Inovasi Formulasi Minuman Fungsional oleh Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan.

Minuman saat ini tidak lagi sekadar pelepas dahaga. Konsumen modern mulai beralih ke produk yang praktis namun tetap memberikan manfaat kesehatan tambahan, seperti meningkatkan imun atau menjaga pencernaan. Tren inilah yang ditangkap oleh mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan sebagai peluang untuk berinovasi melalui pengembangan minuman fungsional.

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa dilatih untuk tidak hanya menciptakan rasa yang segar, tetapi juga memastikan kandungan nutrisi di dalamnya tetap stabil dan bermanfaat bagi tubuh melalui pendekatan sains.


1. Eksplorasi Bahan Baku Alami Lokal

Langkah awal inovasi mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan biasanya dimulai dari pemanfaatan kekayaan alam di sekitar. Bahan-bahan seperti rimpang (jahe, kunyit), ekstrak buah tropis, hingga daun herbal lokal diteliti kandungan senyawa bioaktifnya.

  • Senyawa Aktif: Mahasiswa mencari bahan yang kaya akan antioksidan, flavonoid, atau serat alami.
  • Nilai Tambah: Mengubah bahan baku pertanian yang harganya murah menjadi produk minuman dalam kemasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

2. Tantangan Stabilitas Nutrisi dalam Formulasi

Membuat minuman fungsional tidak semudah mencampur bahan. Masalah utama yang sering dihadapi adalah kerusakan nutrisi akibat proses pemanasan atau paparan cahaya. Di sinilah ilmu dari Jurusan Teknologi Pangan berperan penting:

  • Optimasi Proses: Mahasiswa belajar menentukan suhu pasteurisasi yang pas agar bakteri mati, namun kandungan vitamin atau antioksidannya tidak rusak.
  • Teknologi Enkapsulasi: Untuk bahan yang sangat sensitif, mahasiswa bisa menggunakan teknik mikroenkapsulasi agar zat aktif terlindungi dan baru dilepaskan saat produk sudah berada di dalam sistem pencernaan manusia.

3. Penyeimbangan Rasa dan Manfaat (Organoleptik)

Minuman sehat sering kali memiliki tantangan pada rasa, misalnya terlalu pahit atau memiliki aroma langu. Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan melakukan serangkaian uji sensorik untuk menemukan formula yang pas.

  • Substitusi Gula: Inovasi sering kali fokus pada penggunaan pemanis alami rendah kalori seperti stevia atau madu agar tetap sehat namun tetap enak di lidah.
  • Tekstur dan Penampilan: Mengatur tingkat keasaman (pH) dan kekentalan agar minuman terasa nyaman saat diminum (mouthfeel).

4. Pengemasan dan Masa Simpan

Agar inovasi ini bisa sampai ke tangan konsumen dengan aman, mahasiswa juga mempelajari teknologi pengemasan. Mereka melakukan uji masa simpan untuk memastikan bahwa selama produk dipajang di rak toko, kandungan fungsionalnya tidak hilang dan tetap aman dari kontaminasi mikroba.


Inovasi minuman fungsional oleh mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan adalah bukti bahwa sains bisa menghasilkan produk yang sangat relevan dengan kebutuhan pasar. Di Universitas Ma’soem, kreativitas mahasiswa didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai, sehingga ide-ide segar mereka tidak berhenti sebagai tugas kuliah saja, tetapi berpotensi menjadi produk nyata yang bernilai komersial.