Dunia pendidikan tinggi menuntut mahasiswa untuk terus beradaptasi. Tekanan akademik, tuntutan prestasi, serta perubahan sistem pembelajaran sering kali membuat mahasiswa meragukan kemampuan dirinya sendiri. Keraguan tersebut tidak selalu muncul karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena keyakinan yang keliru tentang makna kemampuan dan kegagalan. Di sinilah konsep growth belief menjadi relevan. Growth belief merujuk pada keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui proses belajar, latihan, dan refleksi yang berkelanjutan. Keyakinan ini berperan penting dalam membentuk sikap tangguh dan kesiapan mental mahasiswa menghadapi tantangan akademik.
Memahami Konsep Growth Belief
Growth belief berangkat dari pandangan bahwa kecerdasan dan kemampuan bukanlah sesuatu yang statis. Kesalahan dan kegagalan tidak dipandang sebagai bukti ketidakmampuan, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa yang memiliki growth belief cenderung lebih terbuka terhadap umpan balik, tidak mudah menyerah, serta berani mencoba strategi belajar baru. Sikap ini berbeda dari fixed belief yang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah, sehingga kegagalan sering direspons dengan penarikan diri atau penurunan motivasi.
Growth Belief dan Tantangan Akademik
Kehidupan akademik di perguruan tinggi tidak terlepas dari tuntutan membaca literatur kompleks, menyusun karya ilmiah, serta menghadapi evaluasi berkelanjutan. Mahasiswa yang belum memiliki growth belief kerap memaknai nilai rendah sebagai kegagalan personal. Pola pikir tersebut dapat berkembang menjadi academic insecurity, yaitu rasa tidak percaya diri yang berlebihan dalam konteks akademik. Growth belief membantu mahasiswa memaknai tantangan sebagai kesempatan belajar. Proses revisi tugas, diskusi kelas, dan kritik dosen dipahami sebagai sarana peningkatan kualitas diri, bukan sebagai ancaman.
Peran Lingkungan Akademik
Lingkungan akademik memiliki pengaruh besar terhadap berkembangnya growth belief. Iklim kelas yang mendorong dialog terbuka, menghargai proses, serta memberi ruang bagi kesalahan akan memperkuat keyakinan positif mahasiswa. Dosen yang menekankan proses belajar, bukan sekadar hasil akhir, turut berkontribusi dalam membangun pola pikir berkembang. Bahasa yang digunakan dalam umpan balik juga berperan penting. Penekanan pada usaha, strategi, dan perkembangan akan lebih efektif daripada penilaian yang bersifat labelisasi kemampuan.
Pendidikan Calon Guru dan Growth Belief
Bagi mahasiswa kependidikan, growth belief tidak hanya penting bagi diri sendiri, tetapi juga berdampak pada praktik mengajar di masa depan. Calon guru yang memiliki growth belief cenderung menularkan keyakinan serupa kepada peserta didik. Mereka lebih peka terhadap proses belajar siswa, menghargai usaha, serta tidak mudah menghakimi kesalahan. Dalam konteks ini, penguatan growth belief sejak masa perkuliahan menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan.
Konteks FKIP Ma’soem University
Sebagai lembaga yang menyiapkan calon pendidik, FKIP Ma’soem University memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir mahasiswa. Aktivitas perkuliahan, microteaching, dan praktik pengalaman lapangan menjadi ruang nyata bagi mahasiswa untuk mengalami proses belajar yang bertahap. Tantangan saat mengajar simulasi atau menerima kritik dosen pembimbing dapat menjadi sarana refleksi, selama dimaknai sebagai proses pengembangan kompetensi, bukan kegagalan personal.
Budaya Belajar di Ma’soem University
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Ma’soem University berupaya membangun budaya belajar yang adaptif. Dinamika perkuliahan menuntut mahasiswa untuk aktif, mandiri, dan reflektif. Dalam konteks tersebut, growth belief menjadi landasan penting agar mahasiswa tidak terjebak pada ketakutan mencoba. Ketika mahasiswa memahami bahwa kemampuan akademik berkembang melalui proses, mereka akan lebih siap menghadapi perubahan kurikulum, metode pembelajaran, maupun tuntutan dunia kerja.
Strategi Mengembangkan Growth Belief pada Mahasiswa
Pengembangan growth belief dapat dimulai dari kesadaran diri. Mahasiswa perlu merefleksikan cara mereka memaknai kegagalan dan keberhasilan. Jurnal reflektif, diskusi kelompok, serta bimbingan akademik dapat menjadi sarana efektif. Dosen juga dapat merancang penilaian formatif yang menekankan proses, bukan hanya hasil akhir. Selain itu, narasi keberhasilan yang realistis, termasuk cerita tentang perjuangan akademik, membantu mahasiswa memahami bahwa capaian tidak datang secara instan.
Dampak Jangka Panjang Growth Belief
Mahasiswa yang memiliki growth belief cenderung lebih siap menghadapi transisi dari dunia kampus ke dunia profesional. Mereka terbiasa belajar dari pengalaman, menerima kritik, dan mengembangkan kompetensi baru. Sikap ini relevan dalam konteks perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Growth belief tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesehatan mental dan kesiapan karier.
Mengembangkan growth belief merupakan kebutuhan mendasar dalam pendidikan tinggi. Keyakinan bahwa kemampuan dapat bertumbuh membantu mahasiswa membangun ketahanan akademik dan kepercayaan diri yang sehat. Lingkungan kampus, khususnya di lembaga pendidikan calon guru, memiliki peran penting dalam menumbuhkan pola pikir tersebut. Melalui budaya belajar yang menghargai proses dan refleksi, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk lulus, tetapi juga untuk terus belajar sepanjang hayat.





