Peran Vital Lulusan Jurusan Teknologi Pangan dalam Menekan Angka Keracunan Produk.

Dalam industri manufaktur makanan, isu keracunan produk bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan kelangsungan bisnis. Satu kasus keracunan yang terdeteksi di pasar dapat memicu penarikan produk massal (product recall), tuntutan hukum, hingga penutupan pabrik. Di sinilah peran lulusan Jurusan Teknologi Pangan menjadi sangat vital sebagai garda terdepan dalam mencegah terjadinya kontaminasi berbahaya sebelum produk sampai ke tangan konsumen.

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan dididik untuk memiliki ketelitian tinggi dan pemahaman sains yang mendalam. Mereka dipersiapkan untuk menjadi ahli yang mampu mengidentifikasi risiko dan menghentikan potensi bahaya sejak di dalam laboratorium atau lini produksi.


1. Mengidentifikasi dan Mengendalikan Kontaminan Mikrobilogi

Penyebab utama keracunan pangan adalah mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, atau Staphylococcus aureus. Lulusan Jurusan Teknologi Pangan memiliki keahlian dalam mikrobiologi pangan untuk:

  • Analisis Risiko: Mengetahui pada suhu dan kadar air berapa bakteri berbahaya dapat berkembang biak dalam sebuah produk.
  • Proses Termal yang Tepat: Menentukan durasi dan suhu pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) yang efektif membunuh kuman tanpa merusak kualitas gizi makanan.
  • Uji Laboratorium: Melakukan pengecekan sampel secara berkala untuk memastikan produk yang akan dipasarkan benar-benar bebas dari cemaran mikroba.

2. Pengawasan Ketat terhadap Bahaya Kimia dan Fisik

Selain bakteri, keracunan juga bisa disebabkan oleh bahan kimia atau benda asing. Seorang ahli dari Jurusan Teknologi Pangan bertugas memastikan:

  • Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP): Memastikan dosis pengawet, pewarna, atau pemanis buatan tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan BPOM, karena kelebihan dosis dapat bersifat toksik bagi tubuh.
  • Pencegahan Residu: Mengawasi agar sisa bahan pembersih mesin (sanitizer) tidak tertinggal dan masuk ke dalam adonan makanan.
  • Deteksi Benda Asing: Mengelola sistem detektor logam atau filter pada jalur produksi untuk memastikan tidak ada serpihan fisik yang masuk ke kemasan.

3. Implementasi Sistem Keamanan Pangan Berstandar Global

Lulusan Jurusan Teknologi Pangan bertanggung jawab menyusun dan menjalankan protokol keamanan seperti HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Sistem ini bertujuan untuk mencegah masalah sebelum terjadi, bukan sekadar memeriksa produk di akhir.

  • Mahasiswa diajarkan untuk menentukan “Titik Kendali Kritis”. Jika pada satu tahap suhu mesin turun di bawah standar, lulusan Teknologi Pangan memiliki otoritas untuk menghentikan produksi demi menjaga keamanan konsumen.

4. Edukasi dan Penerapan Higiene Personel

Manusia adalah salah satu sumber kontaminasi terbesar di pabrik. Lulusan Jurusan Teknologi Pangan berperan dalam merancang standar prosedur operasional (SOP) bagi karyawan. Mereka memastikan setiap pekerja mengikuti aturan kebersihan, seperti penggunaan pakaian kerja yang steril, masker, dan prosedur cuci tangan yang benar. Kedisiplinan yang ditanamkan oleh lulusan jurusan ini secara signifikan menekan peluang terjadinya kontaminasi silang.


Menekan angka keracunan produk adalah tanggung jawab moral dan profesional bagi setiap lulusan Jurusan Teknologi Pangan. Melalui penerapan ilmu sains, teknologi pengolahan yang tepat, dan pengawasan yang ketat, mereka memastikan bahwa makanan yang beredar di masyarakat tidak hanya lezat, tetapi yang terpenting adalah aman. Di Universitas Ma’soem, integritas ini dibentuk sejak dini agar mahasiswa siap menjadi pelindung kesehatan konsumen di masa depan.