Dunia sedang menghadapi tantangan besar: jumlah populasi yang terus meledak namun sumber daya alam yang semakin terbatas. Di sisi lain, masalah gizi ganda yaitu angka stunting yang masih tinggi diiringi dengan meningkatnya kasus obesitas menuntut solusi yang lebih cerdas dari sekadar memproduksi makanan dalam jumlah banyak.
Di sinilah Jurusan Teknologi Pangan memegang peran kunci. Mahasiswa tidak hanya diajarkan cara mengolah bahan mentah, tetapi juga merancang masa depan pangan yang lebih berkelanjutan, bergizi, dan dapat diakses oleh semua kalangan. Di Universitas Ma’soem, fokus ini diintegrasikan ke dalam riset dan praktik laboratorium untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
1. Inovasi Sumber Protein Alternatif
Ketergantungan pada protein hewani (daging sapi atau ayam) mulai dianggap kurang efisien bagi lingkungan dalam jangka panjang. Jurusan Teknologi Pangan menjawab ini dengan mengeksplorasi sumber protein baru.
- Protein Nabati: Mengolah kacang-kacangan lokal atau jamur menjadi produk yang tekstur dan rasanya menyerupai daging (plant-based meat).
- Pemanfaatan Inovatif: Mahasiswa belajar bagaimana mengekstraksi protein dari sumber yang belum optimal dimanfaatkan, namun memiliki kandungan asam amino yang lengkap.
2. Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Defisiensi Gizi
Salah satu strategi paling efektif melawan masalah kurang gizi seperti anemia atau kekurangan vitamin A adalah melalui fortifikasi. Di Jurusan Teknologi Pangan, mahasiswa mempelajari cara “menyisipkan” mikronutrien ke dalam makanan pokok tanpa mengubah rasa atau tekstur.
- Contoh Nyata: Menambahkan zat besi pada tepung terigu atau vitamin pada minyak goreng. Teknik ini memastikan masyarakat mendapatkan asupan gizi tambahan melalui makanan yang mereka konsumsi sehari-hari tanpa harus mengubah pola makan secara ekstrem.
3. Pengembangan Pangan Fungsional Spesifik
Masa depan gizi adalah personalized nutrition makanan yang dirancang untuk kebutuhan kesehatan tertentu. Jurusan Teknologi Pangan melatih mahasiswa untuk menciptakan produk yang berfungsi sebagai “obat” preventif.
- Produk Inovatif: Membuat camilan indeks glikemik rendah untuk penderita diabetes, atau susu formula dengan prebiotik untuk kesehatan pencernaan anak.
- Zat Bioaktif: Memanfaatkan senyawa alami dalam rempah atau buah-buahan lokal (seperti antioksidan) agar tetap aktif selama proses pengolahan hingga sampai ke sel tubuh konsumen.
4. Teknologi Pengolahan untuk Memperpanjang Masa Simpan
Masalah gizi sering kali muncul bukan karena kurangnya produksi, melainkan karena makanan cepat busuk sebelum sampai ke daerah terpencil. Jurusan Teknologi Pangan menjawab tantangan ini dengan teknologi pengemasan dan pengawetan yang aman.
- Minimal Processing: Menggunakan teknologi seperti pengemasan vakum atau pembekuan cepat (fast freezing) agar nutrisi dalam buah dan sayur tetap utuh meski dikirim ke tempat yang jauh. Dengan berkurangnya makanan yang terbuang (food waste), ketersediaan gizi bagi masyarakat pun meningkat.
Jurusan Teknologi Pangan adalah solusi bagi keberlangsungan hidup manusia di masa depan. Melalui kombinasi antara biologi, kimia, dan teknik mesin, mahasiswa dipersiapkan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih adil dan berkualitas. Di Universitas Ma’soem, tantangan gizi global ini dijawab dengan semangat inovasi dan penguasaan teknologi yang tetap memperhatikan kearifan lokal.





