Mengenal Fungsi Bahan Tambahan Pangan (BTP): Antara Keamanan Konsumen dan Kualitas Produk

Dalam industri makanan, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) sering kali menjadi topik yang sensitif di masyarakat. Banyak yang langsung merasa khawatir saat melihat deretan nama kimia di label kemasan. Namun, bagi mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, BTP dipelajari sebagai alat pendukung industri yang selama digunakan sesuai aturan, justru sangat bermanfaat.

BTP ditambahkan ke dalam makanan bukan untuk menutupi kualitas bahan yang buruk, melainkan untuk meningkatkan atau mempertahankan karakteristik produk agar tetap layak dikonsumsi hingga ke tangan pembeli.


1. Mengapa BTP Dibutuhkan?

Tanpa BTP, banyak produk pangan yang kita konsumsi sehari-hari tidak akan bertahan lama atau memiliki tampilan yang tidak menarik.

  • Memperpanjang Masa Simpan: Pengawet digunakan untuk menghambat pertumbuhan jamur atau bakteri. Tanpa ini, makanan seperti roti atau sosis akan busuk dalam hitungan hari, yang justru membahayakan kesehatan konsumen.
  • Menjaga Tekstur: Pengemulsi membantu minyak dan air bersatu (seperti pada mayones atau es krim). Tanpa pengemulsi, produk tersebut akan terpisah dan teksturnya menjadi kasar.

2. Jenis BTP yang Umum di Industri

Mahasiswa Teknologi Pangan belajar mengklasifikasikan BTP berdasarkan fungsinya yang diakui secara resmi oleh BPOM:

  • Pemanis: Memberikan rasa manis dengan kalori yang lebih rendah atau terkontrol.
  • Pewarna: Mengembalikan warna makanan yang mungkin pudar selama proses pemanasan.
  • Pengental dan Penstabil: Memberikan kekentalan yang pas pada produk seperti saus atau sirup.

3. Keamanan Konsumen adalah Prioritas Utama

Aspek paling penting dalam mempelajari BTP adalah memahami dosis. Di kampus, mahasiswa ditekankan pada prinsip ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu batasan jumlah maksimal BTP yang boleh dikonsumsi manusia per hari tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

  • Regulasi Ketat: Mahasiswa harus hafal BTP mana yang diizinkan dan mana yang dilarang (seperti boraks atau formalin yang sering disalahgunakan).
  • Ketepatan Dosis: Menggunakan BTP berlebihan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga bisa merusak rasa produk itu sendiri (misalnya, pemanis buatan yang berlebihan akan meninggalkan rasa pahit/aftertaste).

4. Tren “Clean Label” dan Inovasi BTP Alami

Saat ini, industri pangan mulai beralih ke BTP yang lebih alami karena permintaan konsumen yang ingin produk lebih sehat.

  • Substitusi Alami: Mahasiswa belajar mencari alternatif, seperti menggunakan ekstrak kunyit untuk pewarna kuning atau ekstrak rosemary sebagai antioksidan alami pengganti bahan kimia sintetis.

BTP bukanlah hal yang perlu ditakuti selama produsen mengikuti regulasi yang berlaku. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa dididik untuk menjadi ahli pangan yang jujur dan bertanggung jawab. Mereka harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan industri untuk menciptakan produk yang berkualitas dengan kewajiban menjaga keamanan kesehatan masyarakat.