sejalan dengan prinsip di jurusan Teknik Industri. Jika anak Industri belajar cara mengoptimasi lantai produksi agar tidak ada waktu yang terbuang, anak Informatika di Ma’soem belajar cara mengoptimasi algoritma agar tidak ada daya komputasi yang sia-sia. Keduanya menuntut ketajaman analisis, bukan sekadar mengikuti instruksi mentah-mentah. Fokusnya adalah pada efektivitas dan efisiensi solusi yang dihasilkan.
Dunia industri tidak butuh orang yang hafal seribu baris kode tapi bingung saat menghadapi bug baru. Mereka butuh orang yang mampu menganalisis masalah, merancang solusi yang masuk akal, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa mesin. Dengan fasilitas lab yang lengkap dan bimbingan dosen yang merupakan praktisi, mahasiswa didorong untuk berani bereksperimen, melakukan kesalahan, dan belajar dari error tersebut.
Jadi, hapus jauh-jauh pikiran bahwa kamu akan menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menghafal buku manual. Kuliah teknik di Universitas Ma’soem adalah tempat di mana kreativitas bertemu dengan logika. Kamu akan dibentuk menjadi arsitek digital yang mampu menciptakan aplikasi dan sistem yang solutif. Pada akhirnya, sintaks bisa kamu cari di Google dalam hitungan detik, tapi kemampuan logika untuk membangun sistem yang kompleks adalah hasil tempaan bertahun-tahun yang tidak bisa digantikan oleh pencarian internet mana pun.





